sekar πŸ’

Mari Bertemu

Kata Bapak, bekalku sudah cukup

Kata kawan, waktuku sudah tepat

Kata orang lewat, aku sudah siap

Kata buku panduan, seharusnya aku sudah di jalan

Itu kata yang lain

Bagiku,

bekalku memang ada, entah seberapa cukupnya

waktuku memang tepat, meskipun aku sendiri belum pernah bertanya kapan

aku memang siap, namun entah apa yang aku siapkan

jalan memang sudah ada, hanya saja aku merasa belum pernah menjalaninya

ketika aku memutuskan untuk melangkah,

(tidak lagi) anehnya,

aku merasa kembali menggunakan kaki yang sama,

peta yang sama,

air yang sama keluarnya lewat mata,

menanggalkan asa, tentu saja, sebutir demi sebutir.

Lalu sama seperti biasa,

bekal itu kembali masuk gudang

mungkin lain waktu lebih tepat, entah akan atau sudah terlewat

kembali bersiap-siap untuk siap

sembari menatap jalan yang sama jelasnya, familiar dan nyaris terasa akrab

Nyatanya, semua itu, hanya ada dalam kepala.

Berharap seseorang sudi menjemput

"Mari, kita menuju"

Kemudian disambut senyum dan nyanyian syahdu

Nyatanya, semua ini hanya ada dalam kepala.

Setidaknya, semua itu hanya ada dalam kepala.

sehingga kaki yang sama sejatinya bisa berjalan dengan bekal secukupnya pada waktu yang setepatnya di jalan yang sudah disiapkan.

Seharusnya, semua itu memang hanya ada dalam kepala.

Jadi, mari bertemu.

05.04.2026 11:05

Postingan ini diedit 1Β hari, 14Β jam yang lalu.

|

#fiksi