Apakah Setiap Penulis Perlu Pembaca?
Cita-cita pertama dan utamaku adalah menjadi seorang penulis. Aku pernah dengan sombongnya menjanjikan beberapa kawanku dulu buku-buku yang akan aku terbitkan. Tapi, semua itu hanya omonganku saja. Ah, bahkan omongan itu saja sudah banyak yang menentangnya. Tantangan pertama yang aku dapatkan adalah, "Penulis itu bukan cita-cita, Nak. Itu bukan pekerjaan. Yuk, cari cita-cita lainnya!" Itu dari guru SD-ku, orang pertama yang bertanya apa cita-citaku. Lalu, "Oh, mau nulis cerita mistis penyihir gitu? Mirip heri poter gitu? Jadi penulis dukun?" Itu dari beberapa saudara jauh yang aku temui setahun sekali. Kemudian, "Jangan banyak nulis yang sedih-sedih, nanti hidupmu sedih." Itu dari orang terdekatku. Lalu, "Si goblok miskin ini sok banget mau jadi penulis, emang ada yang menarik dari suaranya? Emang bisa nulis?" Itu dari diriku sendiri.
Sampai sekarang, terhitung 1 esai dan 3 cerita pendek yang aku tulis pernah "diakui" oleh beberapa pihak. Pertama saat kelas 5 SD aku menulis tentang Candi Borobudur untuk lomba esai, lumayan sampai tingkat kabupaten dan dapat peringkat 10 besar disana. Lalu, kelas 6 SD aku menulis cerita pendek untuk lomba mendongeng tingkat Provinsi, masuk peringkat 20 besar, tapi aku tidak bisa ikut menyaksikan kegiatan mendongeng 10 besar cerita yang lolos karena pengumumannya diantarkan oleh Ibu Kepala Sekolah yang belum sembuh luka operasi plastiknya dengan galak. Lalu dua cerita pendek lainnya lolos lomba menulis kecil-kecilan yang diadakan oleh penerbit kecil juga tahun 2017 dan 2018 lalu. Keduanya masuk di buku yang diterbitkan mereka, tapi aku tidak punya kedua bukunya.
Sampai disitu, bukan berarti aku bisa mengenyahkan tantangan-tantangan yang aku sebutkan sebelumnya. Aku masih menulis sambil membawa beban berat "menulis bukan cita-cita", "penulis dukun", "menulis kesedihan", dan "si goblok miskin". Beban-beban itu semakin mengurangi imajinasi menulisku. Ditambah beberapa tulisanku yang semakin tipis imajinasinya itu dibaca orang lain.
Pertama kali tulisanku dibaca secara memalukan oleh seorang temanku saat SMP. Aku sedang mengikuti kegiatan di luar kelas dan salah seorang anak kelasku mengambil tulisan dari laci mejaku dan membacakannya di depan anak-anak lain. Kala itu, aku memang sedang menulis cerita tentang kehidupan seorang anak sekolah dan aku memang mengambil beberapa sifat tokoh-tokohku dari beberapa temanku. Tapi aku tidak menuliskan itu dengan niat menjelek-jelekkan mereka. Kebetulan juga tulisan yang sedang kubawa waktu itu memang bagian nyaris klimaks, jadi banyak tokoh-tokoh antagonis dan masalah yang muncul. Intinya, aku memang menuliskan sebagian duniaku dalam cerita yang aku buat. Karena aku nyaris tidak lagi punya imajinasi, karena satu-satunya hal yang bisa aku tulis adalah kehidupanku sendiri. Pun setidaknya aku masih memilah apa yang aku tulis, jadi kupikir tidak masalah.
Tapi ternyata itu menjadi masalah bagi mereka. Tidak semua orang mau diperhatikan lalu ditulis. Bahkan nyaris tidak ada yang kemudian memandangku dengan pandangan yang sama. Semua memandangku sebagai seorang aneh yang akan menuliskan sesuatu tentang mereka. Saat kuingat lagi, lucu sekali. Padahal aku menulis mereka juga bukan berarti tulisanku akan terbit dan bisa dibaca orang lain. Aku menulis karena aku ingin dan suka saja. Dulu, aku bahkan tidak bermimpi untuk mengirimkan karyaku ke KKPK, sesederhana karena aku tahu aku tidak punya uang untuk itu. Aku menulis hanya karena aku ingin, itupun sudah ada banyak orang yang tidak menyukainya.
Satu-satunya penyelamatku saat SMP adalah peringkat akademik. Selang beberapa hari setelah kejadian itu, aku kembali mendapatkan peringkat pertama di kelas. Lalu, tiba-tiba saja, semua orang kembali menjadi baik dan mau menyapaku. Sesederhana itu. Untungnya dulu aku pinter sih.
Tapi masih cukup bodoh juga untuk menerbitkan cerita di wattpad kemudian meminta beberapa temanku membacanya saat SMA. Beberapa temanku itu juga kemudian bertanya, "Kamu nulis tentang si x ya, ini? Eh ini tentang waktu y itu ga sih? Bukannya ini ceritanya z itu?" dan semacamnya. Dengan pertanyaan-pertanyaan itu, semangatku kembali merosot. Kalau dulu saat SMP aku bisa selamat dengan angka satu di kolom samping jumlah nilaiku, saat SMA angka itu nyaris nomor satu dari bawah. Aku tidak akan selamat. Jadilah aku nyaris benar-benar berhenti menulis. Hanya beberapa kali aku menulis cerpen untuk lomba kepenulisan kecil-kecilan yang kutulis setengah jam sebelum mengirim email. Aku menjadi takut untuk menulis. Bahkan menulis untuk diriku sendiri.
Saat itu, aku juga takut untuk membaca. Alasannya nyaris sama, "boros", "tidak berguna", "emang mau jadi dukun?", "tidak membantu dapat kerjaan", dan "menghasilkan energi negatif". Alhasil, aku jadi lebih suka melukai diriku sendiri.
Menulis buatku adalah berbicara jujur dengan diri sendiri. Satu-satunya hal yang bisa aku tulis pun kemudian hanya diriku sendiri, terima kasih kepada COVID. Berkatnya, aku nyaris tidak keluar rumah selama dua tahun penuh. Sehingga satu-satunya manusia yang bisa aku perhatikan hanyalah diriku sendiri. Mau tidak mau. Suka tidak suka.
Dari situ, aku kemudian sadar kalau selama ini aku sangat menyukai teman-temanku. Aku menyukai dunia yang ada di sekitarku, sampai-sampai ingin aku abadikan lewat tulisan. Tapi saat aku mulai belajar menulis, aku yang belum dewasa ini masih sangat mudah terpengaruh dengan omongan orang lain. Aku masih belajar. Bahkan sampai sekarang.
Lalu aku kembali menulis di blog. Awalnya aku membuat blog seperti tugas sekolah dulu, di platform blogspot, wordpress, tumblr, dan bahkan pernah mencoba-coba membuat konten instagram yang dipaksakan untuk jadi blog. Nyaris semuanya tidak ada yang konsisten kulakukan. Yang terakhir bahkan tidak pernah aku terbitkan. Lalu aku hanya menulis dan menulis dan menulis di vault obsidian dan buku jurnalku sendiri. Demi kesenanganku sendiri. Demi kesehatan mentalku, kataku dulu. Demi... diriku sendiri. Semata agar kepalaku tidak penuh dengan pikiran-pikiran negatif dan positif yang bercampur aduk jadi satu. Kemudian aku menyimpulkan bahwa selama ini aku nge-blog juga ternyata demi angka-angka yang ada disamping judul tulisanku. Aku masih ingin tulisanku dibaca orang lain demi bisa menjadi seorang penulis blog.
Akhirnya, aku memutuskan untuk nge-blog tanpa analytics. Aku tidak peduli ada atau tidak ada yang baca, yang penting aku punya blog dan aku menulis disana. Aku buat blog baru yang lebih niat dengan Hugo. Tanpa angka siapa yang baca dan bahkan tanpa ada tombol untuk berinteraksi dengan pembaca. Murni tulisanku yang ada disana. Sampai disini, aku sudah merasa sukses. Cita-citaku sebagai penulis sudah terlaksana. Aku sudah bisa menulis seenak udelku sendiri, mungkin juga ada yang baca, entahlah. Yang penting bagiku, aku sudah menjadi seorang penulis.
Ternyata setelah beberapa lama begitu, aku kesepian wkwkwkwkwkwkwkwkkwkwkwkwkw
Aku kan juga pengen baca tulisan-tulisan orang lain, gitu maksudnya. Jadilah, saat tahu kalau di bearblog ada orang-orang yang menulis dalam bahasa Indonesia, aku langsung memutuskan untuk membuat blog disini. Meskipun aku jadi kembali tahu angka-angka yang mengikuti setiap tulisanku, aku sekarang sudah tidak peduli. Disini, juga hanya ada tulisanku.
Bedanya, setelah sedikit lebih dewasa ini, aku justru jadi lebih berani menerima kritik dan pandangan orang lain tentang apa yang aku tulis. Aku juga sudah mengumumkan blog ini ke teman-temanku. Setidaknya kepada mereka yang aku kenal di dunia nyata. Aku sudah tidak lagi takut dengan "eh ini tentang X ya?" karena aku menulis untuk bertumbuh. Aku memang bertumbuh bersama lingkunganku, tapi bukan berarti aku harus menumbuhkan lingkunganku juga. Syukur apabila hal-hal di sekitarku juga ikut bertumbuh. Tapi yang utama adalah aku sendiri yang bertumbuh.
Walaupun tidak tambah tinggi, tapi setidaknya aku jadi sedikit lebih berani.
Sampai disini, aku masih memegang teguh kenyataan bahwa aku seorang penulis. Bahkan aku jadi lebih percaya diri mengatakan bahwa aku seorang penulis. Aku sudah mencapai cita-citaku. Aku sudah sukses dengan ukuranku sendiri. Aku belum pernah menerbitkan buku, aku juga tidak terkenal, tabunganku juga tidak banyak, aku bahkan belum punya rumah. Tapi kalau ada yang bertanya apakah aku sudah sukses, aku selalu mengangguk mantap dan dengan lantang kujawab bahwa aku sudah sukses menjadi seorang penulis. Karena itulah cita-citaku, menjadi penulis; seseorang yang menulis dan ada orang lain yang membaca tulisanku.
Sejak awal menulis disini, aku tidak terlalu peduli apakah benar ada yang baca tai-taiku ini atau tidak. Yang penting nulis dulu. Setelah menerima sambutan di buku tamu dan surat elektronik dari beberapa pembaca, aku yakin betul kalau ada seseorang (bahkan banyak orang) di belahan dunia lain yang membaca tulisan-tulisanku. Disini, aku merasa lebih bahagia lagi. Cita-citaku benar-benar sudah terwujud.
Kalau ditanya apakah aku ingin menerbitkan buku dan semacamnya, aku mungkin akan mengiyakan. Tentu saja menerbitkan buku yang bisa dibaca dan akan dibaca dan bisa dipegang adalah impian setiap penulis. Tapi untuk saat ini, aku merasa cukup dengan menulis tulisan yang bisa dibaca dan akan dibaca dan hanya bisa dinikmati di sudut kecil internet ini.
Kepada yang membaca tulisan ini, entah hanya sepatah atau sampai selesai, terima kasih sudah menjadi bagian atas terwujudnya cita-citaku.
Tulisan ini dipantik oleh tulisan Alwi Johan tentang pengalaman dan pandangannya akan buku-buku yang ditulis oleh pengguna TikTok ini dan esainya tentang keinginannya menjadi seorang penulis. Saat membaca tulisan-tulisannya, aku teringat dengan cita-citaku sendiri yang dulu nyaris aku pendam. Tapi saat sudah dengan sangat rutin menulis begini, aku justru melupakan satu langkah penting dari kehidupan: menengok kebelakang. Ternyata, setelah aku ingat-ingat dan rasakan dan tulis seperti ini, aku sudah banyak bertumbuh. Beberapa waktu lalu juga Kak Alleya yang mengisi buku tamuku kuketahui adalah penulis beberapa buku KKPK. Mungkin kalau aku yang delapan atau sembilan tahun lalu tahu tentnag tentang hal ini, aku akan dengan iri menyimpannya di belakang kepalaku. Kali ini, aku membuka dan menikmati tulisan-tulisan Kak Alleya dengan bahagia dan turut merasa bangga; ah, ada seseorang yang bersinggungan denganku yang pernah menulis buku! Sebuah kehormatan!
Sama halnya ketika aku dapat kabar dari teman terdekatku, fguv, yang menerbitkan sebuah buku berdasarkan skripsi yang ia tulis. Saat itu satu-satunya hal yang aku rasakan adalah perasaan bangga. Dia mungkin tidak tahu, tapi saat tahu kalau dia menerbitkan buku itu, rasanya aku ingin peluk dia dan bilang terima kasih sudah mau berteman denganku. Sebuah kehormatan besar bisa sewaktu-waktu ngobrol dan bertukar ide dengan seorang sebrilian dia. Kalau fguv baca ini, JANGAN DIUNGKIT AKU MALU hehehhee
Aku juga pernah bilang ke fguv saat berbelanja kebutuhan bakar-bakar awal tahun ini, bahwa aku selalu merasa kagum dengan orang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai pekerjaannya. Bagiku, orang-orang yang senantiasa menulis adalah orang-orang yang punya suara pemikiran indah dan berani untuk didengar. Aku juga senantiasa merasa bangga mengetahui kalau aku ada di satu belahan bumi yang sama dengan orang-orang hebat itu.
Tapi ada satu komentar seorang pengguna youtube di sebuah video yang membahas tentang pandangan seorang pengguna lain akan tulisan-tulisan di platform substack:

Dua kalimat saja, tapi aku merasa terhantui akan ide dibalik itu; bahwa "orang-orang biasa" tidak pantas didengarkan suaranya. Aku selalu merasa lebih nyaman membaca komentar-komentar panjang di sebuah konten dibanding komentar pendek semacam ini. Tapi kali ini rasanya agak aneh. Sepenangkapku, video yang aku maksud lebih ke mengomentari bagaimana platform 'sebesar' dan 'se-serius' substack menjadi sosial media jilid ke-sekian; banyak iklan, robot, dan kontennya nyaris nyampah saja. Tapi komentar yang ini justru seakan menjadikan tulisan-tulisan sederhana tentang entah-apa-itu yang ada di substack adalah tulisan yang sama sampahnya dengan tulisan robot. Aku kurang setuju dengan itu. Ada seorang penulis di substack yang aku sangat nanti-nanti tulisannya tentang buku-buku yang ia baca. Kadang dia juga menerbitkan tulisan tentang kepercayaannya, yang mana tidak sejalan denganku, tapi aku tetap menghargai dan menikmati tulisannya. Tulisan-tulisan di blog yang aku ikuti juga sepintas sama "tidak penting"nya. Tapi seperti tulisan tentang band yang belum pernah aku dengar namanya, tentang teman mengobrol, sesingkat pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak berarti bagi orang lain, atau tulisan tentang aksara dalam bahasa lain, atau bahkan tulisan tentang pemikiran terdalam dari dirinya adalah tulisan-tulisan "sederhana" yang aku nikmati. Aku suka membaca hal-hal seperti itu, menurutku juga lebih terasa manusia dibanding dua kalimat yang entah kenapa menghantuiku itu. Bagiku, mereka adalah penulis keren yang bisa dengan bebas (dan gratis) kunikmati karya-karyanya.
Seorang youtuber ini bertanya apakah penontonnya akan tetap membuat konten bahkan setelah tahu kalau 10 tahun kemudian tidak ada plakat yang tergantung di dinding rumah? Jawabannya, ya. Jawabanku akan pertanyaan serupa tentang menulis, ya. Ya besar. YA. Aku tetap menulis lagi dan lagi meskipun tidak ada yang mengakui. Aku juga akan tetap menulis seenak udelku karena hal sekecil apapun tetap akan jadi kenangan berharga esok hari. Mungkin, seperti pengalaman seseorang, dua atau tiga generasi kemudian, aku meninggalkan tumpukan buku berisi cerita dari dekade sebelum mereka lahir. Cerita dimana masih ada TikTok, Youtube, thiwul, rumput yang bergoyang, plastik yang berterbangan, dan pemerintahan Indonesia yang..... (isi sendiri)
Aku ingin menutup tulisan yang sama tidak pentingnya ini dengan sebuah kutipan dari buku yang baru-baru ini aku baca dan aku kagumi:
Perhaps I have tried to create time through writing this pages.
.
.
.
I am writing for some unknown reader who will probably never come. ... But if that person comes, they will read them and I will have a time in their mind. ... They will have my thoughts in them. ... because my story, added to their mind, will then become part of their thinking.
-- I Who Have Never Known Men oleh Jacqueline Harpman
14 Januari - 16 Februari 2026
Love,
Sekar .β¦ έΛ
Previous |