sekar 💐

Book Shamer

Spoiler berat Jujur selama setengah buku kukira Eddies pelakunya KWKWKWKKWKWKW Ternyata si Marsha the Bear

Anyway.

Akhirnya selesai juga baca buku ini. Padahal awalnya aku ngira bakalan secepat kilat bisa selesai buku ringan ini. Emang kalau sedang slump itu tidak bisa menyalahkan siapapun. Apalagi kadang tersandung iPusnas yang sering error.

Alasan utamaku baca buku ini adalah kukira bakalan ringan banget di aku konfliknya. Judul dan premisnya dari awal juga udah bikin aku tertarik banget. Sedikit relate juga karena aku pernah jadi orang yang mengulas buku lalu dibalas dengan, "Semoga mbaknya nggak pernah ngerasa depresi sampai pengen mati." saat aku sedang ngerasa amat sangat pengen mati karena alasan lain wkwk Yah, intinya aku juga pernah berurusan dan sedikit belajar tentang konsekuensi menyebarkan pemikiranku tentang buku-buku yang aku baca di internet.

Tapiiiiii tapi banget ini.

Aku emang dari dulu kurang suka dengan karakter yang hanya punya satu kekurangan dan seakan-akan hidupnya berputar di kekurangan itu aja. Awalnya kukira Amy ini narator yang nggak terlalu bisa dipercaya karena pemikirannya yang pembaca harus kritis, baca buku harus lewat jalan legal, kok masih ada lingkungan serendah ini, dan semacamnya. Tapi ternyata nggak. Ternyata memang itu pondasinya.

It's okay if anyone have the same value as her, tho. Silakan, menurutku.

Aku cuma berharap Amy bisa berkembang dari yang se.... tertutup itu menjadi sedikit terbuka aja. Minimal dia terbuka dengan kemungkinan bahwa membaca buku jebolan wattpad nggak perlu harus romance-romance saja. Atau baiknya lagi, aku berharap dia punya solusi atau pandangan uniknya sendiri tentang bagaimana cara memperbaiki akses literasi di Indonesia. Terutama di lingkungan yang rendah itu.

Sedikit latar belakang, aku pernah sekolah di lingkungan yang kurang lebih setara dengan yang dideskripsikan di novel ini. Nggak se-ekstrem ada di dekat tempat sampah banget sih, tapi mindsetnya mirip. 98% teman-temanku menganggap bahwa setelah lulus SMP adalah waktunya bersiap mencari kerja. Masuk SMA untuk bisa kuliah bukanlah alternatif yang logis. Kalaupun harus masuk SMA, itu karena tidak bisa masuk SMK aja. Bukan karena orang-orangnya yang tidak mau belajar, tapi keadaan di sekitar kami waktu itu memang mengharuskan seorang anak SMP berpikir bagaimana cara mencari uang setelah sekolah. Kebetulan juga, aku masuk di kelas yang sepengetahuanku tidak terlalu banyak teman yang punya. Termasuk aku.

Dan waktu itu, mau tidak mau aku mengikuti arus nasib di sekitarku. Akhirnya, langkah pertama yang ingin aku buat adalah ingin masuk SMK lalu kerja di warnet. Entah beruntung atau tidak, aku kemudian punya kesempatan pindah ke lingkungan yang lebih tinggi(?) dimana 99% temanku tahu betul kalau kami akan kuliah dan belajar dengan tekun dahulu sebelum menghadapi kerasnya dunia. Itu masa SMA-ku. Meskipun tidak aku jalani dengan niat-niat amat, tapi aku paham dan merasakan betapa berbedanya dua lingkungan itu.

Hei, dua lingkungan itu bahkan tidak berbeda provinsi. Geser dikit banget, bahkan beberapa orang masih beririsan teman denganku. Tapi gapnya amat sangat besar.

Aku ada dimana?

Entah. Yang jelas, setelah SMA aku jadi kupu-kupu dagang (kuliah-pulang kuliah-pulang dagang) wkwkwk bisa disimpulkan seperti itu.

Sampai sini, beberapa orang mengira bahwa kecintaanku akan buku muncul di lingkungan yang lebih tinggi alias saat SMA. Padahal nggak sama sekali.

Aku baru mulai kenal Harry Potter dan Lord of The Rings saat SMP. Aku baru bisa benar-benar membaca banyak buku saat SMP. Tidak seperti Amy yang punya kemewahannya sendiri dengan bisa membaca banyak buku sejak usia yang masih bisa ditunjukkan dengan dua tangan. Oh yeah, dulu seusia dia aku hanya bisa iri dengan beberapa temanku yang bisa seperti Amy. Tapi nunggu bentar pun aku bisa mencicip perasaan mewah itu kok. Berkat perpustakaan sekolah.

Meskipun tidak lengkap, tapi setidaknya dulu perpustakaan sekolahku amat sangat bersemangat semenjak ada siswi aneh yang setiap kali jam istirahat atau jam kosong selalu berjalan riang ke bangunan perpustakaan yang kesepian itu. Kata Ibu Penjaga Perpustakaan, memang baru pada tahunku mulai sekolah perpustakaan bisa seramai itu diluar masa-masa pinjam buku wajib. Bahkan beliau baru melihat ada siswa-siswi yang berebut antrean buku saat aku dan teman-temanku nyaris baku hantam memperebutkan karya J.K.Rowling. Yah. Tidak sempurna, tapi setidaknya saat aku baru mulai mengenal karya-karya klasik yang positif, aku juga punya semangat untuk belajar lebih.

Oh perlu dicatat juga jauh sebelum aku punya akses perpustakaan itu aku lebih dulu punya akses ke blog-blog dan wattpad, cerita yang sekarang disebut sebagai ✨smut✨ wkwkwk

Inget banget dulu aku bukan fans cherrybelle dan smash tapi sukaaaaa banget sama satu fanfic Morgan atau Bisma dengan member cherrybelle. Tentu saja bacanya di blog dan aku udah lupa blognya. Juga cerita-cerita wattpad yang nggak perlu aku sentuh lagi. Pinter banget dulu kalau disuruh cari bacaan wattpad. Makanya betah berjam-jam nongkrong di warnet hanya demi membaca cerita-cerita nggak bermoral macam fanfic smut dan cerita pure smut begituan.

Ah, hina dina sekali dunia saya.

Nggak sih. Jujur aku malah merasa bersyukur bisa belajar banyak sejak awal. Aku jadi jauh lebih terbuka kalau ngomongin tentang kesehatan seksual karenanya. Tapi ini udah jauh melenceng dari bahasan. Intinya, sekarangpun aku nggak merasa menyesal karena pernah ada di dunia literasi yang penuh tema merah muda gelap dan desahan itu.

Tapi menurut Amy, nggak bisa demikian. Menurut Amy, seorang anak harus tumbuh dengan dunia yang positif-positif saja. Karya klasik, cerita yang dibuat memang untuk anak-anak, dan dunia yang dipilih langsung oleh orang dewasa.

Samar-samar aku ingat prosesku menulis dongeng pertamaku waktu kelas 6 SD. Waktu itu aku lagi suka banget baca fanfic, tapi aku ikut kompetisi menulis dongeng. Aku ingat bahwa aku ingin menulis cerita kancil dan kura-kura tapi dengan jalan yang tidak akan pernah mulus untuk keduanya. Tentu saja, aku nggak nulis persis seperti itu. Tapi inspirasiku waktu itu adalah cerita fanfic yang sedang kubaca. Karena setiap episode adaaaa aja kerikilnya. Dan menurutku itu seru banget.

Dunia waktu aku masih kecil memang hanya bangun tidur, berjalan ke sekolah, belajar, berjalan dari sekolah, main, pulang, tidur, dan ulang lagi dari awal. Tapi berkat cerita-cerita yang sangat liar dari internet dan cerita klasik dari buku, aku bisa kenal dengan banyak hal.

Mungkin kalau aku hanya berhenti di cerita smut di internet, aku tidak akan bisa berbalas sapa dengan bahasa Inggris. Mungkin kalau aku hanya berhenti di cerita klasik dari buku, aku tidak akan pernah bisa menulis tentang kesehatan seksual dan proses penerimaan orientasi seksualku sendiri di internet. Atau mungkin sejak awal aku memang se.... terbuka itu? Eh nggak sih. Dulu aku belajar menjauh dari smut dengan pengen banget jadi ukhti, jadi aku berusaha tahajud dan puasa yang turns out aku suka banget dengan keduanya.

Intinya, mau semembosankan apapun dunia didepanku, rangkaian huruf-huruf dalam berbagai bentuk dan moral itu yang mengenalkanku dengan dunia setelanjang mungkin.

Tapi btw. Aku heran sih kenapa Amy bisa menyimpulkan kalau kisah klasik itu bebas dari... smut. WKWKWKW Yah. Disini aku mempertanyakan banget preferensi Amy sebagai pembaca. Apa dia cuma baca Litte Women? Gapapa banget punya preferensi yang bagaimanapun. Tapi kukira premis dari buku ini adalah menumbuhkan preferensi baca Amy dan orang-orang disekitarnya.

Ini adalah salah satu kasus dimana aku udah punya perkiraan sendiri akan sebuah cerita lalu ternyata ceritanya melenceng jauh dari perkiraanku. Dan kali ini, novel yang aku baca ada di bawah titik kesetimbangan yang kuperkirakan wkwk

Gapapa.

16 - 18 Oktober 2026


Eh I just want to put this out here. Ada satu cerita wattpad yang aku suka banget sampai aku nyaris jadi stalker penulisnya wkkw Aku dulu sampai punya LINE si penulis, tapi sekarang udah hilang. Sesuka itu sama ceritanya. Padahal seingatku dulu ceritanya nggak terlalu banyak yang baca, komentar di setiap chapternya nggak sampai nembur 50 biji deh. Tapi wow penulisnya keren sih.

Aku nyari cerita yang begini:

Dunianya aku agak lupa kek mana, tapi lingkungan yang jadi latar adegan terakhir tu lingkungan penuh kekerasan. Disana sempet ada adegan si tokoh dan si guru(?) ketemu lalu meledakkan satu bangunan karena harus menghilangkan jejak. Mereka milih lingkungan itu karena itu adalah lingkungan pertama si tokoh lahir dan biar nggak terlalu mencolok, karena satu bangunan meledak nggak akan jadi soal disana. Si tokoh ini punya kemampuan alkemis yang luar biasa gitu. Yang jadi panjang ceritanya di bagian alkemisnya ini, itu cakep banget eksekusinya.

Aku lupa judulnya apa, tapi seingetku covernya simple banget, background putih dengan sedikit grafis. Seingetku gitu.

Aku juga lupa nama/username penulisnya siapa, tapi setelah sedikit stalk dia, aku tahu kalau penulisnya laki-laki yang waktu aku baca cerita itu (sekitar 11 tahun lalu) tu dia sedang kuliah di ITB kalau nggak salah. Ya, sependek itu aku stalk. Aku pernah iseng save LINE ID dia dari blog lamanya, dan masih ada sampai akhir aku hapus akun LINE. Sayangnya sepanjang aku punya LINE itu, foto profilnya nggak pernah berubah. Jadi kukira dia nggak pakai lagi akun itu. Alasan aku save LINEnya karena jujur pengen banget ngejar beliau si penulis hebat ini buat lanjut nulis cerita itu. Tapi kasihan banget waktu lihat fotonya lagi senyum lebar di depan tulisan ITB, berasumsi kalau dia sedang sibuk kuliah. Jujur aku malu banget juga karena pesanku di wattpad nggak pernah dibales waktu itu kwkwkw

Itu salah satu cerita dari wattpad yang berkesan banget buatku. Dan cerita keren itu terpendam jauh diantara cerita-cerita smut yang kubaca di wattpad.


Dah segitu dulu, review buku sambil berkaca akan selera bacaku hehe

Selanjutnya, aku mau lanjut baca A Series of Unfortunate Events yang The Miserable Mill hihihii

Semoga semua sehat dan bisa menikmati dunia.

Salam hangat,

Sekar💐📚

Postingan ini diedit 4 hari, 6 jam yang lalu.

|

#book #log