Buku adalah Sekumpulan Kertas yang Dibuat dengan Hati
Postingan ini diedit 1 bulan, 3 minggu yang lalu.
Biasanya, aku membahas tentang buku yang bisa dibaca. Kali ini, aku ingin membahas mengenai buku yang digunakan untuk menulis. Alias buku kosong. Well, mungkin tidak sekosong itu, tapi katakanlah buku yang belum ada informasi apapun di dalamnya.
Perkenalanku dengan "buku kosong" jauh lebih baru dibandingkan perkenalanku dengan buku berisi. Aku baru mulai menggunakan buku tulis untuk menulis saat SD. Sependek ingatanku, waktu aku TK, aku sama sekali tidak punya buku tulis. Aku hanya punya buku gambar dan buku latihan menulis. Selain itu, aku juga punya beberapa buku cerita dan buku bergambar.
Begitu mulai mengenal buku tulis, aku kemudian suka menulis. Aku suka rasanya saat dipuji karena tulisanku. Entah karena bentuknya yang rapi atau karena esensinya yang mengagumkan, aku lupa. Tapi yang jelas aku suka dipuji karena itu. Saat itu juga, aku memiliki lebih banyak buku tulis dibandingkan teman-temanku. Ada buku yang aku gunakan untuk latihan matematika dari buku paket, ada buku yang aku gunakan khusus untuk menulis dengan huruf tegak bersambung, ada juga buku yang aku gunakan khusus untuk menulis cerita-cerita yang muncul di benakku. Satu buku khusus juga aku gunakan untuk menuliskan diary.
Begitu aku berteman baik dengan buku, ragam bukuku semakan banyak. Begitupun hubunganku dengan buku-buku yang awalnya kosong itu, rasanya jauh lebih mengikat dibandingkan dengan semua hal yang pernah aku temui. Aku ingat sekali, meskipun setiap tahun aku membersihkan semua barang-barang di kamarku, aku selalu berusaha sebisa mungkin tidak membuang buku-buku yang pernah kosong itu. Beberapa di antaranya aku simpan hingga SMP. Banyak diantaranya yang masih aku pertahankan dengan cara memilah bagian-bagian yang masih kosong dan akan selalu aku bawa ke sekolah untuk "kertas sobekan". Bagaimanapun caranya, aku selalu berusaha mempertahankan semua buku-buku itu. Meskipun informasi di dalamnya tidak begitu berguna.
Sekitar delapan tahun yang lalu, aku sempat bingung dengan diriku sendiri. Mulai menyalahkan lingkungan, marah karena itu, dan marah karena aku marah akan hal itu. Ya, sederhananya, aku ada dalam masa puber dan depresi. Aku sempat menyakiti diri sendiri dengan berbagai cara. Untungnya, karena aku masih punya sedikit akal sehat untuk berkeinginan menyudahi kebiasaan itu, aku ngobrol dengan banyak orang tentang masalah dan kegelisahanku. Kebanyakan aku temui melalui layar laptop. Satu diantaranya pernah menuliskan demikian, "Try to find some hobby. Maybe origami, or journalling, or photography, anything like that. Just to get rid of those thoughts." Aku kemudian benar-benar mencobanya. Aku beli kertas origami, aku belajar cara melipat kertas. Lumayan asyik, tapi aku kurang menyukainya. Aku kemudian membeli beberapa manik-manik dan benang-benang. Lumayan jadi beberapa gelang cantik. Tapi aku sendiri tidak terlalu suka menggunakannya. Aku bukan orang yang suka memakai gelang atau aksesoris. Aku mencoba beberapa hal lain juga. Seperti membuat slime, membuat home decor, mencoba macrame, bahkan mencoba lari. Tidak ada yang membuatku nyaman hingga waktu yang lama. Setiap kali melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, aku selalu mempertanyakan kapan kegiatan ini akan selesai. Aku sama sekali tidak nyaman.
Kemudian, aku menemukan satu kegiatan yang lumayan menarik: membuat buku. Aku mencobanya tepat setelah video yang menunjukkan cara membuat buku itu aku tutup. Aku langsung bisa membuat buku sesuai dengan ekspektasiku. Dulu, aku membuat buku tulis dengan cover galaxy dengan tutorial dari Sea Lemon di Youtube.1 Hanya butuh waktu sekitar 2 jam untuk buku pertamaku jadi. Semua bahan yang aku butuhkan sudah ada, kertas untuk isinya aku pakai kertas buku tulis bekas yang aku kumpulkan semester itu, covernya aku punya sisa kertas manila hitam dan kertas karton tebal sisa kegiatan sekolah, cat nya aku pakai cat air dan cat akrilik yang aku pakai waktu kelas seni rupa, serta lem putih di rumahku selalu ada lem putih fox sejuta umat itu. Buku itu lalu aku gunakan untuk mencatat apapun yang ingin aku catat. Sekarang, buku pertama itu sudah aku buang.

Setelahnya, aku suka membuat buku. Aku memotong kertas-kertas yang masih ada bagian kosongnya, aku buat menjadi catatan kecil dengan japanese binding. Setiap akhir semester, aku selalu menantikan sisa-sisa kertas kosong yang bisa aku manfaatkan, lalu aku buat buku dengan case binding. Aku juga membuat beberapa notes kecil dan notepad.
Aku suka memotong. Jadi, banyak project ku yang selalu aku potong kecil-kecil sebelum aku jadikan sebagai sebuah buku. Aku masih punya beberapa diantaranya. Kebanyakan masih kosong karena aku lebih sering membuat buku dibandingkan menggunakannya. Beberapa teman juga aku berikan buku-buku hasil buatanku. Aku lupa siapa saja dan bagaimana bentuk buku yang aku berikan.
Sekarang, setelah delapan tahun aku menekuni (atau setidaknya mengetahui) dunia bookbinding, aku baru sadar kalau aku benar-benar menyukainya.
Bukti yang menguatkan adalah betapa bahagianya aku bisa membeli satu rim kertas dengan uang gajiku sendiri. Untuk orang lain, satu rim kertas murah. Untukku yang selalu berpikir sekian kali untuk barang yang "hanya" kertas, itu benar-benar beban tersendiri. Kemarin, saat kertasnya datang, aku benar-benar hanya tersenyum dan memandangi kertas saja. Aku coba mencetak beberapa desain isi kertas untuk buku, aku juga coba melipatnya, aku juga mencoba melakukan pen test untuk sekadar mengetahui bagaimana kinerja kertas itu dalam menahan tinta pulpen. Rasanya aku ingin memeluk satu rim kertas itu. Aku benar-benar menyukainya.
Setelah ini, aku memutuskan untuk menjadikan bookbinding sebagai hobiku.
Akhirnya, setelah 22 tahun hidup, aku punya hobi.
Selanjutnya, mungkin aku akan bercerita lebih lanjut tentang buku-buku yang akan dan sudah aku buat. Aku belum mengikuti komunitas pembuat buku di Indonesia, tapi aku ingin sekadar membagikan kebahagiaan membuat buku ini kepada orang lain.
Tulisan ini pertama kali aku terbitkan pada 19 Januari 2022 pukul 13:19 di blog Wordpressku. Sampai sekarang aku belum mengikuti komunitas pembuat buku karena sejauh mata sipitku ini memandang, aku belum menemukan komunitas yang aku harapkan. Kenalanku juga setahuku tidak ada yang membuat buku sepertiku, jadi selama ini aku hanya membuat buku untuk diriku sendiri. Beberapa tahun lalu aku menghadiahkan buku-buku buatanku untuk pembeli buku bekasku, tapi tidak aku jual secara terpisah. Sampai sekarang aku belum punya niat untuk menjualnya. Entah tahun depan atau esok hari, tidak ada yang tahu perubahan apa yang akan terjadi, kan hehehe.
Anyway, aku akan banyak ngomongin tentang bookbinding akhir tahun begini karena aku sedang dalam proses membuat buku juga hehehe.