Mari Bertemu
Kata Bapak, bekalku sudah cukup
Kata kawan, waktuku sudah tepat
Kata orang lewat, aku sudah siap
Kata buku panduan, seharusnya aku sudah di jalan
Itu kata yang lain
Bagiku,
bekalku memang ada, entah seberapa cukupnya
waktuku memang tepat, meskipun aku sendiri belum pernah bertanya kapan
aku memang siap, namun entah apa yang aku siapkan
jalan memang sudah ada, hanya saja aku merasa belum pernah menjalaninya
ketika aku memutuskan untuk melangkah,
(tidak lagi) anehnya,
aku merasa kembali menggunakan kaki yang sama,
peta yang sama,
air yang sama keluarnya lewat mata,
menanggalkan asa, tentu saja, sebutir demi sebutir.
Lalu sama seperti biasa,
bekal itu kembali masuk gudang
mungkin lain waktu lebih tepat, entah akan atau sudah terlewat
kembali bersiap-siap untuk siap
sembari menatap jalan yang sama jelasnya, familiar dan nyaris terasa akrab
Nyatanya, semua itu, hanya ada dalam kepala.
Berharap seseorang sudi menjemput
"Mari, kita menuju"
Kemudian disambut senyum dan nyanyian syahdu
Nyatanya, semua ini hanya ada dalam kepala.
Setidaknya, semua itu hanya ada dalam kepala.
sehingga kaki yang sama sejatinya bisa berjalan dengan bekal secukupnya pada waktu yang setepatnya di jalan yang sudah disiapkan.
Seharusnya, semua itu memang hanya ada dalam kepala.
Jadi, mari bertemu.
05.04.2026 11:05