Menjadi Gila: Menyayangi Diri
Semingguan ini, aku banyak membuat.
Membuat bunga-bunga, tentunya. Membuat beberapa teman kecil lainnya (aku jadi punya stroberi dan kiwi dan buah pantat kecil). Juga membuat tempat khusus untuk benang-benang yang sudah aku punya. Untuk kucing seupil, belum berhasil terbuat. Tapi tak apa.
Selain membuat, aku juga mengonsumsi banyak hal. Aku sedang membaca Sengsara Membawa Nikmat dan nyaris tidak ingin selesai. I ship Midun and Halimah!!!!!! They need to be together!!! I mean, who need smut when you have ✨romance✨AAaaaAAaaaaaaAaaaaAAaAaaAA
Mulai kemarin aku juga sedang menonton ulang drama Korea You're All Surrounded, ini sudah sampai episode 8 hehehehhehehe Dan aku baru nyadar kalau sepotong puisi yang aku sukai dikutip diepisode 7 kemarin hehehehehe
Puisinya bisa dibaca disini, atau dengarkan disini atau bisa dinikmati dalam bahasa lain disini.
Pertama tahu puisi ini dari drama kesukaanku, Because This Is My First Life dan sejak itu aku nyari-nyari buku kumpulan puisi penulis Jeong Hyeonjong. Sampai sekarang belum ketemu. Di LTI Korea pun setahuku ada bukkunya, tapi bukan buku yang memuat puisi ini. Waktu itu juga aku belum terlalu paham banyak kosa kata bahasa Korea. Sekarang, kadang sepotong 사람이 온다는 건 실은 어마어마한 일이다 menghantuiku sepanjang hari. Apalagi bagian 한 사람의 일생이 오기 때문이다. Dan di episode 7 You're All Surrounded itu, tepat dua potong kalimat itu yang dikutip.
Beberapa waktu belakangan, aku menugaskan diriku untuk bisa bertemu setidak-tidaknya satu orang baru. Mungkin dari satu orang itu, aku bisa dapat selusin kenalan lain. Mungkin, dengan begitu, aku bisa bertemu dengan teman masa depanku.
Tapi akhirnya, aku memarahi diriku sendiri.
Bertemu manusia bukan sebuah to-do list yang harus dicentang secepatnya.
Itu kesimpulan marah-marahku ke diri sendiri.
Lalu, aku memutuskan untuk berkenalan dengan diriku sendiri saja. Hei, sejauh bonus sepuluh tahun aku hidup, aku bahkan belum bisa mengeja namaku dengan benar.
Jadi, aku pulang.
Berada di tempat paling nyaman untuk mengenal diri sendiri. Meski kadang kuku-kuku kakiku tidak terlihat sebersih di kota, setidaknya aku bisa dengan nyaman melamun seharian. Meski memang tidak ada gunungan buku dengan udara AC, setidaknya aku bisa berbaring sebar-barnya membaca lebih banyak buku. Meski memang wifi tidak sekencang di dekat tower, setidaknya aku menikmati hal-hal yang aku pilih dengan hati-hati (meski kadang bikin sakit hati). Meski memang tidak ada teman di depanku, setidaknya aku bisa ikut mendengarkan RRI Pro 1 dengan Bapak (Mbangun Deso adalah program favorit Bapak, aku suka program update harga siang-siang, sayangnya Ibu penyiarnya barusan meninggal kemarin Jumat, semoga Ibu Sudariyah khusnul khotimah).
Aku bersyukur karena sejauh apapun aku melangkah, aku masih punya rumah untuk pulang.
Dan di depan kamarku ada anggrek ungu yang tidak henti berbunga.
Perkenalan dengan diriku sendiri mungkin tidak akan pernah selesai. Jujur saja, aku masih kaget dengan fakta bahwa gigiku akan tambah sakit kalau aku kebanyakan makan yang manis-manis. Wdym, padahal aku suka yang manis-manis (you included) atau justru karena aku sudah manis jadi tidak bisa makan yang terlalu manis???? Juga fakta bahwa aku tidak terlalu menyukai berada di tempat-tempat cantik yang hanya bisa dinikmati setelah pulang dari sana.
Mungkin karena itu aku banyak membuat bunga-bunga dan teman-teman kecil. Karena aku suka membuat sesuatu.
Sebuah fakta lain yang pernah ditanggapi dengan, "Hah? Seorang kamu bikin ini?" atau "Ngapain penasaran cara bikinnya, udah nikmatin aja!" atau "Mending beli." atau "Ini barang udah nggak berguna." atau "Udah, buang aja."
Yang kemudian sebisa mungkin aku sembunyikan, sampai aku bisa membuat hal-hal yang tidak bisa dibeli dan dibuang begitu saja. Baru aku pamerkan ke dunia.
Setelah tahu dan menerima bahwa aku suka membuat sesuatu, aku jadi suka berekperimen dan tidak minder dengan hal-hal bodoh yang kulakukan sepanjang eksperimen. Seperti misalnya gurita seupil yang warnanya hijau tai. Atau kucing aneh yang tidak bisa berdiri tegak. Atau nasi kacang ijo yang bikin Bapak diare. Atau dua garis kenangan di pergelangan kiriku.
Hei, semua itu buatanku.
Tapi semua itu bukan aku.
Hanya sebagian kecil dariku yang sebisa mungkin aku keluarkan. Mungkin akan ada yang menikmatinya, mungkin ada yang tidak akan suka dengannya, mungkin hanya akan jadi hilang. Tak masalah, setidaknya sudah aku keluarkan. Setidaknya, bukan aku saja yang bisa menikmati rasa manis gurih nasi kacang ijo dan kebodohan gurita seupil juga kerandoman kucing tak berisi.
Mungkin aku akan membuat hal-hal lain. Mungkin juga aku akan membuang hal-hal lain. Bisa jadi, aku akan meninggalkan jejak disana dan disini.
Dulu, sebisa mungkin aku menghapus masa laluku. Sekarang, sebisa mungkin aku mengeluarkannya dalam bentuk apapun. Karena mau bagaimanapun juga masa lalu itu, aku pernah menjalaninya. Jejak-jejak itu akan selalu ada, karena aku sebagai manusia tidak pernah bisa move on. Bersama masa lalu dan masa depanku, sekarang aku move forward.
Jadi, apa masa depanku?
Entahlah, sampai detik ini aku sedang menikmati waktu-waktu berhargaku dengan beberapa baris to-do list kerjaan dan beberapa untai benang serta beberapa kuncup bunga.
Selamat melanjutkan kehidupan,
Sekar💐