sekar πŸ’

Pergi untuk Pulang

Hari ini (Senin) berawal dengan mengakhiri kemarin-ku yang masih bertahan berkat Jakarta Selintas Aram yang kupinjam dari perpustakaan daerah. Selesai buku itu pada pukul 2 pagi, tepat saat jam kerjaku selesai untuk minggu kemarin. Langsung terlelap, bangun-bangun sudah menjelang pukul 7 pagi.

Biasanya, hari Senin aku akan tidur minimal sampai pukul 10 pagi. Kali ini, aku perlu beberes secepatnya. Kalau bisa pukul 9 selesai. Menyarap dengan nasi sisa kemarin dan setengah dari ayam utuh. Dada ayam teksturnya mirip kertas. Untungnya ayam Harapan Rakyat ini lumayan berbumbu dan sambelnya lumayan nendang, jadi setidaknya aku makan tekstur kertas berasa sambel. Minum air seminimal mungkin agar tetap bisa minum sampai setelah beberes.

Pukul 10, semuanya baru selesai. Pukul 10:10, aku sudah berjalan cepat dan berusaha mengingat-ingat salon depan perpus, apakah masih buka atau sudah tutup. Sepanjang jalan, disapa pejalan kaki lainnya (hanya Bapak-nya yang menyapa, Ibu-nya njaprut dan sedikit protes, mungkin karena si Bapak berbalas sapa denganku, semoga tidak), seorang penjaja termos dengan beberapa Ibu-Ibu yang sedang menghitung cicilan termos, sopir pick up yang sedang menunggu muatannya dibongkar, seorang tukang parkir warung soto yang menunggu selusin mobil mewah, dan seorang penjual makanan yang sedang menuangkan air panas ke termos baru.

10:44 aku sudah bertransaksi membeli air mineral, kopi golda (kesukaanku), dan headset kabel.

11:23 Jakarta Selintas Aram dan Re: peRempuan sudah kembali ke rak buku perpustakaan. Aku juga sudah menyelesaikan satu cerita rakyat dari Batak Toba berjudul Sipiso Somalim di buku Indonesia Bercerita terbitan penerbit Alvabet. Aku tak bawa pinjam bukunya, bawaanku akan terlalu berat kali ini.

Jadi, aku pulang saat perpustakaan istirahat.

Sepanjang jalan, aku sudah menanggalkan semangat untuk merapihkan lagi potongan rambutku ini. Tapi sebelum perempatan menuju toko salad buah, aku baru sadar kalau ada salon. Jadi, aku masuk disambut dengan, "Arep dipotong opone meneh, nduk?! Wis ora ono sing iso dipotong!" dan kujawab aku mau dirapihkan saja, sambil dibuatkan poni (aku suka berponi). Lalu dikeramasi secara cepat karena aku bilang mau ketemuan denga teman. Disemburkan pula makarizo amber wood mungkin supaya bau keringatku tersamarkan, atau memang begitulah rutinitas Ibu Pemotong Rambut.

Lalu keluar dari salon dengan dilihatin seorang pengendara motor. Sepertinya beliau agak kaget dengan keimutan diriku ini hihihihihihi

Lanjut beli salad buah. Beli yang gede. Aku lapar.

Sampai kos, kebelet berak. Tapi lapar.

Jadi aku makan dulu sisa sepotong ayam dan setengah nasi dengan sambel pakai sendok salad buah. Tentu saja dilanjutkan dengan makan salad buah dengan sendok yang sama. Setidaknya sampai tiga potong anggur habis, rasanya jadi salad buah mayo pedas. Enak.

Tapi masih kebelet berak. Setidaknya sudah kenyang dan makan buah.

Lalu aku berak sedikit sambil menggosok pantat ember.

Kuurungkan mengopi golda dulu karena kawanku sudah sampai terminal. Aku harus menemui dia kali ini. Jadi, pesan gojek yang langsung datang dan langsung berangkat. Sepanjang perjalanan bersama Bapak Gojek ini, ada seekor kucing hitam ngah ngoh yang tak mau menyingkir dari tengah jalan. Dia cuma 😢 aja. Aku dan Bapak Gojek menertawakannya. Juga ada seorang pemuda dengan raut muka yang sama persis: 😢 berdiri di tengah jalan saat lampu hijau. Untung Bapak Gojek tidak terlalu tergesa jadi beliau menghentikan laju motornya dan menunggu pemuda itu berjalan pelan menyeberangi pengendara lain yang mengumpatnya. Aku dan Bapak Gojek kembali menertawakannya. Kali ini, tidak senyaring sebelumnya. Beliau berpendapat bahwa mungkin pemuda itu agak linglung. Perjalanan berlanjut dengan cepat tapi tetap hati-hati.

Sampai terminal Giwangan, aku menitipkan barang bawaanku ke seorang Ibu Penjaja Makanan di kantin terminal. Lalu menemui dan membantu kawanku dengan barang bawaannya. Kami berpisah tak lama kemudian setelah ia dihampiri pengendara ojek online yang dipesan.

Aku kembali ke warung Ibu Penjaja Makanan dan disambut dengan, "Udah, Mbak?" Dari si Ibu dan "Ngeteh, Mbak?" Dari Petugas Terminal yang sedang membuat es kopi prasmanan. Aku mengiyakan ngetehnya dengan minta dicemplungin es. Setidaknya setelah merepotkan Ibu Penjaja Makanan, aku ingin membalasnya dengan berkontribusi meramaikan warungnya. Es teh datang dengan cepat dan seorang Bapak Berpiring Siomay duduk di depanku. Kami ngobrol sebentar setelah beliau memastikan nomor lotre yang keluar kemarin malam ke Petugas Terminal. Beliau berdua sepertinya kalah. Tapi dari Bapak Berpiring Siomay, aku dapat tips untuk membawa diriku sampai tujuan dengan bus yang mungkin hanya akan berdiam disana sepanjang satu lagu, "Siapkan aja uang pas, nggak usah tanya harga berapa, kasih 15 aja langsung bilang mau kemana." Belum selesai siomay di piring si Bapak, bus yang dimaksud datang dan aku bergegas memasukinya. Tentu saja setelah meninggalkan setengah gelas es teh (ini pertama kalinya aku tak menghabiskan es teh) dan membayar ke Ibu Penjaja Makanan yang baik hati dan mendoakan agar dagangan Bapak Berpiring Siomay laris.

Benar saja, belum ada habis satu lagu di daftar putarku, bus langsung berangkat.

Aku adalah penumpang pertama, nyaris menjadi satu-satunya penumpang. Untung ada seorang lain yang tergesa ikut.

Sudah setengah perjalanan baru kenek menarik uang. Sebisa mungkin aku berlagak sudah biasa naik dan memberi uang pas seperti tips dari Bapak Berpiring Siomay. Aku dapat seulas senyum dari Pak Kenek (tak biasa, biasanya aku dapat tarikan uang lebih daripada yang kuberi). Aku juga membalas senyumnya dengan cengiran menyeramkan.

Sampai di terminal Jombor, bus ngetem lama. Sampai terbaca 148 halaman Re: peRempuan di perpustakaan digital, bus baru berangkat lagi. Pelan-pelan sampai ke tujuan. Mungkin masih berharap ada penumpang yang naik sepanjang perjalanan ini.

Aku turun diiringi usulan-usulan menarik tentang bagaimana cara menghukum koruptor dari Bapak-Bapak penghuni kepala bus. Terdiri dari Pak Sopir, Pak Kenek, Pak Penumpang Kedua, Mbah berhoodie dan berpeci, Pak Berambut Putih, dan Pak Pengamen. Berikut beberapa usulan yang aku ingat sampai sekarang:

Sebenarnya masih banyak ide-ide menarik dari sana. Tapi, aku keburu lupa dan aku tak ikuti perbincangan panas di kepala bus ini sejak awal. Jadi, sepotong saran itu saja yang bisa kuabadikan.

Aku pulang disambut kabar bahwa kucing di rumahku (namanya Bocil) barusan melahirkan (sehingga menjadi Mbokcil). Dia beranjak dari tempat lahiran anaknya petang hari dan makan cepat lalu berak lalu makan lagi lalu pergi menemani adikku panen pesanan untuk diantar besok pagi.

Aku ditinggalkan dengan keadaan bau dan ngantuk dan berkeringat dan punya banyak cerita. Jadi, aku bercerita tumpah ruah ke Ibu sambil menunggu satu ceret air mendidih untukku mandi.

Tapi aku berak juga sih sebelum mandi.

Lalu makan mie pedes Singaporean Laksa (rasanya aneh tapi masih oke) dan mencuri beberapa teguk kopi adikku yang sedang sibuk (hehehehrhrhe) juga makan keju beberapa sendok.

Lalu tidur setelah mengurus piutang.

What a day.


Sampai hari ini (Sabtu), koperku masih kudiamkan di tempat terakhir aku membukanya. Hari Senin itu aku sama sekali tidak menyentuh pekerjaan. Jadi, aku kejar kerjaan-kerjaan yang ganti mengejarku sepanjang minggu ini. Entah kapan selesainya, setidaknya aku sudah ada di rumah dan sedang membuat bunga-bunga.

Ada banyak hal yang ingin aku selesaikan sejak lama dan baru terselesaikan pada Senin itu. Awalnya aku tidak menyangka aku bisa secara tiba-tiba menyelesaikan banyak hal hari itu. Bahkan sampai sekarang aku baca ulang runtutan kejadian hari itu, aku masih sangat tidak percaya. Bagaimana bisa banyak hal selesai hanya dalam satu hari?

Tujuanku mengunggah jurnalku kali ini adalah supaya kelak aku ingat bahwa menyelesaikan banyak hal tidak perlu waktu yang sama banyaknya. Bisa jadi hanya dengan mengembalikan buku, membeli salad buah, menggosok pantat ember, dan meninggalkan setengah gelas es teh yang dilakukan dalam satu hari. Tentu saja, perasaan berat hati masih ada sampai sepekan kemudian. Tapi setidaknya, ada kepastian bahwa terbuka ruang lebih untuk memulai hal baru.

Semoga tulisan ini jadi pengingat bahwa banyak hal penting yang selesai dengan cara yang paling tidak penting yang pernah terpikirkan. Misalnya saja, hari itu aku belajar bahwa pertemanan bisa selesai dengan cara menggosok pantat ember sambil berak. Lucu sekali.

Hehehe

Selamat tengah hari,

SekarπŸ’πŸ€

Postingan ini diedit 12Β menit yang lalu.

|

#buah-pikir