Selamat Tinggal
se.la.mat
n pemberian salam mudah-mudahan dalam keadaan baik (sejahtera, sehat dan afiat, dan sebagainya)
Ketika mendapatkan sebuah "selamat", aku belum pernah merasa perlu untuk merayakannya. Dulu aku menganggap semua waktu adalah sama; aku harus selalu berusaha bertahan disana. Semua hari adalah sama menyusahkannya, begitu kukira akan selamanya.
Tahun 2024 adalah tahun paling menyenangkan secara grafik untukku. Naik turun drastis, menyenangkan kalau dinaiki. Sayangnya banyak kesempatan aku justru turun dari grafik itu, menutup diri dan berusaha terlihat baik-baik saja. Untungnya tahun 2025 aku berhasil menarik diriku sendiri untuk menaiki grafik itu lagi dengan tertawa. Kadang aku bertanya-tanya bagaimana aku bisa tertawa saat mengingat jatuhnya diriku itu. Rasanya bahkan agak menyeramkan menjadi seorang manusia yang kemarin menangisi sebuah luka kemudian hari ini menertawakan luka yang sama.
Melihat lagi bagaimana aku bertumbuh selama tahun 2025, aku sadar kalau banyak hal yang aku nekat saja lakukan. "Just fucking do it, girl!" adalah kalimat yang berulang kali aku ucapkan saat akan menemui hal-hal baru. Dengan kalimat itu aku bisa menulis di blog ini, membeli domain ini, dan yang terakhir adalah membeli device baru yang sedang aku pakai ini. Karena kalimat itu, aku bertumbuh sebagai seorang manusia. Aku juga berani merawat setengah ekor ibu kucing dan seekor anaknya.
Pagi ini, kata "selamat" itu sama tidak kurayakannya dengan selamat-selamat yang lain. Selamat kali ini aku pahami artinya dan mengamininya sebagai sebuah doa. Aku juga punya kesimpulan sendiri saat ini bahwa selamat itu memang tidak perlu dirayakan olehku. Apabila ada yang merayakan selamatnya, aku turut berbahagia, karena kukira dia merayakan doa baik semua orang kepadanya. Lain waktu, aku akan mengamini semua selamat dengan bahagia.
ting.gal
v masih tetap di tempatnya dan sebagainya; masih selalu ada (sedang yang lain sudah hilang, pergi, dan sebagainya)
Selama aku hidup, ada banyak hal yang pernah aku miliki. Banyak diantaranya aku simpan karena aku suka memilikinya. Sedikit lebih banyak diantaranya aku simpan karena aku masih membutuhkannya. Jauh lebih banyak diantaranya aku buang demi meringankan beban mobil pindahanku.
Hal paling lama yang pernah aku miliki adalah orang tuaku. Setelahnya, aku memiliki diriku sendiri. Setelahnya, aku memiliki adik-adik (yang nyebelin) sebagai mainanku dulu waktu kecil dan samsak gratis waktu besar. Kemudian, aku nyaris tidak memiliki teman yang tetap tinggal bersamaku lebih dari masa sekolah. Tapi untungnya masih ada dua manusia (yang baik hati dan menyenangkan) yang masih menyapaku selama 11 tahun belakangan ini:

Lalu ada teman-teman (special mention to Ami yang cantik dan S3 yang pintar dan Kar yang sistematis) yang mendorongku kembali menghadapi dunia.
Tentu saja, selalu ada yang aku tinggalkan. Misalnya si Cuk yang memberiku pelajaran bahwa dunia tidak bisa sepenuhnya aku percaya. Si Nduk yang memberiku pelajaran bahwa perempuan yang menyayangi dirinya sendiri tidak akan kekurangan rasa sayang dari orang lain. Tidak kalah menariknya, si Heh yang berhasil melewati masa-masa miskinnya dengan menginjak orang-orang lain dan bertengger di atas awan sendirian. Mereka (dan orang-orang lain yang tidak ingin aku sebutkan) pernah dan akan selalu ada dalam daftar orang-orang paling berpengaruh buatku. Terima kasih atas perbuatan mereka itu, aku bisa belajar banyak hal.
Dulu aku memiliki masa depan yang ingin aku tinggalkan. Sebuah keputusan tidak masuk akal buatku sekarang karena dulu aku bahkan tidak tahu seberapa menyeramkannya masa depan itu. Saat masa depan itu menjadi saat ini, yang bisa aku lakukan hanyalah tinggal. Meninggalkan rencana untuk meninggalkan masa ini. Berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri sekokoh mungkin untuk ada.
Setelah aku terbiasa untuk tetap ada, aku kemudian berani untuk belajar bertumbuh. Salah satunya adalah dengan secara tulus berani mengucapkan:
selamat tinggal
mudah-mudahan selamat bagi yang tinggal