diharapkan tidak (dan dua porsi bakwan kawi)
Beberapa hari yang lalu, tasku rusak. Ini sudah kedua kalinya tasku rusak di tengah jalan. Bagian yang rusaknya juga sama. Alhasil, per-beberapa-hari-yang-lalu itu, aku tidak lagi punya tas yang ukurannya kecil untuk dipakai berpergian manja ala ciwi-ciwi.
Pertama kalinya tasku rusak, niatku berangkat sampai pulang sangat baik. Aku juga menerima apapun yang terjadi hari itu dengan berbahagia. Bahkan tas itu rusak jauh setelah dia menjalankan tugasnya sebagai wadah sesuatu yang lumayan berat. Alias sebenarnya tidak ada wajar-wajarnya sama sekali kalau sampai rusak, padahal bebannya sudah berkurang banyak dan aku bahkan tidak sedang menggunakannya dengan bar-bar seperti biasanya.
Sama halnya dengan tas kedua ini. Tragedi kerusakan terjadi di waktu yang paling tidak masuk akal; saat tas itu hanya duduk diam menunggu semua muatannya dikembalikan ke dalam. Aneh sekali.
Yah, aku lalu berpikir layaknya seorang penyihir.
Mungkin, ini pertanda dari semesta. (wkwk)
Mungkin, ini memang waktunya aku mengakhiri sesuatu. (haha)
Mungkin, ini bukan tempat yang tepat untuk tas ini berada. (cu-kali)
Pertanda terakhir dari semesta yang aku abaikan adalah jatuhnya bokongku dari tiga tangga di rumah Simbah. Secara fisik, aku hanya gangguan tidak bisa duduk anteng selama beberapa jam saja selama beberapa bulan. Tapi entah kenapa detik aku jatuh itu aku tahu kalau aku tidak mengindahkan pertanda itu, aku akan lebih merasa sakit. Benar saja. Bahkan lukanya sampai sekarang belum sembuh.
Benar saja, aku merasa nyaris tidak bisa lagi percaya dengan orang lain.
Benar saja, aku merasa tidak akan pernah lagi bisa menjalin hubungan yang sama dengan orang lain.
Benar saja, aku merasa benar-benar sakit.
Apakah aku menyesal mengabaikan pertanda itu? Ehhh... tidak juga.
Karena mau tidak mau, entah kapan itu, aku yakin kalau perasaan yang masih sedang kulewati sekarang ini adalah hal paling penting untuk menjadi manusia sosial. Setidaknya itu yang kupikirkan sekarang. Secara logika demikian.
Karena dulu, aku merasa menjadi manusia saja sudah sangat cukup. Tapi manusia adalah makhluk aneh yang senantiasa butuh teman-temannya. Jadi, setidak-tidaknya, sebagai seorang manusia, membiasakan diri dengan satu manusia lain benar-benar diperlukan. Jadi, kutambahkan kalimat yang pernah aku jadikan blog (yang sudah kuhapus lama karena super cringe itu): "Aku ingin menjadi manusia sosial".
Sekali lagi, aku akan makan bakwan kawi dan minum es teh.
Sekali lagi, tulisan ini kutulis tanpa ekspresi sama sekali karena sedang jaim.
Sekali lagi, aku yakin kalau mungkin tidak banyak orang paham dengan tulisan ini.
Sekali lagi, aku yakin kalau sewaktu-waktu aku mengunjungi tulisan ini di masa depan, aku akan menangis mewek jelek tak akan bisa jaim.
Sekali lagi, aku menulis untuk dari dan kepada diriku sendiri.
Selamat malam,
Semoga bakwan kawimu enak malam ini ππ
Previous |