Semoga selamat sampai tujuan
Sepotong kalimat itu yang mengurungkan niatku untuk mengakhiri yang belum kumulai. Dulu rencanaku sangat sederhana: berangkat mengambil almamater sebagai simbol bahwa kalau aku mau pasti aku bisa mendapatkannya, kemudian sembari pulang aku akan menyeberang jalan lintas provinsi, di tengah jalan sibuk itu rencananya aku akan berbaring. Tapi urung kulakukan karena jauh sebelum aku menyebrang jalan lintas provinsi itu, seorang pramugara bus mengucapkan sepotong kalimat sederhana itu. Dia ucapkan sembari tersenyum ramah khas para-pencari-uang kepada semua orang yang turun bus jalur 5B itu.
Entah hanya aku atau ada orang lain yang bereaksi serupa hari itu, ucapan khas para-pencari-uang-nya itu berhasil melekat nyaris sepuluh tahun kemudian.
Meskipun sejak saat itu aku masih belum menemukan tujuanku, setidaknya aku masih ada di jalan. Pernah aku mengira dan takut akan angan-angan bahwa tujuan adalah akhir dari segalanya. Nyatanya, tujuan-tujuan kecil yang selama ini sudah pernah kucapai adalah awal dari jalan-jalan lain. Mungkin sejak itu aku jadi tidak terlalu antusias mencari tujuanku; karena sepengalamanku tujuan tidak semata-mata untuk dituju saja. Juga pencapaian tidak perlu sebegitunya dipermasalahkan, karena sejak saat itu pula aku hanya bisa mencapai 153 cm.
Tidak lebih, bahkan cenderung lebih melebar. Tapi aku bahagia akan hal itu. Aku merasa cukup dengan itu.
Hari ini, adikku berangkat melangkahkan kakinya ke sebuah tujuan. Aku merasa bahngga bahwa dia punya setidaknya satu tujuan seperti itu. Meskipun hanya kakaknya, aku merasa sudah memberinya sedikit ilmu untuk ia kembangkan sendiri. Kemarin, aku menyelipkan sedikit lebih banyak ilmu untuk berhubungan dengan uang. Semoga dia pegang dan ingat, agar aku tidak melihat cerminan diriku lagi darinya.
Tapi aku tidak pernah khawatir kalau dengan dia. Aku bisa percaya sepenuhnya dengan adikku yang ini. Karena bahkan sebelum keluar dari rahim Ibu pun dia mengambil keputusan untuk tidak akan lahir tepat sama dengan tanggal aku lahir. Seakan dia berkata, "Sudi benar aku punya hari ulang tahun kembar dengan Mbak Sekar!" Tentu saja sambil menyipitkan mata karena dia juga tak sudi lahir tepat sama jamnya dengan jam aku lahir. Bahkan saat kukira ia akan tumbuh seliar kembarannya, ia bisa mengontrol dirinya dan menjadi lebih keren. Tapi tetap saja jejak-jejak kecil cerminan seperti tahi lalat di tempat-tempat yang sama dan kemalasan mencuci piring tetap tertinggal.
Dan dia punya tujuan. Sebuah kebanggaan.
Jadi, sebesar ini pula aku percaya padanya sampai mengucapkan sepotong kalimat itu kepada orang lain untuk yang pertama kalinya setelah sepuluh tahun kusimpan sendiri.
Semoga selamat sampai tujuan, Ya!
Semoga negeri itu menyambutmu sehangat namamu.
Previous |