sekar ๐Ÿ’

Kasih yang Selalu Sampai

Petang ini, aku membuatkan Bocil (karena sudah tidak lagi punya anak, dia kembali menjadi Bocil) makan. Rumah kami memiliki peraturan bahwa hewan apapun yang ikut dengan kami, akan makan apapun yang ada. Kadang, sama dengan yang manusia makan, kadang sisanya, tapi jarang diusahakan makanan khusus untuk hewan selain manusia. Tidak terkecuali untuk spesies Felis catus.

Dia biasa diberi makan nasi dan ikan keranjang goreng. Saking terbiasanya dia dengan menu itu, mau seharian diberikan pelet khusus kucing pun dia masih akan minta makan kalau belum dibuatkan menu itu. Biasanya, dia makan menu itu pagi dan petang saat matahari sudah terbenam. Hari ini, aku membuatkannya. Dengan nasi sedikit dan nyaris seekor penuh ikan keranjang yang sudah digoreng adikku (aku nggak bisa goreng ikan dengan baik katanya). Tidak biasa, aku hari ini pakai tangan untuk mencampurkan keduanya. Biasanya aku pakai sendok untuk menghancurkan ikan dan mencampurnya dengan nasi. Aku lupa kenapa, tapi itu memang tidak biasa buatku.

Tapi begitu selesai kubuatkan, Bocil yang tanpa dipanggil menghampiriku itu, tidak mau memakannya.

Aku agak kesal, tapi sudah maklum. Dia akhir-akhir ini memang agak love-hate kalau sama aku.

Kalau urusan makanan, sepertinya dia nggak terlalu suka denganku. Karena aku satu-satunya orang yang tidak selalu memberikan sepotong apapun-yang-aku-makan-saat-itu ke dia saat juga sedang makan di rumah ini. Aku selalu memberikan dia makanan pada waktunya. Antara jam dia memang akan selalu diberi makan, atau setelah aku menyelesaikan makananku. Karena menurutku dia masih seekor kucing yang sebaiknya mencari makanannya sendiri. Tidak melulu mengiba pada manusia, terutama aku.

Jadi, aku membiasakan Bocil makan sisa-sisa apapun yang sedang aku makan. Itupun kalau dia mau.

Misalnya saja ceker ayam (aku suka ceker ayam), aku akan menyediakan piring khusus untuk tulang belulangnya. Setelah aku selesai makan daging ceker ayam, baru tulang belulangnya kuberikan ke Bocil. Atau yang agak aneh, dia suka makan tepung goreng. Apapun yang ada tepungnya, kemungkinan dia akan makan. Misalnya saja kemarin adalah pisang goreng. Saat aku ambil beberapa pisang goreng, dia tertarik. Aku makan dulu satu potong, lalu kuberikan secuil tepungnya ke Bocil. Ternyata dia mau. Akhirnya aku sisakan sedikit tepung-tepung pisang goreng untuk dia.

Meski demikian, aku sering juga kok kasih dia makan snack, biasanya akan aku sendokkan satu sendok plastik penuh pelet kucing untuk dia kunyah dini hari saat aku bangun dari tidur pertama. Sekadar ucapan terima kasih karena kadang aku bisa bangun juga karena dia.

Tapi dia tidak pernah mau mengikuti setiap langkahku. Tidak seperti dia yang selalu mengikuti langkah adikku kemana-mana. Bahkan saat aku lama tidak ada di rumah, dia tidak mencariku. Padahal dia mencari adikku saat dia pergi dan selalu menunggu adikku yang lain yang setiap hari mengantar dagangan pagi-pagi. Dia juga tidak lagi mau duduk di pangkuanku lagi sejak dia berukuran lebih besar dari kantong bajuku.

Meskipun begitu, hanya aku yang bisa memanggil Bocil dengan suara tertentu dan membuatnya berlari menuju suaraku. Karena ibunya Bocil dulu juga selalu datang saat kupanggil, dan selalu kupanggil pada jam mereka makan. Mungkin semata hanya bel kepercayaan yang sudah diwariskan sejak ibunya (aku memanggil ibunya dengan Ngiaw Miaw, tapi bukan nama resminya).

Aku lumayan sedih dengan perlakuannya ke makanan yang sudah aku siapkan petang ini. Sampai sekarang, makanan itu masih tersisa banyak. Dia hanya makan sedikit-sedikit saat adikku menunjukkan bahwa dalam wadahnya sudah ada makanan. Lucu memang, karena biasanya saat dibuatkan adikku, Bocil selalu langsung menghabiskan makanannya. Apalagi kalau petang hari, karena sesiang dan sore biasanya dia hanya tidur jadi pasti lapar.

Jadi, aku meminta hal lain dari Bocil.

Aku ingin mengelusnya, mencari kutu (aku suka mencari kutu, mungkin aku memang keturunan monyet). Biasanya jam 7 malam-an, dia akan duduk-duduk di depan kamarku dan memandikan dirinya sendiri. Lalu saat aku duduk di dekatnya, dia akan kabur ke kamar adikku. Saat disana, dia baru mau berbaring dan membiarkanku mencari kutu-kutunya sambil menikmati fur-nya yang lembut dan berdebu sisa seharian dia bermain atau berdiam diri di tanah.

Tapi lagi-lagi, dia menolakku. Dia mengelak ketika aku duduk di dekatnya. Selalu kabur, seakan aku adalah sesuatu yang dia hindari. Apalagi dielus, langsung kabur dia. Bahkan sok sibuk pula dengan mencari-cari sesuatu di luar. Turun lagi ke tanah dan sok berburu sesuatu. Saat aku tidak lagi terlihat tertarik, dia kembali pada tempatnya.

Aku jadi tambah sedih lagi.

Kan aku pengen menyayanginya.

Kan aku pengen menunjukkan kalau aku sayang.

Kan aku pengen menjelaskan padanya kalau aku menyayanginya.

Tapi aku ditolak berkali-kali. Entah karena alasan apa. Mau ditanya pun sia-sia, dia hanya menghindar.

Jadi, aku mencuci tangan dengan bersih dan membuat teh celup lalu menuliskan perasaanku disini. Sambil tersadar bahwa sayang yang dipaksakan tidak akan diterima sebagai sebuah kasih. Yang ada justru si penerima akan merasa tidak nyaman, mungkin seperti perasan begah atau bahkan sesak.

Aku sendiri lebih suka (dan terbiasa) menerima sayang dalam bentuk kebebasan. Setidaknya kebebasan memilih.

Sayang yang demikian itu bahkan aku pernah terima dari seorang yang tidak ada hubungannya denganku sama sekali. Dengan bentuk kebebasan memilih akan lulus atau tidak. Respon beliau saat (mungkin aku menunjukkan) muka yang agak terluka dan ingin mengakhiri segalanya hanya, "Anak ini kalaupun nggak dilulusin di sidang ini juga sudah punya penghasilan sendiri." Alias "Kalau mau menolak draft anak ini saat sidang ini pun dia tak masalah dengan tidak lulus sekalian." Dan beliau membiarkanku memilih untuk melanjutkan sidang yang sudah tiga jam dan dua cangkir kopinya itu berlalu atau aku perjuangkan lagi.

Lebih sering lagi aku menerima sayang yang membebaskan. Seperti saat aku memilih untuk memakai kerudung karena teman-temanku memakainya, lalu memilih untuk tetap memakainya hanya karena gengsi untuk mengubah perktaanku sendiir, lalu memilih untuk tidak lagi memakai kerudung saat sudah lulus sekolah. Atau saat aku memilih untuk mencari pekerjaan sendiri saat masih berkutat dengan pengumuman KKN dan memilih untuk mengerjakan semuanya sendirian. Atau bahkan saat aku memilih untuk berjuang meluluskan diri. Tidak ada seorangpun yang memaksaku melakukan semua itu. Aku nyaris dibiarkan tumbuh sendiri.

Saat aku bertanya tentang hal ini ke Ibu, beliau menjawab bahwa Ibu sudah sangat percaya bahwa aku bisa tumbuh sendiri dengan baik. Adik-adikku di lain pihak, menurutnya lebih butuh perhatian karena mereka adalah anak laki-laki yang akan menjadi laki-laki pemimpin keluarganya. Aku, seorang perempuan, secara tidak langsung dibiarkan Ibu untuk terbiasa melakukan semuanya sendiri (sampai-sampai lupa caranya meminta tolong) dan dibiarkan untuk memilih mau dibawa kemana kehidupanku sendiri. Itu kasih paling membebaskan yang aku peroleh, tapi juga membuatku secara tidak sadar membuat penjara sendiri dalam kepala.

Ah, aku seorang perempuan, tidak baik kalau berlaku begini. Perempuan Jawa hendaknya bisa menjaga sopan santun. Setidaknya aku harus tersenyum meskipun diinjak-injak sedemikian. Ah, aku harus menjaga diri, mereka orang yang punya pangkat dan aku adalah seorang pemuda, perempuan pula.

Dan banyak penjara lainnya. Tapi itu dari diriku sendiri.

Mungkin aku memang belum terlalu menyayangi diriku sendiri dengan bebas. Aku masih punya penjara-penjara kecil dalam kepala. Keluar satu penjara, aku masuk ke penjara lainnya. Entah kenapa rasanya aman saja kalau ada batasan.

Padahal aku selalu mendapatkan kasih yang membebaskan.

Sayang yang tidak pernah berbatas.

Bahkan cinta yang tidak perlu dibalas pun, akan selalu ada.

Wah, panjang juga hehhehehehehehe

Padahal awalnya aku hanya mengeluh tentang Bocil yang selalu menghindariku, berakhir dengan 1.155 kata. Mantap juga.

Anyway,

aku sebenarnya sudah sangat ingin memberikan kasih yang begini membebaskannya ke diriku sendiri.

Tapi aku bersyukur setidaknya hari ini berlalu dengan beberapa set mawar merah yang telah selesai dan aku yang mulai bisa menerima kasih dan sayang dan cinta yang begitu membebaskannya. Mungkin, Bocil juga begitu sayangnya denganku sampai-sampai tidak pernah mencariku. Mungkin, dia hanya membiarkanku berjalan-jalan sejenak, tahu kalau aku akan selalu pulang dan membawakannya sebungkus makanan basah dan sesekali mencari kutu-kutu di lehernya (yang mana sangat dia nikmati) dan dia akan sesekali berlari mencariku untuk meminta tolong menguburkan anaknya yang sudah mati.

Mungkin, tanpa aku ketahui, ada orang (atau sesuatu) di luar sana yang sama memberikan kasih yang begitu membebaskan untukku. Karena itu, aku terima kasih-nya.

Mungkin, tanpa ada orang (atau sesuatu) ketahui, aku juga sudah melakukan sesuatu yang sama membebaskannya untuk mereka. Semoga, mereka terima kasih ku.

Terima kasih.


Update belum ada lima menit setelah selesai menulis ini, saat aku keluar untuk pipis (dan menyeka ingus), Bocil keluar juga menungguku selesai dari kamar mandi. Lalu dia mau aku elus-elus dan aku juga sudah membunuh satu kutu gemuk dari lehernya. Kemudian dia pindah ke kamar adikku dan berbaring dengan perut diatas, minta dielus juga perutnya. Terus dia tidur.

Aku belum berencana akan tidur, tapi setidaknya aku jadi sedikit lebih berbahagia.


Salam,

Sekar๐Ÿ’๐Ÿˆ

Postingan ini diedit 2ย hari, 23ย jam yang lalu.

|

#buah-pikir