sekar πŸ’

Bagaimana Cara Mengkritik Diri Sendiri

Kenapa Harus Tahu Cara Mengkritik Diri Sendiri

Ada banyak hal yang bisa dikritik, kenapa harus diri sendiri?

Itu kalimat pertama yang muncul setelah aku menulis judul heading ini.

Karena emang gitu, emang apa yang bisa aku kritik dari diriku sendiri yang udah sangat sempurna ini? hehehe πŸ’β€β™€οΈ

Bercanda, aku tahu kalau pasti ada yang perlu diperbaiki dari diri seseorang, apalagi saya. Tapi beberapa hari lalu, aku menulis ini dicatatanku:

meski kelihatan aneh, saya adalah diri mengingat saya, dan diri mengalami saya, yang menjalani hidup saya, ibarat orang asing bagi saya.

Aku benar-benar merasakan ini sih. Karena banyak skenario yang aku buat dikepala dan aku yang menjalani hidup hari ini saat ini, adalah seseorang yang aku bahkan nggak tahu siapa. Nanti, aku akan membuat skenario lain dengan diri ini. Begitu seterusnya.

Jadi, present di satu keadaan itu, tidak jarang menghilang. Atau bahkan tidak ada.

Aku menulis ini ketika melakukan review buku Thinking Fast and Slow. Dengan kata lain, setidaknya aku sendiri, tidak pernah bisa hidup di saat tertentu dan dengan semua pengetahuan yang aku punya. Sehingga terkadang aku bereaksi "aneh" terhadap sesuatu yang sebenarnya sangat biasa. Karena bagaikan buku, selalu ada bagian yang kosong, tidak lengkap, atau typo dariku. Jadi, kesalahan akan selalu ada.

Karena itu mengkritik diri sendiri adalah salah satu pelajaran yang paling dekat dan mudah dilakukan. Karena yang mengkritik diri sendiri, yang menerima diri sendiri, dan yang berhak memperbaiki atau tidak memperbaiki juga diri sendiri.

12.09.2022 - kritik terhadap diri sendiri kadang muncul dengan sendirinya

Selintas kalimat datang ke kepalaku:

Kadang kamu baru bisa mengritik dirimu setelah melihat kesalahan orang lain

Jauh lama setelah melihatnya. Tidak instan, bisa dipastikan.

Ingatan sekilasku tentang hari ketika aku menulis itu adalah kemarin aku baru saja memutuskan untuk melakukan sesuatu yang selalu aku kritik jauh sebelum itu. Alasannya adalah ✨kepepet✨ wkwkwkwkwkwkwk

Lalu aku sadar, kalau kritik yang dulu aku lakukan sepanjang waktu, itu untuk diriku sendiri dimasa sekarang. Setidaknya itu masih berlaku sampai saat ini aku menulis post ini.

07.10.2022 - menyalahkan orang lain is easier.

melihat kesalahan orang lain lebih mudah dibanding melihat kesalahan sendiri

Hal ini disebutkan pada halaman 14. Aku setuju. Karena akupun juga demikian samanya dengan orang-orang lain terkait hal ini. Aku lebih mudah melihat kesalahan orang lain lalu merefleksikannya dengan diriku sendiri. Pertanyaan yang sering keluar adalah: "Ah, aku dulu juga demikian." dan memang, diri kita yang dulu adalah seseorang yang sangat sulit kita handle.

Menariknya, di kalimat yang ditunjuk buku ini, penulis menyebutkan bahwa konsep/ide ini adalah inti dari buku yang sedang aku baca ini.

Kutipan itu aku dapat dari buku Thinking Fast and Slow juga. Catatan ini jadi validasi pemikiranku bulan lalu.

Anyway, apakah perlu validasi? Menurutku sih enggak, tapi kalau ada, akan lebih seru, kan.

11.07.2022 - apabila kritik terhadap diri sendiri sampai melukai diri sendiri

Dari drama yang aku tonton, kali ini Dali and Cocky Prince, masih ada konsep menyalahkan orang lain atas kejadian yang ditimpa oleh seseorang. Apalagi kalau kejadian itu adalah kejadian naas seperti terkena musibah atau semacamnya.

Aku jarang menjadi korban atas penyalahan ini, tapi aku pernah mengalaminya: waktu Bapak esok harinya sakit karena sebelumnya minum es yang aku buatkan. Keputusan untuk melakukan sesuatu adalah keputusan si "korban", kemalangan yang diterima orang lain adalah milik mereka, bukan salah orang lain.

Kecuali, kalau kemalangan itu memang rencana dari seseorang. Itu baru salah orang yang merencanakan itu.

Ini adalah salah satu contoh ekstrim akibat dari senantiasa melihat apapun pada orang lain dan terlalu mengkritik sampai menyalahkan diri sendiri. Nyaris cocoklogi sih rasanya, tapi menurutku ini make sense.

Gini, mengkritik diri sendiri menurutku cukuplah dengan:

  1. tahu dengan kesalahan yang diperbuat,
  2. tahu bagaimana cara memperbaiki kesalahan tersebut,
  3. berniat memperbaiki kesalahan tersebut,
  4. senantiasa mengingat untuk memperbaiki kesalahan tersebut,
  5. lain kali ketika menghadapi situasi yang mengharuskan untuk melakukan hal serupa, kali itulah bisa diperbaiki kesalahannya.

Mengingat bahwa kita tidak akan pernah mengulang waktu, jadi step 4 itu sudah sangat cukup untuk dilakukan. Syukur-syukur sampai step 5.

Tidak perlu sampai diingat kesalahan apa yang diperbuat dan apa akibat kesalahan tersebut bagi orang lain. Bagian ini, kuakui sangat susah. Aku masih belajar cara untuk menghapus ingatan semacam ini, tapi masih banyak yang harus aku pelajari lagi. Karenanya, sembari menulis ini, aku juga menasihati diriku sendiri, alias step 2 dan 3.

Jadi, alih-alih menyakiti diri sendiri dengan "menyalahkan diri sendiri", kritiklah diri sendiri dengan benar. Toh satu-satunya yang bisa melepaskan diri dari rasa itu hanya dirimu sendiri.

Oh, aku juga ingin menambahkan kalau sikap semacam ini tidak jarang aku temui di banyak tontonan yang aku konsumsi (alias drama dari asia timur). Sebenarnya agak penasaran apa ini ada hubungannya dengan so called nunchi atau "tahu diri" atau sejenisnya.

Sekian dan terima cinta 🫢


Tulisan ini pertama kupublikasikan pada 14 Agustus 2023. Waktu itu aku sedang melakukan review singkat di obsidianku yang udah 1.500-an catatan yang kubuat. Iseng aja, kadang-kadang aku buka-buka catatan lama dengan fitur Open Random Note dan kalau sedang niat atau sesuai dengan apa yang sedang kupikirkan, tulisan-tulisan paling aneh pun kadang bisa menelurkan tulisan agak serius macam ini.

Beberapa hari ini aku juga melakukan hal serupa untuk mengisi kebun digitalku. Sayang aja punya lebih dari 2ribu catatan aneh kalau cuma mengendap di gawaiku sendiri.

Sekian dulu. Aku gepuk es untuk bikin es kopi.

Masih terima cinta,

SekarπŸ’

Postingan ini diedit 1Β hari, 7Β jam yang lalu.

|

#buah-pikir