sekar πŸ’

"Mari Hamil"

Hehehehehe

Aku sedang lembur sambil dengerin video esai ini:

Ada banyak drama yang dibahas belum aku tonton, karena aku cenderung nonton drama yang lawas-lawas. Satu drama yang sudah aku tonton secara penuh adalah Birthcare Center. Drama lain yang banyak dibahas dalah Woori The Virgin yang baru aku tonton 4 atau 5 episode lalu bosan dan tidak lanjut nonton lagi. Karena itu, sebenarnya aku nonton video itu juga untuk menilai apakah drama-drama baru akhir-akhir ini menarik untuk aku tonton atau tidak.

Singkat saja, menurutku kurang menarik.

Agak panjangnya, karena menurutku pesan-pesan semacam "Mari hamil, bagaimanapun caranya, ayo produksi anak! (terutama kau, wahai perempuan)" itu terdengar sangat dipaksakan. Padahal pesan-pesan yang berkebalikan rasanya barusan disuapkan ke penonton-penontonnya. Hanya karena mereka kekurangan bayi, jadi propaganda semacam ini harus dibuat sambil mengejar kecepatan produksi. Menurutku dampaknya bikin drama baru sekarang terasa agak aneh.

Sebagai perempuan yang ingin punya anak juga, disuguhi propaganda yang demikian bukanlah sesuatu yang bisa membuatku jadi lebih ingin punya anak. Justru bikin mikir lagi. Karena secara tidak langsung propaganda itu memaksa perempuan untuk punya anak bagaimanapun caranya. Entah dengan sex bebas, cari donor sperma, atau bahkan mungkin membesarkan anak yang dibuang atau mencari jodoh secepatnya sebelum rahimmu kadaluarsa.

Sebuah media memang hasil dari kabudayaan dan keadaan di sekitarnya. Di Korea Selatan mungkin memang sedang sangat darurat tingkat kelahirannya. Tapi (di video itu juga disinggung), propaganda yang dikemas dengan romantis di drama-drama tersebut nyaris seperti tak menghargai orang-orang yang perlu berusaha untuk mendapatkan jabang bayi. Adalah perempuan yang kumaksud. Seakan menanggung beban selama 9 bulan kemudian mengejan (atau disayat perutnya) lalu merawat manusia kecil adalah sesuatu yang mudah-saja-dilakukan-kalau-papa-mama-saling-mencintai.

Aku pribadi menginginkan memiliki anak bahkan sejak kecil. Bukan karena terpapar propaganda media yang aku konsumsi. Aku tahu aku suka anak-anak karena semasa kecil aku nyaris tidak punya boneka. Dua boneka yang aku punya dulu karena dapat hadiah dari kakek dan nenek angkatku, itupun berakhir di tangan adikku semua. Satu boneka lain adalah boneka bentuk pisang pemberian teman Bapak yang kujadikan guling beberapa tahun ini. Sebagai ganti boneka, aku punya dua adik dan banyak bayi yang selalu ada dalam gendonganku.

Adik pertamaku lebih cantik dariku (dia cowok). Dia dulu belajar bicara dengan cara menirukan semua yang aku keluarkan dari mulut cerewet ini. Aku tidak merasa kesal karena dia meniruku. Hanya saja, suatu waktu saat aku sedang bermain, dia tiba-tiba mengapung di kolam ikan milik tetangga. Tubuhnya membiru dingin dan aku ingat betul bagaimana Ibu menangis mengira adikku itu sudah meninggal. Dia masih hidup sampai sekarang. Dia masih banyak mengikutiku dalam banyak hal; kuliah di satu universitas yang sama bahkan cuma tetangga fakultas, sering nonton drama, nyaris 50% lagu di playlistnya adalah lagu-lagu yang dulu sering aku dengarkan, dan bahkan ingin bekerja seperti bagaimana aku bekerja.

Adik keduaku sangat mirip denganku. Kami selisih nyaris 7 tahun. Perkiraan lahirnya juga sama persis dengan tanggl lahirku. Tapi si iseng itu memutuskan untuk lahir tepat sebulan sebelum hari perkiraan lahirnya. Dia menyapa dunia pada siang terik hari Jum'at. Tepat saat matahari ada diatas kepala. Alhasil, matanya sipit dan saat besar dia terlihat seperti orang Asia Timur. Entah yang bagian mana. Karena dulu waktu bayi dia lumayan putih, terlihat seperti orang Cina. Lalu agak besar entah kenapa tatapan matanya sangat fokus tapi usil, sehingga terlihat seperti orang Jepang. Sekarang dengan gaya rambutnya yang agak panjang itu dia kelihatan seperti orang Korea yang kebanyakan berjemur. Sepertinya satu-satunya motto hidupnya adalah: "Kalau Mbak bilang kanan, aku akan ke berputar tanpa pernah ke kanan."

Bapak sejak jaman kuliah sangat menyukai topik mendidik anak dalam keluarga. Banyak buku koleksi beliau yang membahas hal itu. Salah satu candaan Bapak dengan teman-temannya yang hanya punya anak satu atau dua atau belum punya sama sekali adalah:

Hidup itu belum berhasil kalau belum menanamkan ajaran hidupmu ke lebih banyak orang. Makanya, minimal punya anak tiga. Setidaknya jumlah kepala yang dihasilkan oleh dua orang lebih banyak.

Aku setengah setuju dengan pendapat beliau. Setengahnya lagi, aku sendiri merasa agak takut karena ada kemungkinan aku mengalami masa kehamilan seperti Ibuku yang kuingat begiatu menguras dirinya. Dibanding dengan ibu hamil lain, aku ingat Ibuku jauh lebih sering rawat inap dan terlihat sekali bagian tubuhnya yang begitu kurus selain perutnya. Beruntungnya, ketiga anaknya lahir sehat dan tumbuh besar dengan bahagia dipelukannya. Tetap saja, keinginan untuk menumbuhkan manusia kecil baru menurutku adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.

Beberapa bayi yang dulu kugendong sekarang juga sudah tumbuh besar dan keren.

Tapi ada beberapa kenalanku yang benar-benar kaget waktu melihat hubunganku dengan bayi atau bocah kecil. "Loh, kamu bisa gendong bayi?" atau "Kok dia bisa ketawa sama kamu?" atau "Kamu apain anaknya kok bisa anteng sendiri gitu?" atau "Lah dia mau ngobrol sama kamu." sering kudengar saat aku ada di sekitar anak-anak. Mungkin karena mukaku yang agak..... garang wkkwkw jadi mereka tidak menyangka aku bisa menaklukan bayi dan anak kecil. Beberapa anak yang kata orang tuanya hiperaktif atau sama sekali tidak mau menyapa orang baru justru bisa main dengan kondusif denganku. Salah satu ponakan teman dekatku bahkan hanya mau salim denganku setelah selama aku ada disana bertukar muka jelek satu sama lain dari jauh. Seorang anak kecil yang sedang bosan menunggu antrian di bank juga begitu bahagia saat aku menunjukkan sedikit tarian kaki. Bahkan ada seorang anak yang merasa dirinya adalah alien ngobrol seru nyaris seharian denganku.

Aku hanya terbiasa dan suka dengan anak-anak.

Tadi sore, saat aku jalan-jalan sendirian di sekitar kos, ada beberapa anak yang sedang sepedaan. Dari jauh mereka sudah melihatku dan bercanda ria. Begitu sudah agak dekat, mereka serentak berteriak, "Mas!" ke aku. Aku otomatis langsung menjawab, "Mbak, yo!" dan mereka tertawa terbahak-bahak sambil berlalu. Aku juga tertawa bahkan sampai beberapa langkah kemudian. Padahal aku udah pakai dress dan sandal pink. Tetap saja dengan potongan rambutku yang super pendek ini memang kuakui lumayan pantas untuk dipanggil "Mas" wkkwkwkwkwkw

Aku nulis ini sambil dengerin video ini, siapa tahu ada yang sedang ingin dengerin Four Seasons:

Sudah dulu untuk cerita selingan lembur ini,

Selamat malam!

Postingan ini diedit 47Β menit yang lalu.

|

#buah-pikir #log #watch