sekar πŸ’

Buah Tangan - Knit Patchwork Blanket dan Boyfriend's Hat

Pakai blanket handmadeku! Agak kucel karena belum dicuci dua mingguan ini hehehe

Salah satu hobi yang aku pelajari dengan iseng tapi menghasilkan beberapa barang berguna adalah merajut knit. Bagi awam, merajut biasanya diasosiasikan dengan merajut knit ini. Alat yang dibutuhkan adalah sepasang "jarum" dan tangan. Tapi, di Indonesia khususnya, merajut knit ini kurang banyak yang mempelajari karena memang hasil baju yang dihasilkan biasanya cenderung hangat. Kurang cocok untuk dipakai oleh penghuni belahan bumi berjatah iklim tropis ini.

Rajut knit juga adalah fondasi utama pembuatan kain-kain yang melar seperti t-shirt, jersey, dan sweater. Dibandingkan dengan rajut crochet, rajut knit juga relatif lebih hemat benang dan mudah untuk dimesinkan. Karenanya, rajut knit ini nyaris seperti bentuk kegiatan yang sia-sia karena sudah biasa dan bisa dilakukan dengan mesin.

Tapi kegiatan merajut ini menurutku sangat relaxing dan menyenangkan untuk dilakkukan sambil menonton drakor atau film atau bahkan baca buku. Aku menggantikan kegiatan tanganku mengambil cemilan lalu melahapnya dengan merajut sesuatu. Karena aku begitu sukanya dengan kegiatan merajut knit dan nyaris bisa merajut beberapa basic stitch tanpa melihatnya, aku jadi relatif cepat merajut knit dibanding rajut crochet. Selain itu, aku lebih suka hasil rajut knit karena menurutku kalau benangnya punya sifat yang dingin, hasil rajutannya juga masih mempertahankan sifat dingin itu dengan lebih baik dibanding rajut crochet. Hasilnya juga relatif lebih ringan dibanding rajut crochet.

Jadi, saat aku punya beberapa gulung (totalnya nyaris 1kg) benang, setelah mencoba membuatnya menjadi sweater, vest, cardigan, poncho, dan lain-lain hanya demi menyibukkan tanganku, aku memutuskan untuk membuat selimut.

Seumur aku belajar merajut, aku belum pernah membuat selimut dengan benar. Selain aku merasa bakalan lama banget prosesnya, aku juga tahu kalau selimut hasil rajutan itu akan susah banget nyucinya. Tapi karena aku ingin benar-benar menggunakan benang-benang cantik itu, aku harus membuatnya menjadi sesuatu yang bakalan sering kupakai. Alhasil, keputusan membuat selimut itu aku laksanakan dengan bahagia.

Knit patchwork blanket kalau dilipat dengan rapih

Beberapa alternatif selimut yang bisa dibuat dari banyak warna benang adalah temperature blanket atau patchwork blanket. Kebetulan aku selalu berusaha membeli benang dengan ukuran DK weight, jadi untuk ukuran benang aku tidak terlalu terganggu dalam memilihnya. Meskipun demikian, aku tidak ingin punya project yang menggantungkan diri pada jarum yang panjang. Aku ingin project yang bisa mandiri setelah aku selesai sesi merajut hari itu. Selain itu, pilihan warna-warna benang yang aku beli sangat random wkwkkwkw Aku tidak punya selera warna yang.... bagus(?) jadi yah, seadanya saja. Beberapa benang aku beli bekas dari seorang pengguna twitter dulu, jadi memang beberapa ada yang nyambung warna-warnanya. Tapi karena sudah bercampur dengan benang-benangku, jadi amburadul juga wkkwkwkw Karena pertimbangan-pertimbangan tersebut, aku memutuskan untuk membuat patchwork blanket.

Untuk membuat patchwork blanket ini bisa ditempuh dengan beberapa cara:

  1. membuat satu per satu segi empat, kemudian digabungkan saat sudah terkumpul sekian kotak, (patchworking then seaming)
  2. membuat sebaris demi sebaris yang berisi beberapa segi empat, (no-sew-patchwork)
  3. membuat satu segi empat kemudian menambahkan sambil membuat segi empat lain di kedua sisinya, lalu bertumbuh sesukanya. (join as you go)

Aku memilih metode nomor tiga karena aku awalnya belum tahu seberapa panjang dan lebar selimut yang aku inginkan dan bisa hasilkan dari kurang lebih satu kilo benang itu. Setelah aku cari-cari, ternyata metode ini lebih banyak dikenal hasilnya dengan mitered square blanket.

Stitch yang aku pilih juga sederhana saja, garter stitch alias knit terus tanpa purl. Selain knit, metode ini membutuhkan pengetahuan untuk menambah dan mengurangi stitch.

Aku mengacu pada tutorial ini untuk membuat selimut imutku ini. Selain karena penjelasannya yang sangat mudah dipahami, kalau yang masih perajut pemula juga menurutku masih bisa mengikutinya dengan mudah.

Ini aku jelasin sedikit aja karena menurutku pembentukan segi empat ketika merajut ini sangat menarik. Mula-mula, buat pondasi dengan jumlah setengah dari keliling segi empat yang diinginkan. Misalnya aku ingin keliling segi empatku adalah 80 stitch, maka aku membuat pondasi berupa cast on sejumlah 40 stitch. Setelahnya, dari pondasi itu kurangi masing-masing dua stitch setiap dua baris. Pada akhirnya, nanti hanya akan tersisa empat stitch yang dikurangi dua lagi hingga tersisa dua stitch lalu selesailah satu segi empat.

Satu segi empat ini adalah awal mula dua segi empat lainnya.

Kalau dilihat secara keseluruhan begini bentuknya

Di dua sisi tegak segi empat pertama tadi, kemudian dibuat lagi segi empat-segi empat lainnya dengan cara yang sama. Bedanya, pondasi yang digunakan adalah segi empat pertama. Setelah total ada tiga segi empat, salah satu sisi masing-masing segi empat baru akan menjadi pondasi bagi satu segi empat lainnya.

Tapi karena aku anaknya agak aneh, jadi aku buat dulu satu baris segi empat yang terdiri dari tujuh segi empat dengan warna yang berbeda-beda. Setelahnya, aku menambah baris selanjutnya dengan warna yang diusahakan beda juga. Begitu seterusnya sampai aku kehabisan benang, yaitu saat sampai 9 baris.

Bagian belakangnya, menurutku lumayan rapih

Setelah selesai tujuh kolom dan sepuluh baris segi empat, aku beli dua gulung benang warna pink. Karena aku suka dengan sesuatu yang punya sisi mencolok, aku memilih pink agak terang ini sebagai sisi-sisi selimutku.

Karena tidak memungkinkan untuk membuat border dengan rajut knit, aku memutuskan untuk membuat border dengan rajut crochet. Tapi aku masih ingin mempertahakankan ciri khas knitnya, jadi aku cari stitch yang mirip-mirip dengan rajut knit. Ketemulah tutorial ini. Meskipun di aku jadinya agak aneh di bagian belakang, tapi tak masalah deh. Setidaknya kelihatan rapih aja.

Detail border knit-like-crochet

Sisa benang pink itu aku pakai untuk membuat boyfriend's hat ini. Tapi karena entah si pembuat video salah menuliskan polanya atau aku agak kurang fokus, jadi bagian pucuk nya agak... aneh gini wkwkkwwk Tapi gapapa, setidaknya aku punya beanie. Ini beanie pertama yang aku buat untuk diriku sendiri heheheheheheehehehe

Ini Beanie yang aku buat, kalau dipakai lumayan normal sih menurutku

Selimut yang aku buat itu selama dua minggu pertama aku ngekos, kugunakan sebagai cushion duduk karena aku belum punya karpet hehehehe. Lalu aku cuci dan aku pakai kaos dan sarung saja untuk duduk. Setelah dikeringkan dengan susah payah selama nyaris semingguan, aku ganti fungsinya menjadi bantal. Kalau dilipat lalu dibungkus selimut, rasanya sudah mirip bantalan dengan bantal beneran. Karena aku cuma punya bantal tiup, jadi lumayan lah bantal tiupnya malah aku pakai sebagai guling.

Waktu membuat ini juga terlintas pikiran untuk menjadikannya poncho. Jadi, kalau aku ada di tempat yang dingin, aku bisa memakainya tanpa harus beli cardigan atau jaket tambahan. Tapi karena aku ada di bagian Indonesia yang masih lumayan panas (tadi malem aku tidur nyalain kipas semaleman), jadi rencana itu aku undur dulu.

Ini adalah buah tangan "besar" pertamaku. Aku sangat bahagia saat membuatnya. Meskipun butuh waktu lama dan menghabiskan banyak series drama, tapi setidaknya dia empuk dan mampu menghangatkan. Cuma memang takdirnya tidak untuk dicuci sering-sering. Walaupun cuci pakai tangan pun karena dia benangnya natural, jadi tetap terasa ausnya.

Kapan-kapan kalau ada benang beberapa kilo lagi, mungkin aku akan bikin selimut lagi.

Postingan ini diedit 1Β jam, 1Β menit yang lalu.

|

#buah-tangan