sekar πŸ’

hidup sendiri

Hari ini aku sudah berjalan lebih dari 8.000 langkah, kurang lebih 4 km. Sepanjang berjalan itu, aku mendengarkan album DNA (expanded version) oleh Little Mix. Hanya separuh yang benar-benar kudengarkan. Setelahnya aku menggantungkan headset-ku tanpa kudengarkan.

Hari ini aku menyusuri sungai dan secara tidak langsung berwisata tepi sungai. Jogja memang menjadikan apapun jadi wisata. Tapi lumayan dengan begitu setidaknya sungainya jadi sedikit bersih dan tepi sungainya juga terawat dengan baik. Dulu, aku pernah tinggal di tepi sungai kecil. Masih satu RT dengan tempat tinggalku itu, ada sebuah sumber air juga. Juga masih ada tempat mangkal beberapa orang yang biasa buang hajat di sungai. Untungnya, mereka buang hajat setelah aliran air sungai melewati rumahku. Dulu aku dan adikku melakukan banyak hal di tepi sungai. Misalnya mencari siput untuk dimasak sop oleh Bulek dari Palembang, mencari buah gayam lalu direbus Ibu, membuang buku diaryku yang dibaca oleh adik sialan itu, dan mencari yuyu juga untuk direbus Ibu. Aku paling suka kegiatan mencari gayam. Gayam rebus rasanya enak, mirip biji buah nangka (beton) tapi lebih lembut. Itu sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Katanya, pohon gayam itu sudah ditebang untuk dibangun kos-kosan. Aku masih tidak bisa membayangkan bagaimana kos-kosan bisa dibangun di tepi sungai itu.

Salah satu pilihan daerah yang ingin aku tempati untuk nge-kos adalah daerah itu. Sayangnya, daerah itu tidak punya akses transportasi umum yang memadai. Katanya masih ada bus-bus kecil yang dulu pernah teman-temanku naiki untuk sekolah. Tapi waktu aku coba, nyaris setengah hari aku tidak dapat bus. Jadi, aku memutuskan untuk memilih daerah lain saja yang pasti tersedia transportasi umumnya.

Dipikir-pikir lagi, hanya dari aspek mobilitas saja, aku tidak pernah bisa hidup sendiri. Aku memang bisa berjalan sejauh apapun sendirian. Tapi tetap saja kalau sudah terlalu jauh, aku akan meminta bantuan seseorang untuk mengemudikan roda-roda bermesin itu. Aku juga bisa masak sendiri meskipun rasanya tidak terlalu enak. Tapi setidaknya, aku masak sendiri. Sudah begitupun aku belum bisa menumbuhkan makananku sendiri, aku masih butuh orang lain yang bahkan tidak aku temui untuk memasok bahan panganku. Aku bisa bicara sendirian seharian. Tapi setelah dua hari, aku menyerah dan memutuskan untuk keluar demi mendapat satu dua potong sapaan dari orang lain. Atau dari anjing atau kucing atau burung, entahlah.

Nanti sore, aku berencana untuk berjalan lagi. Paling sedikit satu km lagi, mungkin bisa lebih.

Mungkin sendirian lagi, mungkin bersama album lain lagi, atau mungkin semuanya bisa berubah setelah makan siang ini.

Slamat syang~

Postingan ini diedit 35Β menit yang lalu.

|

#short-post