sekar 💐

Mantra Pereda Nyeri

Sekitar satu jam yang lalu, aku mengalami nyeri perut hebat akibat menstruasi. Tidak biasanya sesakit ini, namun ini sudah diluar batas untuk ukuranku. Berbaring, meringik, dan berusaha memejamkan mata sambil menekan perut. Berharap semua akan kembali normal dua detik kemudian, namun tidak.

Kemudian satu pikiran terbentuk:

Rasa sakit bukanlah sesuatu yang tidak normal, justru beginilah normalnya manusia. Ketika ada sesuatu yang salah, maka sakit. Aturan mendasar itu tidak hanya tubuhku yang punya, semua makhluk punya. Karena itu, saat sakit, sebaiknya bukannya mencoba menghilangkan rasa sakit itu. Kenali dulu rasa sakit itu; apa yang sakit, kenapa sakit, kapan sakit, mana yang sakit, siapa yang sakit, dan bagaimana sakitnya. Kemudian, saat sudah benar-benar mengenalnya, ajaklah rasa sakit itu bekerja sama; baiklah bagaimana aku bisa memperbaiki yang salah ini?

Untuk nyeriku kali ini, aku sama sekali belum tahu bagaimana memperbaiki “yang salah”. Mungkin gaya hidupku satu bulan kemarin salah, mungkin aku kurang memperhatikan vaginaku, mungkin aku kurang minum air, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya, yang justru menambah kekhawatiran.
Jadi, bukannya memperbaiki yang salah, rasa sakit itu aku persilakan.

“Baiklah, silakan sakit, kerjakan tugasmu. Aku akan merasakannya, menerimamu, membantumu kalau perlu, dan mendukungmu. Aku sama sekali tidak akan menghalangi kerjamu. Jadi, silakan bekerja.”

Kemudian aku terlentang nyaman, santai, tanpa beban, memejamkan mata dengan nyaman, dan sama sekali tidak sakit. Ajaib.

Baru kemudian aku bisa makan bubur sumsum.


Tulisan ini sudah aku buat lama sebelum aku memutuskan untuk mengeluarkannya sebagai salah satu postingan blog ini. Mindset yang demikian, aku dapatkan setelah membaca karya Ajahn Brahm – Trilogi Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Ketiga bukunya sudah tidak di tangan. Ketiganya, kuharap, bisa membantu teman-temanku dalam menghadapi masalah-masalahnya, terutama saat sakit seperti demikian. Aku lupa tepatnya di buku ke berapa dan pada bab berapa Ajahn Brahm menjelaskan mengenai “mantra” ini.

“Mantra” ini, berfungsi cukup baik saat aku mengalami nyeri menstruasi atau semacamnya. Tapi, lucunya, bulan kemarin aku melupakan mantra ini. Aku menangis, tidak bisa tidur, marah-marah, berpikiran “macam-macam”, dan sedih terus-menerus. Saat aku iseng buka-buka tulisan lama, tulisan ini muncul dan menyadarkanku: aku kadang masih terlalu terganggu akan rasa sakit yang sedang bekerja itu.


Edit 31 Mei 2026

Tulisan ini pertama kali aku terbitkan pada 23 Desember 2021.

Setelah tulisan itu terbit, aku sudah membeli kembali dua buku dari trilogi Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Tahun ini, aku belum membaca ulang buku-buku itu. Tentu saja, rencananya aku memang akan membacanya ulang, tapi belum kesampaian. Hanya saja, karena aku sedang sakit, aku jadi ingat tulisan kecil ini. Sakit kali ini pun aku nikmati sewajarnya.

Hanya, tidak biasa sekali hidungku mengeluarkan ingus sebanyak ini. Biasanya kalau flu, paling banter aku hanya batuk dan bersin saja. Ingus... hanya keluar saat aku nangis aja wkwkw Memang agak aneh, tapi tak apa, sekali-kali aku umbelen wkwkw Aku juga banyak merasa pusing kali ini, biasanya jarang saja. Untung saja pusingnya tidak separah aku melihat atap yang berputar-putar. Jadi, aku masih bersyukur karenanya.

Hari ini sudah lumayan, buktinya aku bisa menyapa kucing putih besar dini hari ini dan tentu saja lembur kerja. Masih agak batuk, tapi tak masalah. Bersin-bersin sudah lumayan berkurang intensitasnya. Hanya saja, aku memang masih butuh kehangatan minyak kayu putih dan wedang jahe. Tentu saja, aku agak menyesal karena minum kopi maghrib tadi.

Kesimpulannya, aku merasa bersyukur karena sakitku kali ini tidak terlalu parah dan aku merasa bisa pulih dengan cepat. OH! Aku juga jadi bisa tidur lebih banyak saat sakit hehehe enak juga ternyata banyak tidur hehehe

Postingan ini diedit 16 jam, 42 menit yang lalu.

|

#buah-pikir