sekar ๐Ÿ’

Rumah; House, Home, Rumah

Saat mahasiswa baru, aku memperkenalkan diri sebagai Taylor Swift. Aku tidak terlalu cocok dengan lagu Taylor Swift, aku juga kurang tahu kehidupannya, intinya aku tidak terlalu nge-fans dengan Taylor Swift. Kala itu aku hanya ingat Taylor Swift karena aku barusan baca kalau dia adalah sahabat Ed Sheeran yang sangat platonik. Sekadar untuk bercanda saja dan setidaknya kuharap ada satu orang yang mengingatku sebagai anak gila yang ngaku-ngaku Taylor Swift.

Kebiasaan itu aku dapatkan dari gen Bapakku. Beliau suka membuat kesan pertama unik saat bertemu orang baru.

Akhir-akhir ini, berikut percakapan yang beliau sukai:

Orang Asing: Orang sekitar sini, Pak?

Bapak: Baru pindah saya.

Orang Asing: Memang rumahnya mana?

Bapak: Oh, saya nggak punya rumah.

Heheheheheheheheeheheheheheheheheheehehehe

Sependek aku hidup di dunia bersama beliau, kami memang belum pernah punya rumah. Bapak memang punya rumah warisan, tapi beliau enggan menempatinya. Sepertinya juga tidak berniat untuk diwariskan ke anak-anaknya (yang mana aku sangat bersyukur karenanya). Apalagi sekarang, kami tinggal di "rumah" yang bahkan tidak memenuhi syarat untuk dibebani pajak. Seorang teman lama Bapak menyebut rumah kami sebagai rumah permen.

Sebenarnya, rumah seperti itu adalah rumah yang ingin aku tinggali sejak dulu. Dibuat dari bambu atau kayu, tidak punya pintu dan jendela, nyaris tidak punya ruangan, dan ada di dekat lahan pertanian, kalau perlu jadi satu dengan lahan pertanian. Orang lain mungkin menyebutnya sebagai gubuk. Karena satu dan lain hal, dua tahun lalu Bapak membuat gubuk itu berbekal pengetahuan minim tentang bangunan. Dibantu oleh beberapa orang dan adik-adikku, gubuk itu jadi rumah.

Aku tidak ikut membantu membangunnya, kala itu tugasku adalah mengamankan sesuatu dan melindungi diri. Saat pulang, aku selalu bahagia hanya dengan melihat rumah itu dari kejauhan. Karena dari bentuknya saja sudah mirip dengan apa yang aku inginkan. Padahal, aku tidak menyumbang ide atau apapun dalam proses pembuatannya. Sampai sekarang juga Bapak tidak tahu kalau bangunan yang beliau buat dengan nyaris asal-asalan itu adalah bentuk rumah yang aku impikan.

Sebelum membangun rumah itu, kami sekeluarga berpindah-pindah mengontrak dari satu rumah ke rumah lain. Sependek ingatanku, masa kontrak paling panjang adalah sejak aku SMA kelas 1 sampai aku kuliah semester 7. Banyak rumah yang hanya satu atau dua tahun kami tinggali. Apalagi saat aku masih kecil.

Karenanya, aku sangat terbiasa dengan kata pindah rumah dan pindah sekolah. Aku hanya ikut TK kecil karena bosan dengan satu tambah satu, lalu masuk SD dengan pengalaman minim; bahkan tidak tahu kalau dalam satu tahun ada 12 bulan, kukira hanya ada bulan sabit dan purnama saja. Kelas satu sampai kelas tiga SD aku ada di sekolah A, bersaing dengan beberapa teman dan bertengkar perkara ranking lima. Kelas empat aku ada di sekolah B, nyaris mendapat beasiswa dan ditaksir seorang kakak kelas yang menyebut rambutku mirip The Changcuters. Kelas lima aku ada di sekolah C, mendapat lima piagam lomba dan nyaris diangkat anak oleh wali kelasku. Kelas enam aku ada di sekolah D, maju lomba membaca Al-Qur'an dengan dorongan guru Agama Katolik dan lulus dengan lancar. SMP tentu saja berganti sekolah, untungnya aku masuk dan lulus di sekolah yang sama. Sebuah pengalaman baru untukku. Adikku harus berpindah sekali untuk SMP. SMA juga aku berganti sekolah, berganti lingkungan, dan lulus dari sekolah yang sama yang aku masuki. Aku masih agak canggung saat mengalaminya. Untungnya, kuliah aku masuk dan lulus di tempat yang sama juga.

Sampai disini, aku belum paham kalau gaya hidup yang demikian sebutannya adalah nomaden. Aku hanya tahu kalau mungkin semester depan aku harus berkenalan dengan 20 orang lain sambil melupakan 20 orang lainnya. Atau mungkin aku bisa bertemu dengan 20 orang yang sama dengan semester lalu. Aku tidak pernah tahu, yang jelas, aku masih menyukai perasaan punya buku tulis baru dan buku paket baru yang isinya akan selalu menarik.

Baru-baru ini saja aku mengetahui istilah nomaden itu. Aku pernah bertemu seorang kakak tingkat waktu kuliah yang saat ditanya asalnya dari mana, dia menjawab kalau dirinya nomaden. Aku masih belum paham waktu itu. Tapi aku ingat betul raut wajahnya saat percakapan itu muncul, persis seperti raut wajahku ketika ditanya hal serupa. Bingung dan nyaris tidak nyaman.

Sampai saat ini pun aku masih bingung kalau ditanya hal serupa. Aku tidak punya kampung halaman. Tempat lahirku tidak bisa jadi acuan, karena aku hanya ingat sepotong kecil kehidupanku disana. Bahkan sekarang aku sudah lupa rumah mana yang pernah kami tempati dulu. Atau mungkin sudah dirubuhkan? Entahlah.

Supaya aman, aku sering mengubah pengakuanku akan asal usulku. Kadang aku dari Jogja, kadang dari Magelang, kadang pula dari Semarang. Kalau ditanya Jogjanya mana, kadang aku dari Sleman, kadang dari Bantul, dan kadang dari Kota juga. Aku tidak sepenuhnya berbohong, karena semua tempat itu pernah aku tinggali dan aku pernah hidup besar sejenak disana. Hanya saja, perasaan memiliki sesuatu dalam waktu yang lama adalah perasaan yang asing buatku.

Mungkin karena itu, aku sendiri cenderung lebih mudah melepaskan sesuatu. Aku tidak tahu rasanya memperjuangkan tanah kelahiran atau rumah atau semacamnya. Salah satu alasannya karena gaya hidup yang nomaden itu. Alasan lainnya bisa jadi karena aku memang belum pernah terlatih untuk memiliki.

Buatku, rumah adalah tempat pulang. Tidak perlu berbentuk bangunan dengan empat sisi dinding dan atap yang menaungi. Saat tahu kata home dalam Bahasa Inggris, aku sangat suka dengan kata itu. Selain karena mudah diucapkan, rasanya begitu dekat saja denganku. Begitu paham akan konotasi home dibandingkan dengan house, aku agak bingung menggunakannya. Karena tidak ada perbedaannya dalam Bahasa Indonesia, sama-sama rumah.

I have home, but never a house.

"Oh, we've got home, we've just got nowhere to put it yet."

-- The Book You Wish Your Parents Had Read oleh Philippa Perry

Kutipan diatas adalah jawaban seorang anak pengungsi ketika sesi terapi dan si terapis berusaha bersimpati akan perasaan saat tidak memiliki rumah permanen bagi mereka. Saat aku menceritakan ulang kutipan sederhana itu ke Bapak, seharian Bapak bersenandung riang. Tidak biasanya beliau begitu, tapi hari itu Bapak terlihat sangat bahagia. Beberapa saat kemudian, aku baru tahu kalau kutipan sederhana itu yang menyebabkan Bapak begitu bahagia. Beliau menganggap ajaran yang beliau berikan ke anak-anaknya setidaknya sudah tertanam dalam pikiranku.

Karena ketidak-punyaan rumah itu, aku juga nyaris tidak punya ikatan dengan sesuatu. Beberapa barang yang sulit aku lepas adalah barang-barang yang pernah aku buat. Misalnya adalah buku jurnal yang setiap tahun aku buat dan catatan-catatan kuliah yang pernah aku tulis. Bahkan aku amat sangat mudah melepaskan ponselku yang hilang dicuri orang. Ponselku yang sekarang juga pernah nyaris hilang dan aku tidak terlalu kebingungan karenanya sampai-sampai dicurigai bukan pemiliknya. Sama halnya dengan tempat tinggal. Untukku, bentuk bangunan rumah bagaimanapun sama saja artinya. Dimanapun bangunannya, sama saja fungsinya. Sepanjang ada home disana, itulah rumahku, tempatku pulang.

Awal tahun 2026 ini, aku diusir dari rumah dengan kasih sayang oleh Bapak. Awalnya aku agak menolak untuk pergi dari rumah yang bangunannya sangat aku sukai itu. Tapi beberapa detik kemudian aku setujui dan bulan April ini aku pergi dari rumah. Tidak jauh, tapi setidaknya bisa menciptakan rindu.

Postingan ini diedit 2ย minggu, 1ย hari yang lalu.

|

#buah-pikir