Dik
dalam ingatanku, kamu masih sebesar guling pisang yang biasa kupeluk setiap malam
dalam gendonganku dulu, kuingat kamu jarang menangis
meski susu ibumu tak keluar senikmat kemarin
meski adikku memandangmu dengan cemberut karena kaurebut pelukan ibuku
meski ayahmu pulang dengan memar bekas susuk malam itu
meski tak ada uang untuk susu minggu itu
kamu hanya menangis
kalau tajin pagi itu tak tepat waktu ibu beri
entah ibumu atau ibuku
kadang aku
yang bertugas menyuapi cairan putih dengan sedikit garam itu
tujuh belas tahun kemudian, aku baru tahu
kalau susu orang miskin itu masih lebih baik
daripada pukulan-pukulan yang kamu terima setelah kami pergi
Dik,
tak apa, kau tak perlu sekolah untuk hidup
tak perlu lagi mencuri demi mengisi perut
Dik,
bahkan kau tak perlu ada dalam kenanganku untuk bisa kusayangi
Semoga senantiasa bahagia dalam setiap tarianmu, Dik.
Sekarππ£
Previous |