sekar πŸ’

Buah Tangan - Everyday Carry Pouch

Saat belajar menjahit tangan, ada satu hal yang aku deklarasikan untuk diriku sendiri:

Aku tidak akan membuat pouch sebagai project awal menjahit.

Dan..... yah, aku tidak terlalu mengingkarinya.

Setelah membuat beberapa baju yang bisa dipakai, aku akhirnya membuat pouch.

Berawal dari video youtube ini yang entah kenapa lewat di beranda youtubeku, aku jadi ingin banget punya pouch mini seperti itu. Saat melihat di marketplace Shopee, harganya sangat mahal menurutku untuk ukuran pouch segenggam saja. Selain itu, duluuuuu banget saat aku suka menonton konten-konten kreatif, aku ingat pernah ada boom menjahit bentuk magic pouch seperti itu. Konsepnya mirip; ritsliting yang memungkinkan pouch bisa dibuka super lebar dan punya bentuk kubus. Dari penjelasan video youtube sebelumnya, aku memutuskan untuk membuat sendiri saja magic pouch seukuran genggaman tangan.

Disamping bintang-bintang hehe

Bahan-bahan yang dibutuhkan sederhana saja, yang perlu aku beli hanya kain keras saja. Itupun menurutku sebenarnya tidak terlalu perlu atau bisa diganti dengan dakron atau filling lainnya kalau mau bikin yang puffy gitu. Eh lucu deh kayaknya pankapan bikin ah~ hehehee Intinya, bahan-bahan yang dibutuhkan adalah:

Aku pakai kain katun berwarna cream yang iseng kubeli dulu dan potongan kain batik truntum sisa sebagai tali. Kain keras yang kubeli sebenarnya khusus untuk membuat kerah, tapi menurutku lumayan memberi sedikit ke-kaku-an untuk pouch yang kubuat. Benang jahit yang kupakai kali ini adalah benang warna hitam. Sebenarnya akan lebih cantik kalau pakai benang warna putih, tapi entah kenapa aku ingin memperlihatkan ke-tidak-rapi-an jahitan tanganku di project kali ini. Ritslitingnya aku pakai yang kecil saja, aku beli di toko kesayangan para kreatif Jogja (Toko Satria). Benang sulam juga aku beli disana, warna putih dan kuning.

Kemampuan yang dibutuhkan untuk membuat pouch ini adalah:

Jadilah pouch sederhana seperti ini:

IMG_20260420_140324

Yap, jahitannya kelihatan, karena aku pakai benang warna hitam dan memang dijahit dengan menggunakan tangan. Tidak presisi dan sempurna, tapi memang itu tujuanku belajar membuat barang-barang yang memang aku butuhkan dengan dua tanganku.

Aku menambahkan kantong kecil di dua sisi dekat awal dan akhir ritslitingnya dan dua dindingnya. Karena setelah aku pakai beberapa hari, aku merasa bahwa beberapa barang layak untuk diberi kantong kecil sendiri, supaya mudah untuk dicari.

Isi EDC pouch-ku adalah:

IMG_20260420_140306

Obat-obatan yang aku bawa pada akhirnya hanya kubawa satu atau dua aja sih, itu aku foto semuanya karena emang sedang membangun EDC juga. Aku juga hanya membawa hal-hal yang pernah ingin aku punya waktu terjadi sesuatu di perjalanan. Seperti tambah darah yang dulu waktu kuliah aku butuh banget kalau lagi drop, biar terlihat segar lagi dan setidaknya bisa mikir lagi. Lalu permen atau vitamin c atau apapun yang manis yang pernah ingin aku makan waktu sedang lemas dan tidak ada warung makan yang buka di sekitar. Pembalut. Hah, pembalut! Sudah berapa kali perempuan-perempuan disekelilingku minta pembalut karena "Aduh, lupa bawa pembalut, mana lagi mulai ini." Berapa kali juga aku jalan-jalan santai tanpa tahu kalau sudah ada darah mengalir nyaris mengintip sampai celana yang sedang aku pakai. Memang setidaknya harus membawa satu pembalut kalau kemana-mana. Atau peniti. Yap. Kalian tidak pernah tahu kapan baju yang kalian pakai itu tiba-tiba menyerah akan tugas mulianya. Gunting kuku bukan sekadar untuk menggunting cakarmu saja. Bisa digunakan untuk gunting apapun kalau sedang sangat terpaksa. Setidaknya milikilah benda-nyaris-tajam.

Sepanjang ngekos ini, aku jadi makin sadar kegunaan EDC-ku ini. Printilan-printilan kecil seperti korek telinga dan pemotong kuku akan sangat mudah ditemukan kalau ada di satu tempat yang selalu dibawa seperti ini. Boleh punya cadangan di ruang pribadi, tapi aku sendiri lebih suka punya satu yang akan selalu ada di satu tempat yang sudah kudedikasikan untuknya.

Sekarang, aku sedang berpikir untuk menambahkan sejenis sabun kedalam EDC-ku ini. Tapi aku belum pernah terpikirkan masa dimana aku butuh sabun dadakan. Jadi, masih belum kumasukkan. Mungkin aku justru akan masukkan USB berisi linux yang sering aku lupakan itu. Intinya, EDC ini tidak akan sama setiap waktu, tapi setidaknya aku tahu beberapa barang yang aku miliki akan selalu menemaniku dan membantuku kalau aku sedang membutuhkan mereka.

Postingan ini diedit 4Β menit yang lalu.

|

#buah-tangan