sekar πŸ’

Pantai # 5

Tanggal 11 Mei kemarin, aku bersama seorang temanku memutuskan untuk pergi ke Pantai Drini. Kami berdua naik Angkutan KSPN dari Gembira Loka sampai Pantai Drini dengan biaya Rp28.000 untuk tiket dan tambahan biaya retribusi sebesar Rp15.000 per orang. Aku memesan tiketnya tanggal 9 melalui Traveloka. Sebelumnya, aku berniat berangkat pada tanggal 10, tapi saat memesan lewat orang dalam (sopir KSPN kenalan) ternyata sudah full booked satu hari itu. Juga karena kebetulan temanku bisa WFA hari Senin, jadi dia menyetujui untuk berangkat tanggal 11.

Proses pemesanan tiket sampai berangkat lumayan mulus menurutku, meskipun aku harus menginisiasi chat dengan admin Sinar Jaya untuk konfirmasi titik naik sehari sebelumnya. Setidaknya, adminnya baik dan aku berhasil naik dari titik yang aku inginkan.

Dari cerita-cerita sopir-sopir yang aku ajak ngobrol, memang jalur ke pantai itu lumayan sering penuh karena tidak banyak armada yang mengisinya. Saranku, kalau ada yang ingin mengunjungi Pantai Drini dari Malioboro, memang harus memesan tiket sehari dua hari sebelumnya. Apalagi kalau ingin kesana akhir pekan atau hari-hari ramai. Juga kusarankan untuk pesan tiket pulang sekaligus kalau hanya ingin berkunjung seharian saja.

Aku dan temanku pesan tiket berangkat paling pagi, berangkat dari titik awal jalur pukul 07.30 pagi dan aku naik dari titik yang kuinginkan kurang lebih pukul 8 pagi. Retribusi masuk pantainya dibayarkan ke sopir karena belum termasuk dalam pembelian di Traveloka. Untuk tiket pulang, murni hanya Rp28.000 saja. Aku dan temanku membeli tiket paling sore yang memungkinkan. Berangkat dari Drini Park pukul 4 sore tepat.

Jalur angkutan KSPN ini lumayan fleksibel tempat naik turunnya. Asalkan dilewati jalur tersebut, bisa naik dan turun dimana saja. Harga tiket yang dibayarkan juga sama saja, kok. Jalur ini juga melewati Pantai Baron, jadi kalau ada yang lebih suka ke Pantai Baron, bisa minta turun disana ke Pak Sopir.

Sebenarnya aku berniat akan ke pantai sudah sejak tahun lalu. Aku belum pernah ke pantai atas keinginanku sendiri. Baru kali ini aku ingin dan memutuskan untuk pergi. Pantai pertamaku adalah saat TK/SD(?) entah aku agak lupa. Yang jelas dulu aku pernah ke pantai bersama teman-teman sekolah. Setelahnya, aku ke pantai lagi saat jadi mahasiswa baru. Dulu ada praktikum Ilmu Tanah yang mengajak mahasiswanya mengamati tanah-tanah di Jogja. Destinasi terakhir tanah yang harus diamati adalah tanah pasir Pantai Drini.

Pantai #2

Aku dan seorang temanku (yang btw dia keren banget sekarang), waktu itu menghabiskan banyak waktu bermain ombak sendirian saat teman-teman lain berfoto dengan masing-masing departemennya. Aku nggak ikut foto satu departemen hehehe. Tapi aku beli salah satu hasil jepretan fotografer pantai kala itu dan menyimpannya sampai sekarang. Seingatku ada foto lain aku dengan temanku itu, tapi entah dimana file-nya aku lupa. Tinggal ini saja karena foto ini aku simpan lama sebagai profil Line kalau tidak salah. Aku membeli foto ini karena benar-benar candid dan aku suka dengan nggak-terlalu-kelihatan-kalau-itu-aku-nya.

Ya, begitulah aku berpakaian dulu. Kerudung merah menyala dengan korsa warna coklat (yang btw itu warnanya mirip dengan jurusannya fguv dan adikku wkkwwkwk) dan celana kain. Dulu sepatu kesukaanku adalah sepatu plastik warna coklat seharga 20 ribu-an. Sama sekali nggak nyambung. Tapi sejak dulu aku memang hanya pakai baju seadanya saja. Kadang aku pakai kerudung hijau daun nggak jelas lalu berkemeja pink dan bercelana bahan abu-abu mirip anak sekolah wkwkw Sama sekali nggak nyambung dan bajuku juga itu-itu saja. Setelan di foto itu bahkan adalah setelan yang paling normal yang aku pakai.

Pantai ketigaku bersama fguv saat aku sedang burnout kerjaan dan skripsi. Kebetulan dia sedang penelitian disekitar sana dan aku diijinkan untuk menginvasi kamar kosnya. Suatu sore, dia mengajak ke pantai dan kami berdua hanya duduk dan memandang air. Dia sambil sebat sih, aku kayaknya minum es teh. Aku kurang tahu apa tempat itu masih termasuk Pantai Congot, tapi sepertinya itu nama pantainya. Aku berangkat kesana tanpa berpikir kalau disana dekat pantai dan ingin kesana. Waktu itu aku pergi hanya karena aku ingin menjauh sejenak dari kerjaan dan ngobrol dengan orang beneran. Dan satu-satunya orang beneran yang terlintas di benakku waktu itu adalah fguv. Jadi, aku merepotkan dia dengan menumpang tidur dan sebagainya.

Aku pulang dari sana dengan perasaan..... lebih burnout sampai-sampai secara fisik harus ditarik mundur dari layar PC kerjaku. Kalau diingat-ingat lagi, entah kenapa aku sampai sebegitunya mengusahakan sesuatu yang bahkan bukan kewajibanku. Kala itu, prioritasku adalah tidak menyakiti diriku sendiri. Jadi, aku kabur sejauh mungkin. Sudah begitupun aku masih merasa terikat.

Sampai pantai keempatku bersama seorang kawan lain. Dia tiba-tiba saja mengajakku ke pantai pukul 3 sore. Dia mengendarai mobil sewaan dan beralasan ingin melihat sunset di spot viral. Alasan lainnya adalah aku tidak bisa masuk ke website ujian BUMN. Padahal aku biasa saja, bahkan tidak merasakan apapun karena aku daftar seleksi BUMN juga untuk mengisi waktu dan iseng-iseng saja. Tapi entah apa yang sampai ke telinga kawan itu sampai-sampai berusaha menghiburku.

Perjalanan ke pantai Glagah tidak berlangsung mulus sama sekali. Sampai sana pun matahari sudah sepenuhnya tenggelam dan air laut sudah terlihat sekali naiknya. Spot viral yang dia lihat di TikTok pun sama sekali tidak terlihat. Satu-satunya hal berharga yang aku dapatkan dari perjalanan itu adalah pesan dari entah siapa itu kalau aku tidak boleh menapaki jalan yang diambil oleh kawanku itu. Aku dipaksa untuk duduk kembali di tempatku berada.

Pantai #4

Foto ini diambil oleh kawanku itu saat aku sangat bahagia akhirnya bisa pergi dari sana setelah kawanku selesai dengan keinginan sesungguhnya di pantai itu. Katanya, aku terlihat sangat bahagia dan berbeda dari aku yang ada di rumah. Kala itu, aku memang juga burnout karena kerjaan. Untung skripsi sudah kuselesaikan.

Waktu itu, aku sudah mulai lebih sering pakai dress waktu di rumah. Jadi, aku memakai dress yang aku pakai saat kawanku itu tetiba mengajak pergi dan aku sopankan dengan mengenakan celana jeans panjang. Tapi kemudian aku lepas celananya atas saran dari kawanku itu. Kala itu aku membawa mie goreng sebagai makan malam. Kami makan mie goreng itu di parkiran. Kawan itu, pada akhirnya mengajarkanku untuk secukupnya saja menyayangi dan membantu orang lain. Dia juga memberiku patah hati yang nyaris sama besarnya dengan kesedihan yang diterima Bapak dari kawannya. Aku bersyukur bisa mengalami patah hati itu diusia yang masih 20-an. Bapakku harus menghadapi kesedihannya bersama kewajiban-kewajibannya sebagai manusia berusia 50-an.

Pantai terakhir itu, benar-benar gelap yang membahagiakan buatku.

Sejauh itu, aku belum pernah merencanakan pergi ke pantai atau ke tempat-tempat lain karena aku ingin. Aku menuju ke suatu tempat kebanyakan karena sisan alias sekalian. Sekalian, karena mau ke tempat A. Sekalian mampir, mumpung ada disini.

Pantai Drini kali ini adalah pantai kelimaku. Tempat pertama yang benar-benar ingin aku kunjungi karena keinginanku sendiri. Tanpa intensi apapun (seperti mencari kos atau lainnya). Aku hanya ingin kesini. Entah apa yang aku temukan disini. Pengalamanku dengan empat pantai lainnya, akan selalu ada air, pasir, dan manusia lain. Setidaknya, aku bisa menikmati manusia lain kalau dua yang lain tidak bisa aku nikmati.

Aku bersyukur karena temanku ini mau menemaniku dalam perjalanan kali ini. Dia mengorbankan banyak hal untuk bisa sampai sini. Seorang teman baik lain juga bersedia aku gaslight untuk tinggal sampai sore bersamaku disini. Hari itu, aku mendapatkan matahari, air, pasir, manusia lain, dua teman baik, banyak foto-foto, lebih banyak cerita, satu puncak, dan satu bunga kamboja berkelopak sepuluh.

Saat perjalanan berangkat, aku sedikit menangis. Satu kalimat yang terngiang-ngiang bersama salah satu album Adele yang membuatku menangis adalah:

I just don't want to hate her.

Semoga penumpang di sebelahku waktu itu tidak sadar kalau aku menangis heheheheehehehehehehehehheehheheheheheheheehheehe

Temanku sepertinya tidak sadar sih. Dia juga terkantuk-kantuk waktu itu, jadi mungkin dia memang tidak sadar. Semoga.

Sampai pulang pun dia tidak bertanya, jadi aku aman saja.

Pantai #5

Pantai kelima ini, aku sudah mencapai berat badan yang aku cita-citakan di pantai keduaku. Aku juga sudah melepaskan kawan yang membawa pantai gelap itu. Aku juga sudah tidak seterikat seperti pantaiku bersama fguv. Aku jelas sudah bertumbuh banyak. Eeeehhh.... tapi mungkin sama sekali tidak tambah tinggi wkwkwkkw

Yang jelas, pantai kali ini cerah dan menyegarkan.

Bonus fotoku dengan rok yang kubuat dalam waktu 5 jam

Bonus fotoku dengan rok yang aku buat dalam waktu 5 jam sebelum berangkat ke pantai hari itu. Tentu saja aku buat karena bingung mau ngapain dan ada kain bahan, jadi aku menjahit tangan wrap skirt ini. Hehehehe

Postingan ini diedit 6Β menit yang lalu.

|

#buah-pikir