Aku Memotong Wortel dengan Sendok Kemarin Sore
Postingan ini diedit 2 bulan, 1 minggu yang lalu.
Kemarin sore, aku sedang masak camilan untuk teman kerja malam hari. Demi memenuhi keinginanku mengunyah wortel dan kubis, aku memaksakan diri hanya memasukkan setengah wortel dan dua lembar daun kubis saja dalam camilan itu. Rencananya akan kupotong dadu atau seadanya saja yang penting terpotong kecil-kecil. Tapi saat akan memotong wortel itu, adikku datang dengan basah kuyup dan minta pisau untuk mengerjakan pekerjaannya. Kuberikan saja, karena mungkin aku bisa pakai pisau lainnya untuk memotong wortel.
Saat akan memasukkan wortel ke panci, aku baru sadar kalau rumah ini tidak punya pisau lain.
Kemudian dengan tingkat kecerdasan yang luar biasa ini, aku memutuskan untuk memotong wortel menjadi kecil-kecil (yang penting bisa dimakan) dengan menggunakan sendok. Sampai siang ini, jari telunjuk dan tengah tangan kanannku masih sakit. Tapi setidaknya aku bisa mengunyah wortel itu dengan bahagia karena setengah matang dan masih kriuk dan lumayan manis wortelnya. Meskipun berbentuk tidak karuan.
Sampai sini aku membiarkan diriku menikmati makanan saja. Sambil kerja dan berusaha mengabaikan fakta bahwa setiap kali makan aku selalu menjadikannya kegiatan nomor dua sembari bekerja. Aku tidak ingin memikirkan keadaan bahwa rumah ini tidak punya pisau lain. Aku juga tidak ingin mengulangi perasaan kasihan ke adikku yang basah kuyup kehujanan bekerja sambil hujan-hujan dengan satu-satunya pisau di rumah ini.
Man Jadda Wajada adalah kutipan yang paling ditertawakan Bapak. Katanya, sebodoh apa orang itu sampai tidak sadar kalau pisaunya tidak tajam.
Baru-baru ini aku menyadari kalau mungkin si pemegang pisau paham kalau pisaunya tidak tajam tapi tidak punya kesempatan untuk mempertajam pisaunya. Mungkin si pemegang pisau memang tidak tahu kalau pisaunya tidak tajam karena belum pernah mengenali pisau yang tajam. Mungkin si pemegang pisau tidak punya waktu untuk sekadar berpikir apakah pisau itu tajam atau tidak. Mungkin si pemegang pisau memang mengabaikan fakta bahwa pisaunya tidak tajam. Atau bisa saja si pemegang pisau sengaja membuat pisaunya tidak tajam demi bisa mengganungkan mantra man jadda wajada itu bersama-sama.
Sejak dulu aku menyimpan kriteria orang kaya menurut kacamataku sendiri. Aku tidak pernah peduli dengan kendaraan apa yang ada di garasi mereka, atau tempat pensil apa yang teman-temanku bawa saat sekolah, atau tas atau sepatu atau gawai atau uang saku mereka. Satu-satunya kriteria orang kaya menurutku adalah mereka yang punya tumpukan koran kompas dan majalah bobo di rumahnya, lalu saat aku tanyai apa mereka melanggan keduanya, apabila dengan ringan orang tersebut mengangguk, dia adalah orang kaya di mataku.
"Ibukku cuma guru kok, murah katanya kalau mau beli majalah bobo sama koran." Itu kalimat paling tidak berbahaya tapi berhasil membuatku menangis beberapa hari saat masih SD. Aku ingat betul kata murah itu ternyata tidak sama antara aku dan dia. Majalah bobo terbaru yang aku punya adalah terbitan sepuluh tahun yang lalu. Majalah bobo murah yang dia punya adalah terbitan minggu lalu. Padahal awalnya aku sangat menyukai teman itu, karena dia bisa ngobrol denganku tentang buku-buku yang aku baca dengan terbata-bata saat istirahat sekolah. Entah untung atau malah sebuah kesialan, setelah kunjunganku ke rumahnya dan sepotong kalimat biasa itu, aku pindah sekolah.
Aku tumbuh besar di rumah tanpa langganan koran kompas dan majalah bobo dan hanya punya satu pisau saja. Bapak tumbuh besar dengan tumpukan koran kompas dan majalah bobo dan perpustakaan di ruang tamunya. Setelah ini, mungkin aku tidak akan bisa ikut tertawa dengan candaan Man Jadda wa Jadda-nya.
Karena sependek waktuku di dunia ini, aku pernah bertemu dengan kawan yang paham kalau dia tidak tajam tapi tidak punya kesempatan untuk mempertajam diri. Lebih banyak kawan yang memang tidak tahu kalau dirinya tidak tajam karena belum pernah mengenali orang-orang yang tajam. Jauh lebih banyak lagi kawan yang tidak punya waktu untuk sekadar berpikir apakah dirinya itu tajam atau tidak. Tapi memang ada beberapa kawan yang mengabaikan fakta bahwa dirinya tidak tajam. Atau lebih sedikit lagi orang yang sengaja membuat dirinya tidak tajam demi bisa mengganungkan mantra man jadda wajada itu bersama-sama.
Aku beruntung dibesarkan di rumah yang meskipun hanya memiliki satu pisau saja, paham kalau pisau itu tajam dan hal-hal lain selain pisau bisa digunakan untuk memotong wortel meskipun dengan korban jari telunjuk dan tengah tangan kanan. Tapi dalam hati, aku menyimpan rasa sedih akan orang-orang yang bahkan tidak sadar kalau dirinya hanya pernah memiliki satu pisau yang tidak tajam tanpa tahu kalau ada cara untuk mempertajam atau menambah pisaunya.
Sampai sini, aku berharap diriku dan orang-orang yang membaca ini sadar akan status pisaunya sendiri. Aku juga mendoakan agar orang-orang (dan diriku di masa depan) yang membaca tulisan ini punya setidak-tidaknya satu pisau untuk memotong wortel.