sekar 💐

Menjahit - Pelajaran 0

berkenalan dengan seleraku yang dulu

Mungkin akan ada yang mengenaliku kalau aku mendeskripsikan bagaimana aku berpakaian saat kuliah. Kerudung hijau daun yang nyaris terlalu muda warnanya (karena sering dicuci), kemeja yang bukan pink juga bukan putih, celana bahan hitam yang terlalu hitam untuk kombinasi dua atasan sebelumnya, dan flatshoes hitam plastik ketat yang kadang masih dipaksakan disumpal kaos kaki demi bisa masuk lab. Tasku juga tak kalah mencolok karena tanpa ritsliting, berwarna coklat sangat pudar karena faktor usia yang bahkan lebih tua daripada aku dan masih dipaksa memuat kebutuhan cewek ribet untuk bertahan di kampus seharian. Itu semua kadang masih dikombinasikan dengan sweater yang bukan putih juga bukan coklat yang sudah sangat longgar kalau hari sedang sedikit dingin. Kalau sudah mulai berkeringat, sweater itu kadang menggantung saja di tas yang sudah kelebihan muatan.

Sekali waktu ketika aku tidak sengaja berkata ke khalayak umum bahwa aku tidak punya kerudung warna hitam, audiensku waktu itu seketika menertawakanku dikira aku sedang bercanda. Perempuan berhijab mana yang sama sekali tidak punya kerudung hitam, pasti bohong. Begitu rangkuman reaksinya. Padahal kala itu memang benar aku tidak puya kerudung warna hitam. Aku punya kerudung coklat tua pramuka, putih, merah darah, biru navy, hijau daun, dan abu-abu. Pernah ada suatu waktu aku pakai kerudung warna hitam pemberian kawan Ibu, tapi karena bahannya yang sangat letoy (yang mana sekarang banyak yang pakai, aku kurang tahu nama bahannya apa) aku jadi tidak bisa mempertahankan kerudung itu. Akhirnya kerudung warna hitam pertamaku itu berakhir menjadi penutup kardus berisi kain-kain lap.

Aku belum pernah memilih baju-bajuku sendiri sampai kuliah. Sebagai anak yang kurus banget sampai mungkin bakalan terbang kalau bonceng motor, setiap kali bertemu saudara atau kenalan pasti ada kalimat yang kurang lebih berbunyi seperti ini, "Nanti bawa baju lungsuran, ya. Pasti cukup buat Sekar." Yang mana memang benar cukup. Cukup besar dan kadang cukup juga untuk sekadar menunggu lemari usangku. Beberapa potong baju yang berkesan buatku adalah celana olahraga kelas 4 SD yang masih aku pakai sampai lulus SMA, dua baju batik tulis yang kupakai sejak kelas 6 SD sampai beberapa bulan sebelum lulus kuliah, dan kaos orange warna jeruk banget yang kupakai sejak kelas 2 SD sampai lulus kuliah. Gara-gara beberapa potong baju itu, aku selalu merasa bahwa badanku segini gini aja sejak sebelum puber sampai segede ini. Semuanya juga adalah baju pemberian, entah oleh sekolah, kenalan, atau saudara.

Baju pertama yang kubeli sendiri dengan cara memilih sendiri adalah kemeja garis-garis pink dan putih yang bahannya agak gerah tapi tak perlu disetrika karena memang bahannya memang model dikusut-kusutkan. Aku terpaksa membeli kemeja tersebut karena aku tidak punya kemeja lagi untuk menghadiri kelas praktikum waktu kuliah. Menjelang akhir semester 7, aku baru bisa membeli baju untuk diri sendiri lagi. Aku memilih outer berbahan kaos murah di shopee, harganya 30 ribuan. Juga setelan celana dan blazer warna abu-abu 40 ribuan yang super tipis. Outer dan blazernya kadang masih aku pakai sampai sekarang. Alasan aku beli baju-baju murah tersebut adalah karena aku belum tahu apa yang aku inginkan. Aku juga belum pernah memilih sesuatu untuk diriku sendiri secara ikhlas. Jadi, aku memutuskan untuk membeli baju-baju murah untuk melihat apakah aku suka dengan baju-baju itu.

Tapi memang dasarnya aku belum tahu apa yang aku suka untuk diriku sendiri, mau bagaimanapun bentuk baju yang sudah kupilih, aku tetap berusaha untuk menggunakannya semaksimal mungkin. Kalau orang Jawa menyebutnya sebagai nrimo ing pandum wkwkwkwkwkkwkwkwkwkwwkkwkwkwkwkw alias yaudah deh (dengan nada pasrah).

bagaimana dengan seleraku yang sekarang

Baru setelah aku menemui seorang kenalan dari tempat yang jauh dengan keadaan seadanya (kaos abu usang yang sudah kedodoran dan celana pendek tipis yang sudah bolong di bagian bokong), aku memutuskan untuk mengubah caraku menampilkan diri. Sebenarnya dia sama sekali tidak mempermasalahkan caraku berpakaian. Mungkin ia sangat maklum karena aku menemuinya juga setelah ngarit. Tapi dua potong kalimat darinya yang mendorongku untuk lebih menghormati diriku sendiri adalah:

She set a good life for herself.
She's got a job, got something to do, got something to love, and she's really good at communicating with everyone.

Itu kutipan langsung darinya. Aku nyaris mewek di tempat waktu itu. Karena dia bilang begitu dengan nada yang sangat bangga. Bahkan mengingatnya lagi juga bikin aku mewek jelek wkwkwk Anyway, karena kalimat pertamanya itu aku jadi sadar kalau aku memang memerhatikan apapun yang bisa aku lakukan; belajar, bekerja, meraih cita-cita, menyenangkan orang lain, dll. Tapi aku belum pernah menghidupi hidupku sendiri. Bahkan kala itu cita-citaku ingin kuraih demi sepotong janji yang kubuat dengan sombong dengan teman-teman lamaku.

Berawal dari situ, aku mencoba mengenakan dress batik yang sudah jadi penunggu lemariku sejak lulus SMP. Langkah ini aku ambil kurang lebih lima tahun yang lalu. Reaksi unik pertama yang aku dapatkan adalah, "Habis dari gereja, Mbak?" yang ditanyakan oleh seorang simbah waktu berpapasan denganku di tengah kebun. Aku hanya nyengir dan menjawab, "Hehe nggih, Mbah." tanpa berpikir panjang. Agak lucu memang. Setelahnya, aku jadi rajin mengenakan dress batik itu di rumah. Aku suka dengan modelnya karena waktu itu dress itu masih lumayan longgar buatku dan panjangnya masih menutupi lutut dan potongannya sama sekali tidak mengurangi ruang gerakku. Kemudian selang satu masa bebersih kamar kemudian, aku menemukan summer dress yang terpaksa dibeli Ibu dari seorang pengepul sisa eskpor bertahun-tahun lalu. Karena dress yang itu lumayan tipis, jadi aku fungsikan sebagai layer setelah memakai kaos hitam indomaret lungsuran Bapak.

Dari sini, memasuki era suka-belanja-thrift-ku. Mungkin karena aku sudah mulai berkenalan dengan industri awul-awul yang jadi lebih keren dengan sebutan thrift itu, aku jadi lebih percaya diri beli baju-baju thrift dari live shopee. Disamping aku merasa lebih nyaman memakai dress, aku juga merasa baju-bajuku jadi lebih ringkas kalau aku pakai dress. Dibanding harus memakai celana dan kaos yang kadang bahkan tidak bisa menutup bolong celana tipisku, aku merasa lebih nyaman memakai celana pendek tipis yang bolong itu dibawah dress. Jadi, aku membeli beberapa potong dress untuk dipakai di rumah. Aturannya sederhana saja untuk dress-dress yang kupilih: thrift, tidak lebih dari 30 ribu, panjang minimal selutut, dan kalau bisa berbahan kaos.

Aku tidak menyebut pakaian-pakaian itu sebagai daster karena potongan-potongan yang kupilih sengaja yang menurutku lebih niat daripada daster. Aku juga tidak mau memakai kain yang setipis daster meskipun hanya dipakai di rumah saja. Kalau kuingat lagi, ternyata sampai sekarang aku belum pernah punya daster. Alasanku tidak ingin menyebut mereka sebagai daster juga karena sebenarnya kalau aku mau pun baju-baju itu bisa kupakai untuk main keluar. Tapi kala itu karena aku masih belum lulus kuliah, aku masih memegang gengsiku untuk memakai kerudung kalau di luar rumah. Jadi, sampai akhirnya aku ngekos ini baju-baju itu belum pernah kupakai main. Setidaknya mereka semua sudah melaksanakan tugasnya sebagai dress yang kupakai di rumah. Sampai sekarang, dress pertama yang kubeli masih sering aku pakai di rumah.

Beberapa kali aku membuktikan bahwa dress-dress yang kupilih memang layak untuk dipakai jalan-jalan ringan. Sekali waktu pernah seorang temanku meminjam salah satu dress rumahku itu untuk jalan-jalan di mall (dengan sangat tidak sopan), dia dapat tatapan mesum dari seisi elevator. Yah, kalau diingat lagi agak nyesel aku minjemin dia dress itu waktu itu. Dia bahkan berniat memakai dress yang sama untuk pergi clubbing. Katanya cocok kalau mau cosplay jadi cece-cina-kaya-raya. Yah, makin diingat lagi makin nyesel aku. Sialan. Anyway. Intinya pilihan dan harapanku waktu membeli dress-dress itu tidak jauh dari kenyataan. Bisa dibilang bahwa aku lumayan puas dengan pilihan-pilihanku.

alasan aku berubah

Satu janji kecil berdasar gengsi yang pernah aku buat dengan Ibuku adalah bahwa aku akan pakai jilbab di luar rumah selama aku masih sekolah. Setelah lulus sekolah, aku akan mempertimbangkan lagi gaya berpakaianku. Aku buat janji ngawur itu karena waktu aku minta izin ke Ibu untuk ke sekolah tidak pakai jilbab, Ibuku hanya menjawab, "Ya terserah, orang yang pengen pakai jilbab dulu juga kamu sendiri." Aku enggan menyeka ludahku sendiri waktu itu.

Padahal aku gampang berkeringat dan gampang gerah. Mengenakan jilbab membuat rambutku gampang sekali lepek dan ketombean. Itu bertahun-tahun kubiaarkan saja tanpa perawatan rambut khusus. Kukira rambutku memang tidak bisa se-sehat itu. Kukira keringatku juga memang sebanyak itu. Baru setelah aku menanggalkan gengsiku itu, aku sadar bahwa rambutku bisa bersih dari ketombe dan bisa lumayan mengembang, bahkan terlihat pola gelombangnya yang menurutku cantik. Aku juga bisa merasakan pergi jalan-jalan tanpa banyak berkeringat seharian.

Disini, aku baru mengenal siapa diriku sendiri. Aku memang manusia tropis yang menyukai berada di bawah sinar matahari. Aku suka berpanas-panas ria dan berjalan di bawah terik matahari. Tapi aku tidak suka terlalu gerah hanya karena selapis pakaian yang kukenakan. Sampai sini, aku justru mengagumi teman-teman perempuan yang berhijab dan stay on point setiap waktu. Kalian bisa secantik itu dengan hijab bahkan saat cuaca sedang panas-panasnya, keren!

Karena itu, aku kemudian tidak lagi pakai hijab saat keluar rumah. Dulu pun, kalau ada teman yang main ke rumah, aku akan menemui mereka tanpa hijab. Mau cewek atau cowok, sama saja. Karena di rumah memang aku tidak memakai hijab. Pernah suatu waktu aku ditegur oleh Bulek karena gaya berhijabku ini. Katanya tidak sesuai syariat agama. Aku hanya menjawab bahwa aku pakai hijab di sekolah karena diharuskan oleh sekolah, aku tidak pakai hijab di rumah karena tidak ada peraturan yang mengharuskan atau melarangku berpakaian seperti apapun di rumah. Kemudian aku diancam masuk neraka sambil menyeret Bapakku. Waktu itu aku hanya menatapnya aneh karena merasa ada yang salah dengan percakapan tersebut. Baru-baru ini aku sadar apa yang salah.

Saat bertamu ke kerabat jauh, sering kali aku dapat pertanyaan, "Kemana hijabmu?" Kadang kujawab dengan, "Di rumah." atau kadang sambil nyengir kujawab jujur, "Sudah dipakai kucing tidur." atau kadang Bapak yang jawab, "Paling isih ning lemari, opo wis diguang?" Lalu kadang ada yang menyempatkan waktu untuk memberi petuah Bapak kalau anak gadis satu-satunya ini perlu dijaga sedemikian rupa supaya bisa masuk surga. Beberapa kawanku juga mengajukan pertanyaan serupa dengan nada khawatir. Kalau sedang ada waktu untuk mengobrol banyak, aku akan ceritakan persis seperti yang aku tulis disini. Bahwa niatku mengenakan hijab sejak awal bukanlah niat yang paling baik yang bisa dibuat oleh seorang ukhti. Kali ini, aku berniat mengenakan pakaian untuk melindungi diri dan mensyukuri apapun yang sudah diciptakan sebagai diriku.

Alasan lain aku mengubah gaya berpakaianku adalah karena beberapa tahun belakangan ini aku semakin berisi. Akhirnya setelah penantian dan usaha bertahun-tahun makan lalu tidur, berat badanku mencapai berat badan ideal yang sudah kuimpikan sejak-entah-kapan-aku-sampai-lupa. Akhirnya, aku bisa berkata bahwa aku butuh baju baru karena baju-baju lamaku sudah sempit. Akhirnya juga, ada beberapa orang yang bilang, "Sekar sekarang jadi gemuk ya!" lalu dengan bahagia akan kujawab bahwa aku membeli makanan yang semakin enak karena sudah punya dompet tebal. Padahal rahasianya adalah makan sehari lima kali dan setiap makan berat langsung tidur dan diantara makan berat harus diselingi nyemil cemilan setoples. Juga makan bubur nasi sisa orang serumah setiap tengah malam. Itu sangat membantu.

bagaimana aku mengubah seleraku

Karenanya aku jadi menyukai memakai dress yang agak panjang, tapi masih tanggung. Lalu karena canggung juga pakai yang demikian itu, aku membeli dress overall panjang. Kalau sedang keluar dengan agak niat, aku juga memilih memakai dress-dress berbahan kaos lalu memasangkannya dengan rok panjang. Atau kemeja dengan rok, atau baju lengan panjang dengan rok panjang, atau dress tanggung dengan celana jeans.

Secara aktif, aku memakai total 24 potong pakaian. Diantara semuanya itu, sampai hari ini belum ada yang kubuat dengan tanganku sendiri. Meskipun aku memang sedang belajar menjahit tahun ini, aku masih belum bisa mengenakan hasil jahitanku sendiri. Hanya sekali kukenakan untuk foto, lalu sudah. Kebanyakan malah kugunakan untuk isi kain lain yang kupakai sebagai bantal. Dari 24 potong itu, ada 7 yang merupakan lungsuran orang lain yang sudah aku punyai, 5 potong yang kubeli dalam kondisi baru, dan selainnya adalah hasil aku belanja thrift. Baju-baju lainnya, aku tinggal di rumah. rencananya aku ingin belajar membuat hal-hal lain lagi dengan baju-baju tersebut, karena sekarang gaya berpakaianku juga sudah ganti.

Dulu aku sering terjerat rok sekolahku sendiri karena panjang dan bikin susah jalan. Sekarang, aku bisa lumayan paham rok seperti apa yang membuatku susah jalan itu. Aku lebih suka dress dan rok dengan potongan minimal half circle karena tidak membatasi ruang gerakku dan bisa membagi wilayah badan atas dan bawahku dengan jelas. Jadi kalau butuh, aku tinggal berkreasi dengan badan bagian atasku saja. Kadang kubiarkan satu setel saja sebagai dress one piece, kadang layering dengan atasan lain, kadang dipadukan dengan jaket saja sudah bisa beda banget looknya.

Sejauh ini, baru itu pengetahuan akan selera per-baju-an-ku. Sampai saat ini, aku bahkan masih bingung mau membuat baju yang model bagaimana, karena seminimal 24 potong baju yang kupunya itulah pengetahuanku tentang model-model baju. Setelanku dulu juga paling banter layering kaos apapun yang ada dengan outer batik yang dibawahi dengan celana apapun yang sudah kering. Aku masih perlu belajar banyak untuk bisa menginginkan sesuatu untuk diriku sendiri.

langkah apa yang sudah aku ambil

Akhir-akhir ini, aku berpikir bahwa dress adalah atasan dan rok yang dijahit jadi satu. Mau atasan dengan bentuk lengan dan lubang leher bagaimanapun, kalau rok yang membawahinya bisa membebaskanku bergerak se-reog mungkin, aku akan menyukainya. Beberapa waktu lalu aku berhasil membuat sepotong rok dengan sekali sobek dan lima jam menjahit tangan saja. Bentuk dasarnya sederhana: dua persegi selebar 1,5 meter dan setinggi satu meter kurang yang dijahit menjadi sebentuk sarung. Sangat sederhana. Aku suka dengan bentuk roknya, karena sangat megar dan ber-ruang sekali. Kalau bentuk rok seperti ini bisa kujahit dengan atasan berbentuk kemeja sederhana misalnya, itu sudah jadi dress satu-satunya di dunia. Atau atasannya berbentuk blus sederhana.

Sayangnya, oh sayangnya. Aku masih berusaha (dengan agak malas) mempelajari bentuk-bentuk atasan. Aku masih lebih suka membuat rok saja. Karena atasan perlu menghitung banyak hal; kemiringan bahu, kedalaman lubang leher sekaligus kelebaran lubang kepala, kelengkungan lubang lengan, kepanjangan lengan, dan kepanjangan atasan yang tepat untuk masing-masing model dress atau atasan. Aku bahkan menyerah berkali-kali setelah mencoba membuat sketsa gambar pola atasan sederhana. Buatku, pelajaran itu masih agak sulit kucerna sendirian.

Tapi beginilah memang proses belajar. Apalagi aku belajar membuat baju ini hanya berbekal video youtube dan nekat saja.

Sayangnya, kain-kain yang kupakai sebagai eksperimen ini yang sangat berharga. Memang untuk hitungan belajar menjahit aku baru mengeluarkan sepeser saja, tapi melihat kain yang awalnya cantik-cantik itu tergeletak pasrah kujadikan bantal, agak sedih juga ternyata. Barulah aku memutuskan untuk mencoba lagi dengan membuat baju-baju berukuran kecil dahulu. Aku tidak pernah main boneka saat kecil, jadi aku tidak tahu bagaimana ukuran boneka yang umum. Jadi aku menggunakan metode yang lebih dewasa dan saintifik: membuatnya dalam rasio. Mungkin ½ atau ¼ dari ukuranku yang sebenarnya? Entahlah, nanti dipikir lagi yah. Intinya akan kubuat prototipenya dulu sebelum beneran membuat baju yang bisa kucoba di tubuhku sendiri.

Kenapa nggak dari dulu begitu?

Namanya juga nekat saja kwkwkwkwkw mana nggak punya kurikulum yang jelas pula pelajaran yang satu ini tuh. Jadi…… yah, tolong dimaklumi.

pelajaran apa yang bisa kubagikan sepanjang langkah tersebut

Bentar mau lihat berapa kata yang ada di tulisan ngawur ini. Selamat! Kamu sudah membaca 2500 kata dari tulisan aneh ini.

Sepanjang itu, pelajaran yang bisa diambil adalah:

Aku menulis ini separuhnya sambil beristirahat dari kerjaanku yang lumayan banyak akhir-akhir ini. Hari ini aku hanya berada di dalam kamar kos saja sambil menyalakan kipas angin pandaku. Tapi aku memutuskan untuk memakai make-up dan baju yang paling kusukai hari ini. Ternyata seru juga.

Baiklah, sekian saja, aku akhirnya (mungkin) akan keluar mencari daging untuk kumasak bersama sawi dan wortel untuk makan malam. Semoga dapat. Kalau tidak pun aku mungkin akan beli mie goreng yang akan kurebus.

Semoga makan malam semua orang lezat hari ini!

Salam,

Sekar💐👗

Postingan ini diedit 3 hari, 22 jam yang lalu.

|

#buah-pikir