Menjadi Gila: Ruang Antara para Manusia
Siklus hidup manusia biasa berawal dari kandungan Bunda. Kemudian lahir, diharapkan sehat dan tumbuh dengan biasa. Bisa bicara, berjalan, dan menjadi dirinya sendiri. Mungkin bermimpi setinggi yang bisa ia lihat, atau meminjam mimpi-mimpi orang tuanya.
Rumah dan sekitarnya adalah sesuatu yang belum pernah kualami, jadi aku tidak bisa berkata banyak tentang hal ini. Beberapa hal kecil yang aku tahu adalah kadang ada teman masa kecilmu yang bisa dipangggil sewaktu-waktu. Kadang mereka adalah pelarian terakhir setelah tidak ada orang lain yang bisa diandalkan lagi. Juga mereka mau tidak mau akan merayakan banyak hal denganmu, karena rumah dan tetangganya adalah orang terdekat setelah keluarga.
Sekolah adalah satu-satunya tempat yang secara default bisa menciptakan pertemanan. Satu kelas, satu sekolah, satu kelompok, satu organisasi, bahkan satu alumni pun masih bisa menjalin pertemanan. Pertama-tama, asal ada mau saja. Mungkin awalnya tanya PR, lalu tanya jawaban ujian, lama-lama bertanya kapan rencana mau menikah. Dan mungkin akan mengajak satu sama lain menikah. Atau membuat bisnis bersama atau hal-hal lain yang sama belum pernah kualaminya.
Kemudian kuliah yang mana tidak lagi bisa disebut sekolah biasa. Karena sudah dewasa, sudah seharusnya memperjuangkan hak-hak rakyat tapi tetap harus mengingat bahwa tempat ini tidak sama dengan rakyat. Bahkan untuk bermimpi masuk kesini pun perlu banyak pengorbanan.
Bukan orang dewasa, tapi juga bukan anak-anak. Tempat ini seperti jembatan yang hanya bisa dilewati oleh orang-orang tertentu saja.
Ada lebih banyak orang yang tidak melewati jembatan ini. Mereka lebih memilih melompat dari masa anak-anak menjadi dewasa, kadang berhasil, mungkin jauh lebih berhasil, kadang sama sekali tidak berhasil.
Kuliah adalah hal mewah yang bisa dimiliki oleh pemegang informasi.
Pekerjaan yang biasa juga bisa jadi tempat membuat koneksi pertemanan. Tapi ada banyak jenis pekerjaan di dunia ini. Salah satu diantaranya adalah pekerjaan yang memungkinkan orang tidak bertemu dengan orang lain sama sekali.
Sekarang, pekerjaan seperti itu sudah biasa sekali, terima kasih kepada pandemi tentu saja.
Sisi baiknya, banyak orang yang bisa mendapatkan kemewahan berupa waktu yang lebih banyak. Sisi buruknya, waktu-waktu itu kadang terbuang sia-sia karena tidak ada orang lain yang bisa diajak menghabiskannya bersama.
Third Place. Katanya tempat ini baru-baru ini saja ada. Misalnya kafe, bar, taman, dan lain sebagainya. Setidaknya di Indonesia, untuk masuk ke tempat-tempat seperti ini seseorang harus punya bentuk tersendiri. Misalnya pecinta kopi atau teh atau dessert, peminum alkohol atau seorang yang suka menari, atau pecinta alam, pengendara sepatu roda, pejalan kaki, pelari, atau hal-hal lainnya.
Kamu tidak bisa menapaki tempat-tempat ini tanpa memperkenalkan dirimu sebagai orang lain. Kamu tidak bisa berhenti dengan namamu saja. "Perkenalkan, aku Sekar." dan orang masih akan menunggu apa yang kamu lakukan, apa yang kamu sukai, apa yang bisa kamu tawarkan. Perkenalan di tempat-tempat ini umumnya adalah, "Perkenalkan, aku Sekar. Aku suka kopi robusta dan membaca buku klasik dan filosofi." atau "Perkenalkan, aku Sekar. Track jalan cepatku sudah ada di 45 negara dan 101 kota." atau semacamnya, yang mana belum pernah aku ketahui. Atau bisa jadi tanpa berkenalan pun bisa langsung masuk, asal dompetmu terisi minimal selembar dua lembar rupiah yang mau dan mampu dikeluarkan. Selembar merah, ditukar dengan seharian di bangku dan ketersediaan colokan.
Tempat-tempat ini butuh modal yang lumayan bisa ditanggung daripada kuliah. Kamu bisa mendedikasikan waktumu untuk melakukan atau menyukai sesuatu, dan biasanya kamu akan dengan mudah diterima di tempat-tempat ini. Orang-orang dengan kecenderungan specialist biasanya jauh lebih mudah diterima di tempat-tempat ini dan bisa menguasai pengetahuan atau skill yang dibutuhkan disini. Orang-orang dengan kecenderungan generalist mungkin hanya akan mengikuti kegiatan dasar saja, tapi punya banyak tempat yang bisa didatangi.
Untukku yang hanya punya waktu tanpa dukungan finansial, awalnya aku mengira bisa dengan mudah memasuki tempat-tempat ini. Tapi begitu mengintip sedikit, aku sadar bahwa aku tetap harus punya isi dompet untuk bisa bertahan disini. Misalnya komunitas merajut, aku sudah bisa merajut dan menyukai hal-hal tentang merajut. Tapi untuk bisa mengikuti kegiatan-kegiatan komunitas, setidaknya aku harus punya beberapa rupiah untuk mengikuti workshop atau acara tertentu.
Sebenarnya, bisa saja aku ikut kegiatan yang dilabeli dengan kata "gratis". Tapi tetap saja ongkos menuju ke tempat itu perlu diperhitungkan. Belum lagi biasanya mau segratis apapun kegiatannya, tetap minimal harus beli satu kursi untuk bisa duduk dengan nyaman.
Sebenarnya, dimana orang-orang bertemu?
Beberapa hari ini, aku menanyakan hal tersebut ke diriku sendiri.
Berhubung aku belum pernah punya rumah dan pekerjaan yang memungkinkan untuk bertemu orang lain, aku belum pernah punya kesempatan untuk membuat koneksi seperti yang kulihat lewat layar. Misalnya teman masa kecil atau teman baru semasa bekerja, dan lain sebagainya. Pertemanan paling mentok yang bisa kupertahankan adalah hubungan pertemanan sejak sekolah hingga jauh setelah lulus sekolah saja. Itupun hanya beberapa. Dan semakin kesini, semakin semu penghubung antara aku dan teman-temanku itu.
Tapi sejak dulu entah kenapa aku tahu dan menyimpulkan bahwa aku lebih nyaman punya sedikit teman. Aku melihat bagaimana Bapak punya teman di setiap daerah dan bagaimana beliau berkali-kali disakiti sampai beliau bilang sudah habis air matanya. Aku baru tahu maksud perkataan beliau itu.
Lebih baik menjadi gila daripada mendengarkan alasan-alasan asal.
Lebih baik menjadi gila daripada harus menjelaskan sampai berbusa-busa berujung sia-sia.
Itu keputusan yang Bapak ambil. Kalaupun masih ada satu atau dua teman yang kembali setelah entah ada dimana, lalu menyakiti beliau lagi, beliau hanya membiarkannya sampai mereka sendiri bosan. Toh, orang gila mana yang mau mengganggu orang gila lain?
Jadi, aku mungkin akan mengambil jalan serupa.
Lebih baik dikata gila daripada harus menjelaskan satu per satu. Lebih baik dikata anti sosial1 daripada diriku sendiri terkikis habis.
Salam,
Sekarππ«
Previous |
Pernah ada seorang kawan kuliahku yang sekali pernah sekelompok denganku dan selama masa kuliah lainnya tidak pernah berbincang denganku, suatu waktu di ring road saat pulang dari lahan praktikum mengatakan bahwa aku "terlalu anti sosial" dan menyarankanku untuk mengikuti lebih banyak organisasi di kampus dan lebih aktif di departemen. Saat itu, aku bingung harus bereaksi seperti apa, akhirnya aku minta untuk diturunkan di tengah jalan dengan alasan masih ada acara lain. Aku pengen bilang ini ke dia: Hei, Man! Bersyukurlah kamu punya banyak waktu dan dompet yang mencukupi untuk bisa lebih banyak ikut organisasi dan aktif di departemen. Aku juga turut bersyukur karenanya, berkatmu yang kecukupan itu, setidaknya aku bisa mencukupkan diri dengan jatah yang diberikan. Tapi sayang seribu sayang, jatah itu tidak cukup banyak untuk bisa kuhamburkan seperti itu. Semoga hidupmu masih bahkan lebih nyaman dibanding terakhir kali kita bertemu.↩