sekar πŸ’

surat-surat yang tak akan pernah kukirimkan

Aku barusan berusaha menangis. Tapi tidak keluar setelah 40 detik berusaha penuh. Jadi, yasudahlah.

Alasanku ingin menangis adalah aku barusan menulis surat untuk seseorang yang membuatku merasa berat hati. Sederhana saja, orang itu tidak melakukan apapun dan itu yang bikin aku merasa seperti bukan seorang manusia bagi semua orang. Agak aneh memang, tapi perasaan itu yang benar-benar kurasakan. Dan aku tidak ingin berbohong atasnya.

Tidak logis sama sekali.

Tapi bahkan dalam standar perasaan, seharusnya aku sudah menangis meraung-raung sekarang. Tapi tidak bisa. Paling banter aku hanya berkaca-kaca saja.

Surat ini adalah surat kelima yang aku tulis untuk orang yang memberatkan hatiku. Semua orang itu tidak pernah dan tidak akan pernah tahu tentang surat-surat ini. Bahkan bisa jadi, seseorang yang sedang membaca ini pun ada dalam surat-suratku.

Tenang saja, aku nggak bikin kutukan atau semacamnya. Aku hanya mencurahkan isi hatiku saja. Sebisa mungkin aku hanya berkaca pada perasaan-perasaan berat yang muncul ketika mengingat namanya. Lebih banyak waktu bahkan aku menuliskan permintaan maaf yang sebesar-besarnya pada mereka.

Karena sebisa mungkin, sebelum menulis apapun tentang mereka, aku akan menempatkan diri tepat pada tempat mereka berada saat ini. Mungkin aku yang pertama berbuat salah.

Kali ini, mungkin aku yang pertama tak melakukan apapun. Karena aku sadar, berkali-kali aku menarik diri. Dan bagi banyak orang yang kutulis namanya di surat-surat itu tahu, kalau aku menarik diri secara fisik, mental, dan bahkan spiritual dari semua orang.

Tapi kali ini juga, aku merasa bahwa sesaat sebelum aku benar-benar menarik diri, aku sudah berteriak sekuat tenaga kepada orang itu. Sekadar ada disana, setidaknya bilang padaku, "Aku dengerin aja, ya." Tapi sama sekali tidak. Bahkan aku tidak tahu dia ada disana atau tidak. Bisa jadi, aku sudah dihapus dari satu-satunya koneksi yang menghubungkan aku dengan dia.

Tapi sekarang aku ingat, bahkan seorang anak kecil yang aku ceritakan sedikit tentang perangainya saja berkomentar, "Well, they just don't want to listen to you."

Dan sekarang aku baru tahu kalau komentarnya benar.

Tapi, hei, kalau kamu baca ini, tenang saja. I won't not listen to you. I'm a listener after all. You know I really love listen and read people. The thing is, even if you and most people said that you act like that just to and with me, I act like this to everyone. You know that. I do that to even mas bakul siomay that I just met, you know perfectly well about that.

But you never know that most of my insecurities are your ignorance to begin with.

Even talking like this.

Tapi tetap saja, mungkin aku yang salah.

Jadi, aku minta maaf padanya, setulus mungkin, meski hanya kulakukan dalam diam dan tanpa air mata.

Semoga semua orang (dan dia) berbahagia.

SekarπŸ’πŸ’Œ

Postingan ini diedit 1Β minggu yang lalu.

|

#short-post