Ada yang Hangat
Semua orang sedang tidak memungkinkan untuk bertemu. Begitupun dengan kamu dan aku. Setidaknya untuk saat ini.
Meskipun saat-saat lain pun pertemuan kita bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan, tapi sudahlah.
Kebiasaan baruku bertambah, selain menulis sembari memikirkanmu, merindukanmu, dan memantau whatsappmu, aku selalu memberikan sedikit waktu untuk tersenyum melihatmu dari layar ponsel. Tidak terlalu lama, karena aku pasti akan menggila dengan berbagai pikiran jika melihat keseluruhan foto yang kamu sebarkan melalui layarmu. Menembus satu hati ini.
Hangat.
Begitu rasanya.
Gila.
Begitu kelihatannya.
Sembunyi.
Begitu kenyataannya.
Banyak cara untukku bisa menghubungimu. Banyak topik yang bisa kita bicarakan, misalnya saja tentang klub sepak bola kesukaanmu yang bahkan namanya saja aku tidak bisa mengejanya dengan benar. Ah, atau mungkin kita bisa membicarakan tentang akun barumu di sebuah ruang kepenulisan? Oh, aku bahkan bisa basa-basi memberimu semangat karena sebentar lagi kamu akan mengawali presentasi. Atau jika aku punya cukup nyali, aku bahkan bisa bertanya apakah kamu sudah memiliki seseorang yang kamu curahi keluh dan kesahmu.
Ya, nyatanya itu semua hanya kemungkinan saja.
Dan aku memang terlihat gila saat ini.
Senyumku masih merekah mengingat jambul lucumu.
Baiklah, setidaknya aku mengakui bahwa rasanya dadaku menghangat berkat jambul lucumu.
Malam ini, aku bisa tidur dengan segurat senyuman
Berkat sebongkah kehangatan darimu.