sekar πŸ’

200 Hari tanpa Sosial Media

Tak terasa sudah nyaris setengah tahun berlalu setelah aku memutuskan untuk menghapus semua akun sosial media. Perubahan yang paling aku rasakan adalah aku merasa jauh lebih kesepian dibanding sebelumnya. Beberapa hari yang lalu aku menemukan pandangan baru akan perasaan itu:

Disini pun aku sering menulis tentang betapa kesepiannya jadi seorang anak perempuan pertama yang kerja remote dan nyaris semua temanku sudah punya kesibukan sendiri. Sebelum aku memutuskan untuk menghapus sosial media, biasanya hari-hariku berlalu dengan membaca pendapat banyak orang tentang banyak hal dari layar ponsel. Dengan demikian, aku merasa tidak terlalu sendirian. Karena kepalaku penuh dengan suara orang-orang asing.

Sejak menghapus sosial media, mau berapa banyak video youtube yang kutonton pun, aku tidak punya suara-suara asing di kepalaku. Malah aku lebih sering bengong sendirian. Terutama akhir-akhir ini saat aku sering benar-benar sendiri di kamar kos.

Kadang, aku bangun tidur siang hari karena habis lembur semalaman. Kos sudah sepi dan tidak ada siapapun yang chat aku. Kalau sudah begitu, kadang aku duduk memandang pintu kamar mandi yang entah kenapa bolongan gagang pintunya ada dua. Atau sekadar memandang kesibukan semut-semut yang sangat semangat menjemput margarin yang belum kututup rapat. Baru setelah entah berapa menit berlalu, saat sudah kebelet berak, aku beranjak.

Aku nggak tahu apakah itu normal atau tidak, tapi kadang aku merasa senang saja dengan rutinitas yang demikian.

Tapi ada hari-hari dimana aku bisa senyam-senyum sendirian hanya karena disapa seorang Ibu tetangga dengan kalimat, "Eh, baru kelihatan, Mbak!" atau memikirkan seharian betapa anehnya pasokan galon le mineral setelah bercakap-cakap dengan Bapak penjual galon. Kadang, aku keluar ke Indomaret tanpa rencana dan berakhir membeli es krim saja berharap bertemu dan menyapa seseorang saat berjalan, tapi jalanan terlalu sibuk untuk menyapaku. Lalu kembali ke kos dengan... merasa lebih kesepian dan berkeringat. Padahal barusan mandi dan wangi.

Sejauh ini, meskipun aku bilang kalau aku merasa kesepian, aku merasa baik-baik saja. Hanya memang kalau ada orang yang bisa sewaktu-waktu aku ajak ngobrol, mungkin lebih baik. Tidak pun tak masalah. Berkurangnya suara-suara asing di kepalaku ternyata justru memberikan satu sinyal yang sejak dulu aku enggan akui: kalau aku merasa kesepian.

Hal lain yang aku alami adalah aku tidak tahu berita terbaru yang beredar hanya di sosial media. Misalnya kasus klithih di kecamatan sebelah atau bahkan waktu kecelakaan kereta itu aku baru tahu setelah beberapa hari beralalu dari Mbak kos yang sekilas bercerita tentang itu. Aku juga jadi tidak tahu event-event yang diadakan oleh beberapa toko langgananku. Mereka tidak update di tempat lain selain sosial media, bahkan di tokonya sendiri tidak ada pengumuman tentang event terkait. Aku bahkan baru tahu dua hari yang lalu kalau WANNA ONE reunian dan sudah ada 3 episode veriety shownya. Padahal emang lagi kangen banget sama Ong, dan kebetulan kemarin aku search dia di Youtube dan maraton semua lagunya, eh lalu lewat MV OST variety shownya. Lumayan bahagia melihat mas-mas itu bisa melemparkan jokes-nya yang terasa overthinking itu. Yah, Ong masih sama agak pendiam tapi sangat bertanggungjawab akan humor orang ber-11 itu (sayang dua dari mereka tidak bisa ikut, tapi itupun sudah cukup).

Tapi entah kenapa secara tidak sengaja mungkin aku masih mengikuti trend yang ada. Karena di kos aku tidak bisa memasak selain merebus dan mengukus (kadang menumis bumbu saja bisa), aku jadi lebih sering masak kukus-an. Sayur apapun yang kutemukan di warung, aku kukus. Lalu sausnya aku mempercayakan sepenuhnya pada saus salad maestro dan kadang kewpie. Kadang juga bon cabe dan kecap manis saja. Ternyata metode masak seperti ini sedang nge-trend di beberapa bagian sosial media. Aku tahu dari youtube sih, katanya karena masakannya clean banget, jadi banyak yang menggunakannya sebagai menu diet. Waktu update di whatsapp juga aku dikira sedang diet. Padahal alasannya karena aku tidak punya alat yang memadai untuk membuat menu-menu biasa. Sisi baiknya, karena aku jadi lebih banyak makan sayur dan lebih jarang makan nasi, aku jadi lebih lancar berak hehehehee

Oh! Aku baru nyobain ayam kukus karena aku ngide kalau sayur bisa dikukus, apa daging juga sama enaknya kalau dikukus. Jadi, aku coba kemarin. Ternyata ada menu namanya ayam kukus jahe. Itu enak banget, mana cuma ngiris jahe dan membalurkan ke ayamnya aja lalu ditinggal selama kurang lebih 30 menit aja. Simpel bbanget masaknya. Hasilnya juga enak. Tapi entah kenapa abis makan itu aku ngantuk banget lalu tidur pulas selama 6 jam. WKWKWK nggak ada hubungannya mungkin ya. Tapi enak dan seger gitu. Abis ini mau nyobain daging sapi yang digituin hehehehe

Entah ada korelasinya atau tidak, tapi aku juga jadi jarang membaca buku. Reading slump kali ini lumayan parah dan panjang ternyata. Yah, tapi setidaknya aku masih berusaha membaca beberapa lembar setiap hari. Sama seperti aku yang masih berusaha melangkah keluar sedikit demi sedikit. Setidaknya, aku sudah lebih banyak menyapa orang lain tahun ini dibanding beberapa tahun lalu digabungkan hehehehe

Setidaknya, aku sudah berani melangkahkan kaki ke tempat-tempat yang tidak pernah ingin aku kunjungi tanpa harus searching di sosial terlebih dahulu. Seperti misalnya sebagai contoh adalah pantai.

πŸ–οΈ

Postingan ini diedit 7Β menit yang lalu.

|

#buah-pikir