Ingatan tentang Marahmu
Postingan ini diedit 2 bulan, 3 minggu yang lalu.
Bentuk matamu aku kategorikan imut. Beberapa orang lain yang punya bentuk mata mirip denganmu, tidak ada yang istimewa buatku. Mereka justru cenderung aku hindari karena menyebalkan. Sebenarnya, kamu pun juga berniat aku hindari.
Kamu sudah menyebalkan dari awal kita bertemu, ingat?
Kalaupun tidak, yasudahlah.
Dengan bentuk mata yang demikian, aku belum pernah melihat orang lain bisa marah hanya dari pandangan matanya saja. Tapi hari itu kamu berbeda. Tidak seperti kemarin yang biasa-biasa saja, pandangan matamu hari itu sama sekali tidak biasa bagiku.
Kamu datang agak terlambat untuk kelas siang itu. Kelas belum mulai, tapi semua bangku kosong di belakang sudah penuh. Aku duduk di pojok. Minggu lalu kamu ada di sampingku, memberiku kecanggungan luar biasa. Minggu ini, temanmu memintaku bergeser dari pojok kenangan ini untuk mengisi baterai laptop. Ah, aku sebenarnya sebal. Kemungkinan aku duduk di sampingmu jadi nol persen. Kecuali aku dengan gilanya berpindah ke sampingmu tanpa alasan yang jelas. Kamu datang dengan keren. Presensi. Kemudian mata imutmu itu langsung menangkapku, dengan imut. Tapi kemudian mata itu berubah layaknya mata singa yang wilayahnya diganggu. Aku tidak tahu alasannya apa, tapi kemudian kamu hanya diam hari itu. Tidak seperti biasanya kamu yang suka bercanda, menjawab, diskusi, atau bahkan sekedar memberi kata-kata aneh di tengah kelas. Kamu hanya diam, mungkin mencatat atau lainnya.
Lalu pergi tepat saat kelas berakhir.
Kamu tidak bercanda dengan teman-temanmu. Kamu terlihat marah hanya dari punggung tegapmu. Kamu terlihat sangat serius dengan kemarahanmu, berjalan cepat sendirian menuju entah kemana.
Tidak seperti biasanya kamu.
Aku masih ingat betul perasaan sesak itu. Tidak tahu kenapa aku yang merasa bersalah akan kemarahanmu. Bahkan aku tidak sempat memproses apakah mata imut itu marah padaku. Atau hanya waktu saja yang tidak tepat memberiku rasa sesak dan kemarahanmu? Atau memang kamu marah padaku?
Aku masih ingat betul betapa aku ingin mengikuti jalan cepatmu itu, menanyakan kenapa kamu hanya sendiri, kenapa kamu diam, kenapa kamu marah, dan memberimu sedikit senyum menenangkan.
Tapi yang bisa aku lakukan hanya mengikutimu cepat-cepat keluar kelas, mengamati punggung tegapmu, berjalan menjauh dan cepat.
Oh, dan mengingatnya hingga sekarang.
Sialnya, sekarang aku merindukan marahmu itu.