sekar 💐

Pusing.

Postingan ini diedit 2 bulan, 1 minggu yang lalu.

Ingatanku dengan kendaraan saat kecil adalah aku yang selalu mabuk darat. Terutama saat naik kendaraan beroda empat dan lebih dari empat. Mungkin karena aku belum terbiasa duduk di satu tempat tapi dunia di sekitarku seakan berpindah dengan cepat. Biasanya aku menanganinya dengan minum antimo sebelum naik atau menutupi pusarku dengan koyo, meskipun sambil terkentut-kentut sepanjang jalan.

Secara fisik, memang sedikit mengganggu. Kadang meskipun sudah minum antimo dan menutup pusar dengan koyo, perutku masih tidak dapat menangani perasaan pusing itu. Kepalaku jadi ikut pusing ketika perutku memberontak. Biasanya aku akan tidur atau sekadar memejamkan mata untuk menghindari menatap dunia yang terus bergerak.

Kali ini, aku tidak berpergian. Dibawahku tidak ada roda-roda yang berputar, tidak pula aku melihat secara langsung dunia yang berjalan. Tapi perasaan itu kerap ada. Terutama ketika aku bermain game di laptop, atau menggulir layar gawai untuk menatap cuitan-cuitan di sosial media.

Saat aku memikirkannya dan memutuskan untuk menulis ini, hipotesisku adalah: apabila seekor manusia hanya berdiam diri dan melihat dunia berputar di sekitarnya, kemungkinan perutnya memberontak besar.

Beberapa bulan belakangan, rasa mual itu terus datang. Biasanya aku tidur untuk melegakannya. Lalu membuka lagi sosmed, main game lagi, dan mual lagi. Tentu saja, tidur lagi. Sekarang, aku belajar.

Semoga tidak banyak manusia yang senasib denganku. Karena rasanya benar-benar memuakkan.


Tulisan ini pertama kali terbit di blog wordpressku pada 8 Februari 2022 pukul 07:59 WIB pagi. Saat ini sudah aku buat tulisan ini private di blog tersebut.

Aku memilih untuk menerbitkan ulang tulisan ini disini karena beberapa hari belakangan rasanya seperti yang aku deskripsikan tiga tahun yang lalu. Pusing kepala dan pusing perut. Padahal kali ini tidak ada sosial media yang bisa aku elus-elus sepanjang hari lewat layar, aku juga barusan berpergian beneran. Entah kenapa rasanya masih pusing bahkan ketika menulis ini. Aku lupa apa obat pusing kala itu. Mungkin bertemu teman, atau kucing yang membawa anak-anaknya, atau paket yang berisi kertas satu rim, atau mungkin gajian dengan bonus uang kuota. Entahlah.

Kali ini, aku tidak ingin mencari obat pusing.

Mungkin aku memang harus pusing kali ini. Jadi, aku hanya bisa menikmati pusing ini sebahagia mungkin.

Tapi semoga saja tidak banyak yang pusing hari ini.

|

#buah-pikir