sekar πŸ’

Kenalan dengan Tante

Kemarin, aku main dengan temanku. Kami mengunjungi toko tempat jual benang lalu masuk pasar lalu mengunjungi toko tempat jual kain. Setelahnya, dia mengajak ke sebuah mall melihat-lihat promo di Matahari sambil menyapa kucing raksasa. Aku sebenarnya tidak tertarik dengan keduanya, tapi karena aku belum pernah ke mall itu, jadi kuiyakan saja. Toh aku cuma ingin jalan-jalan sambil ngobrol saja.

Setelah puas jalan-jalan dan makan siang sambil minum es teh, kami berpisah. Dia mengejar ibadah sore dan aku berencana muter-muter Jogja dulu sebelum pulang.

Pagi itu aku ketinggalan dua bus yang keduanya nyaris banget kunaiki. Sorenya, aku tertolak satu bus. Ada sekitar empat orang yang keluar dari bus, lalu diumumkan kalau bus itu hanya menerima empat orang lagi. Aku antrian nomor lima. Di belakangku juga masih ada orang yang mau naik bus jurusan yang sama.

Seketika aku nyengir ke orang di belakangku. Ternyata beliau adalah waria yang katanya baru pulang dari ngamen di perempatan dekat sana. Aku menyapanya dengan berkata kalau lipstiknya luntur sampai gigi. Awalnya aku bingung menyapa beliau dengan sebutan apa, kemudian aku bertanya dengan hati-hati, dijawabnya kalau lebih suka dipanggil Tante karena sudah tua. Padahal sepenglihatanku, beliau belum terlalu tua. Mungkin karena sepanjang 30 menit aku ngobrol, beliau senantiasa tersenyum cerah. Atau karena riasannya yang menurutku lumayan luwes untuk wajahnya. Yang jelas, menurutku usianya masih 30-an.

Tapi kemudian aku panggil Tante karena beliau suka dipanggil demikian.

Dari obrolan singkat sambil menunggu bus selanjutnya itu, aku baru tahu banyak hal tentang kehidupan jalanan. Katanya, bahkan ada pengarahan untuk beretika ketika mengamen dan menjaga diri waktu berada di jalanan. Beliau juga cerita kalau ada beberapa temannya (bahkan beliau sendiri pernah mencoba) yang bisa memulai usaha berkat pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh beberapa yayasan dan pemerintah. Tapi tetap saja biaya hidup masih mengharuskan ngamen sebagai sambilan. Beliau pernah mencoba menanam sesuai pelatihan yang pernah diterimanya, tapi gagal total setelah tanaman-tanamannya disiram air panas oleh tetangganya. Katanya tidak patut seorang seperti beliau menanam di lingkungan itu karena bukan lahan miliknya. Alhasil, beliau menyerah.

Tapi beliau dan beberapa kawan waria dan banci masih kerap dapat job dari sebuah yayasan Kristen. Katanya, mereka sering dibutuhkan untuk membantu menata taman, memijat, memasak, dan bahkan membuat jamu. Beliau sendiri terlihat merasa senang waktu bercerita tentang kegiatan-kegiatan tersebut, katanya lumayan karena dapat pengetahuan sedikit-sedikit, juga dapat duit.

Kami berpisah di bus, karena beliau turun duluan. Aku masih harus ganti jalur di halte yang lumayan jauh. Dan Jogja lumayan ramai sore itu. Jadi, kuurungkan rencana memutari Jogja kemarin.

Alhasil aku menghabiskan sore kemarin dengan menunggu bus lagi. Untung di halte tempatku menunggu ada seorang penjaga halte dan seorang Bapak yang sedang ngobrol tentang betapa sulitnya mencari uang. Sambil bersimpati, aku kemudian bertanya, "Uangnya hilang dimana?" Eh malah diketawain. Aku jadi bercanda ria dengan beliau berdua. Kuceritakan juga kalau aku dan temanku tidak dapat giliran berfoto dengan kucing raksasa. Kurasa mereka tidak terlalu kasihan denganku, karena aku malah disuruh balik lagi kesana petang itu. Katanya kalau sudah gelap, pasti kucingnya mau diajak foto. Kubilang saja kalau kucingnya mungkin sudah mulai jalan-jalan kalau sudah maghrib, nyari takjil mungkin.

Setelah menunggu bus yang terjebak macet itu, aku berpisah dengan beliau berdua. Kudoakan semoga uangnya cepat ketemu dan jadi kaya raya. Mereka nyengir saja.

Hal yang paling aku sayangkan kemarin adalah aku lupa menanyakan siapa nama Tante dan Bapak pencari uang itu. Sayangnya, aku juga adalah orang yang agak loading lama dengan rupa seseorang. Aku bahkan pernah lupa dengan rupa teman-teman dekatku sendiri karena saking jarangnya kami bertemu. Semoga saja dengan Tante dan Bapak itu, saat aku bertemu lagi dengan beliau-beliau ini, aku bisa mengingat dan menanyakan nama-namanya.

Postingan ini diedit 18Β menit yang lalu.

|

#buah-pikir