Carmilla oh Carmilla
Banyak spoiler dan tidak didasari pengetahuan sejarah lesbian yang jelas
Bentar bentar bentar
Ini yang nulis cwok?? Baru ngeh
Anyway. Novel ini bisa diakses dalam bentuk teks atau audio. Aku dengerin versi audionya di Fabuly.
Aku udah tahu sebelumnya kalau novel ini terkenal sebagai inspirasi Dracula. Tapi aku nggak ngeh kalau yang nulis cwok, karena cuma inget Sheridan-nya aja wkwk dan di kepalaku itu nama cewek. Juga naratornya cwek, makanya kirain yang nulis cwek.
Dan yang nulis Irish????
Awal-awal, kirain Carmilla ini kayak..... peri. Karena dari kacamata Laura (si narator), Carmilla katanya super duper cantik, menawan, karismatik, keren, lovable, dan semua kata sempurna lainnya. Ternyata Laura sedang berbunga-bunga mencintai Carmilla. Dan Carmilla sendiri sejak awal rasanya emang dominan dan manipulatif sih menurutku.
Ehm aku pernah ketemu beberapa motif manipulasi Carmilla di seorang perempuan yang dengan terbuka mengakui kalau bakalan lebih enak kalau Sekar beneran lesbian. Salah satunya adalah "Eh aku juga pernah ngimpi kamu loh! Dejavu banget rasanya!" wkwkkwkw Sialan. Padahal dia cuma mau menghisap darah saya sekering mungkin. Oh, dan dia pernah mau membekapku dengan bantal waktu nginep di rumahku. Hehehe
Disini, aku banyak berkaca lagi akan hubungan pertemanan(?)—nggak tahu apa namanya kalau yang begini ini—antar perempuan.
Carmilla memang pada dasarnya punya motif untuk mendekat ke Laura. Dan Laura kebetulan menerimanya dengan tangan terbuka, bahkan terlalu terbuka sampai-sampai dia bener-bener suka sama Carmilla. Tapi aku cari-cari sedikit bahasan tentang ini, dan salah satunya menyebutkan bahwa hubungan antara Laura dan Carmilla ini sebenernya buat memberi contoh ke perempuan biar nggak tiru-tiru perilaku lesbian dijaman itu.
Menurutku niatnya yang itu nggak terlalu berhasil sih. Karena aku sendiri yang jarang banget baca cerita gxg macam ini lumayan menikmati hubungan Carmilla dan Laura. Apalagi karena ini diceritakan oleh Laura yang terlihat begitu menyukai Carmilla.
Hanya saja, memang manipulatif-nya Carmilla ini yang bikin..... ehhhh aku banyak menjep sih waktu dengerinnya wkwkw
You are mine, you shall be mine, you and I are one for ever.
Seperti itu contohnya.
Agak lama dengerin buku ini karena (sekali lagi) banyak aspek yang ngingetin aku ke hubungan pertemanan yang manipulatif di satu pihak. Jujur, waktu dengerin dan ikut berpikir, rasanya nggak ingin mengakui kalau aku sendiri pernah bertemu seseorang yang mirip Carmilla. Denial saya kuat sekali kak. Tapi lama-lama kuterima saja dan yah, selesailah buku ini.
Bisa disimpulkan melalui buku ini bahwa propaganda anti-lgbtqia+ lewat buku semacam ini justru bisa jadi tracking sejak kapan lgbtqia+ itu muncul. Bukan hal baru, tapi selalu ditentang oleh banyak pihak. Kali ini, I believe dari pihak gereja dan ✨laki-laki✨. Yah....
Mau suka dengan siapapun, silakan. Saranku, asal jangan se-obsesif dan manipulatif Carmilla aja.
Eh, Carmilla ini vampir ya, jadi dia mungkin udah makan banyak korban perempuan-perempuan lain sebelum Laura. Dan mungkin skema makannya juga sama; mendekati, lebih dekat, menyukai, menyayangi, mencintai, memiliki, sampai nyaris menjadi satu dengan korbannya.
Dan skema semacam itu tidak hanya ada dihubungan lesbian alias cwek-cwek aja. Cwek-cwok juga ada yang begitu, cwok-cwok juga ada yang begitu. Dan nggak melulu lewat jalur romantis juga. Bisa jadi teman atau bahkan keluarga ada yang begitu.
Buatku, buku ini malah ngajak aku buat refleksi hubungan-hubungan yang aku miliki dengan entitas lain. Nggak hanya manusia saja, seperti misalnya sebagai contoh dengan kucing.
Hal yang paling bisa kupahami dari seluruh buku ini adalah bagian akhirnya. Saat Laura udah nggak lagi bersama Carmilla tapi potongan kenangan tidak semudah itu dihapus.
Eh satu lagi wkwkwk
Aku juga mau menyentuh dikit tentang aspek bunuh diri yang menyebabkan seseorang jadi vampir. Ini juga salah satu doktrin yang ingin disematkan oleh penulis sebagai, "Jangan bunuh diri kalau nggak mau tetiba jadi vampir di kuburan. Yang btw, bunuh diri adalah sebuah dosa." Ehm. Yah kurang lebih begitu nadanya.
Tapi sekali lagi, bahkan saat Twilight sedang rame-ramenya dulu, aku inget banget banyak teman-teman di sekitarku justru suka vampir karena bisa hidup lama. Dan capek banget ga sih udah susah-susah bunuh diri malah disuruh hidup lagi, mana mau nggak mau harus menghisap darah manusia lain. Menurutku penyampaian pesan jangan bunuh diri disini justru lucu sih. It's a hot take hehehe
Hei, baca buku yang sama tidak harus punya pemikiran yang sama. Banyak pembaca lain yang suka dengan buku ini karena aspek lesbian-romance-nya. Atau karena horror dan gothic nya. Atau murni karena hal lain. Kali ini, aku bertahan baca buku ini sampai akhir karena ingin tahu bagaimana Laura menghadapi perpisahan dengan seorang yang manipulatif. Ternyata, tidak jauh beda.
Buku kali ini agak menguras perasaan, tapi memuaskan.
Salam,
Sekar💐📚
Previous |