Citra Diri: Pilihan setelah Semua Pilihan Lain
Aku mulai berpikir bahwa seorang temanku membawaku ke tempat-tempat yang dia tahu dari sosial media. Aku juga mulai berpikir kalau dia menginginkan setitik rasa bisa memamerkan kegiatannya di sosial media dengan ngetrend, mengikuti semua orang lain. Yang mana aku sudah sangat lama meninggalkannya. Disini, aku merasa sangat tidak nyaman.
Perasaannya persis seperti ketika seorang kawan lain mengajakku ke Pantai Glagah demi dapat shot yang instagram-able. Padahal uangku waktu itu sudah sangat terbatas sampai-sampai aku mengorbankan uang untuk hadiah diriku sendiri yang hanya terkumpul sampai 50 ribu-an itu. Itupun aku dipaksa untuk duduk di dalam mobil entah oleh siapa ketika kawan itu menyuruhku untuk pergi keluar melihat keadaan. Waktu itu kalau pesan yang disampaikan tidak sejelas itu, aku mungkin tidak akan percaya kalau ada yang menjagaku selama ini.
Sejauh itu juga aku merasa khawatir kalau temanku ini adalah kawanku itu babak kedua dengan proses yang jauh lebih hati-hati dan menggerogoti hati.
Kalau aku cerita begini ke orang lain, mungkin aku akan dikira terlalu percaya dengan mistik dan klenik. Tapi, satu pelajaran yang aku dapatkan dari kesempatan bisa menjalani hari-hariku dengan santai adalah bahwa setiap hal kecil bisa jadi adalah sebuah pelajaran besar. Kadang, pertanda memang datang tanpa dinyana-nyana. Sangat kadang, pertanda itu dianggap sebagai pertanda. Karena kebanyakan orang mengabaikannya dan menganggap bahwa itu hal kecil yang sudah biasa dan bisa terjadi kapan saja. Misalnya dengan bagaimana tas-tasku rusak.
Tas rajut pertamaku yang sudah sejak lama ingin aku miliki, rusak waktu aku ingin menyelesaikan janjiku dengan seorang teman yang kuanggap dekat. Tas pink hasil tipuan merk China yang bilang kalau brand dia adalah brand lokal, rusak waktu aku juga ingin menyelesaikan satu janjiku dengan temanku ini. Yang rusak sama-sama adalah ritslitingnya. Keduanya tidak bisa dibilang kerusakan yang fatal dari segi produksi. Karena bahkan yang tas pink itu tidak mungkin bisa serusak itu ritslitingnya, aku coba berkali-kalipun tidak mungkin. Tapi, tetap saja tas-tas itu rusak. Timingnya sangat tidak tepat kalau aku ditanya tentang timing.
Kalau ditanya tentang pertanda, ini pertanda yang paling jelas. Teman yang kuanggap dekat itu menyelesaikan aku dengan sama sekali tidak pernah lagi mengabariku. Temanku yang ini mungkin juga akan melakukan hal yang sama kalau aku lama tidak mengabarinya. Semua orang begitu. Mungkin, tidak enak karena mungkin akan mengganggu atau semacamnya. Mungkin, teman memang ada waktunya. Tapi menurutku, orang-orang yang demikian ini adalah orang-orang yang sibuk dengan dunia saja.
Aku tahu, mungkin aku berpikir begini sambil melakukan sesat pikir sendiri. Karena toh aku banyak diam saja tanpa mengajak mereka kemanapun. Aku sendiri sangat pasif.
Pernah suatu waktu, aku memberanikan diri dengan mengetuk pintu semua orang yang masih bisa kuhubungi. Nyaris semuanya mengiyakan, dengan satu syarat utama: kami sama-sama menderita. Semua orang (dan aku) sedang ada dalam proses berat yang mungkin tidak akan pernah bisa kami lewati tanpa satu sama lain. Setelah proses itu selesai, tentu saja dengan lugas, satu persatu melupakanku (setidaknya). Dan mungkin melupakan satu sama lain. Sampai sekarang aku masih terkesan dengan beberapa dari mereka yang bahkan sudah tidak lagi punya nomor kontakku.
Tapi apa salahnya menjadi orang yang diam ketika nyaris selama ini aku yang mengetuk tanpa henti?
Jujur, salah satu harapanku dari seorang yang bisa menemaniku dalam waktu yang lama adalah semoga dia adalah orang yang bisa menginisiasiku. Sesederhana, "Lagi ada waktu? Mau makan di luar?" atau "Kemarin aku habis lewat sini, kayaknya menarik. Mau mampir?" atau "Hei, aku di depan, mau muter bentar aja?" atau "Ayo main." Karena selama ini, aku yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Kalaupun tidak secara langsung, aku duluan yang berkata, "Hai."
Lebih jujur lagi, aku capek begitu. Aku capek menjadi orang yang menarik orang lain. Karenanya, beberapa waktu ini aku berusaha sekeras mungkin untuk berdiam diri saja. Tapi tetap saja, beberapa kali aku melakukan hal yang sama lagi. Kembali menyakiti diri sendiri lagi dengan mengiyakan ajakan-ajakan palsu, lalu membalaskan dendam dengan sangat tidak sehat. Mungkin, selama ini orang-orang di sekitarku tidak menganggapku sebagai orang yang bisa diajak kemana-mana.
Dulu, aku bahkan tidak mau diajak ke bioskop. Tapi anehnya, tidak ada yang bertanya kenapa. Aku yang harus menjelaskannya, kadang tanpa konteks apapun dan hanya jadi pengisi kehampaan percakapan. Tentu saja, tidak ada yang ingat. Kalau ada yang penasaran, alasan kenapa aku dulu tidak mau diajak ke bioskop adalah karena aku merasa miskin. Uang sakuku hanya cukup untuk beli dua porsi bakwan kawi untuk makan siang dan kadang makan malam (jamanku sekolah dan di daerah-daerah yang kutinggali, dulu bisa beli seporsi bakwan kawi dengan selembar uang dua ribu saja). Waktuku juga sebisa mungkin aku alokasikan untuk belajar atau berhemat diri sebisa mungkin. Untuk membeli kebutuhan hobiku saja waktu itu aku harus mengumpulkan uang seminggu bahkan kadang lebih. Oh, jangan tanya tentang tabungan. Aku belum pernah punya. Bahkan sampai sekarang, aku merasa memiliki tabungan adalah kemewahan tersendiri.
Orang-orang di sekitarku hanya mendengarkan ini lalu menyahut, "Ooohh, sekarang udah lebih baik lah ya, kan kamu udah punya penghasilan sendiri." Jujur, aku pengen lompat dari lantai berapapun kita berjalan-jalan di mall sewaktu mendengar reaksi itu. Karena mereka sama tidak mendengarkan juga waktu aku pernah bercerita kalau aku pernah tidak berani kemana-mana selama dua tahun lebih karena takut uangku tidak cukup untuk aku bersenang-senang. Juga waktu aku bercerita kalau kadang aku merasa terbebani dengan menjadi (nyaris) tulang punggung keluarga. Tentu saja, aku tidak seberani ini mengakuinya. Aku takut kalau aku mengatakan itu, mereka akan tidak enak lalu menghindariku.
Bahkan tanpa kukatakan hal semacam itupun, banyak diantaranya yang sudah menghindariku. Hanya karena aku bilang, "Aku udah nggak punya sosmed lagi." atau waktu aku bilang, "Menurutku, uang sama sekali tidak penting." atau sesederhana, "Aku suka Ed Sheeran."
Ada banyak alasan bagi orang lain menghindari orang lain.
Dan hanya ada beberapa alasan bagi orang lain bisa mendekat ke orang lain.
Menjadi teman bukan pekerjaan yang mudah. Karena kamu bahkan tidak pernah tahu kapan kamu dianggap teman atau bukan teman oleh seseorang. Tapi disaat yang sama, kamu juga harus bersikap layaknya label yang belum pernah kamu ketahui itu. Kalau seseorang menganggapmu sebagai seorang teman, lalu kamu diundang dengan harapan bahwa kamu bisa datang dan mendukung semua langkahnya, kamu harus bersikap layaknya seorang teman; turut tersenyum bahagia, mengantarkan hadiah paling manis, mendukung setiap prosesnya, dan kalau bisa menjadi sandaran saat dia berat kepala. Tapi kalau seseorang menganggapmu sebagai bukan teman oleh seseorang, lalu kamu diundang dengan harapan bahwa kamu akan datang sembari meramaikan acaranya, kamu harus bersikap layaknya seorang bukan teman; datang secukupnya, ambil makan sesedikit mungkin, menyumbang sebanyak mungkin, menikmati secukupnya, tak perlu terlalu bahagia, dan tidak terlalu ikut campur.
Seseorang di luar sana mungkin menganggapku sebagai teman dekat. Sedekat hanya aku saja yang tahu kronologis sebuah momen kehidupannya, mungkin dia sepercaya itu denganku sampai memutuskan untuk menceritakannya padaku saja. Mungkin ada juga yang menganggapku sebagai teman saja. Sekadar mengisi kontak dan diharapkan bisa mengisi beberapa momen bahagia mereka, juga menjadi tempat sampah kalau mereka sedang punya banyak sampah. Mungkin ada yang menganggapku sebagai bukan teman. Yang mana sering aku sendiri tak sadari, aku diharapkan menjadi orang yang akan selalu datang kalau ada momen bahagia mereka terbit di story tapi juga tidak terlalu diharapkan kalau mereka menemui halangan berupa rasa sedih.
Aku tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah tahu siapa aku di hati mereka.
Satu hal yang aku tahu dan tetapkan sendiri adalah bahwa aku bukan Sekar di depan mereka. Aku orang lain yang memang sejak awal nama itu dituliskan, bukanlah sesuatu yang terlalu penting.
Bapak mengambil kata itu dari tempat aku lahir. Tapi orang lain mengira bahwa kata itu kata utama dari namaku. Aku sendiri memilih kata itu karena setiap kali orang membaca namaku, itu adalah kata pertama yang akan mereka baca. Orang yang hanya mengenalku dari kata itu akan mengira bahwa kata itu adalah harapan besar dari orang tuaku. Memang kata yang ambigu, tapi sejak Bapak bilang arti kata itu dibanding kata-kata yang lain di namaku, aku tahu kalau secara tidak sadar aku membuang diriku sendiri.
Aku melemparkan diriku sendiri ke ikatan-ikatan yang semu, bahkan tak perlu diperjuangkan. Aku mengelilingi diri dengan harapan-harapan palsu.
Dan melepaskan diriku dari itu semua sembari mengingat siapa diriku yang sebenarnya, bukan perkara yang mudah.
Aku perlu mengorbankan banyak hal. Aku perlu merelakan lebih banyak hal. Aku juga perlu mengeruk lebih dalam hal-hal lain.
Setidaknya selama itu, aku masih punya tempat untuk pulang.
Salam,
Sekarπ
Previous |