sekar πŸ’

Media Tanpa Sosial

Aku baru sadar akhir-akhir ini bahwa orang-orang yang aku kagumi saat aku jauh dari buku bacaan yang menyenangkan adalah orang-orang yang bisa dan pandai menulis. Ed Sheeran yang aku sukai sejak 2011 dan aku doakan biar nggak terkenal-terkenal banget biar bisa aku kantongi saja wkwk tapi akhirnya dia se-terkenal itu sampai ada cap bahwa yang suka lagu-lagunya adalah... orang-orang tanpa "taste" yah, sudahlah. Lorde, yang sama juga nasibnya; kalau aku bilang aku suka Lorde, beberapa orang ada yang men-cap ku sebagai orang yang "pengen edgy" duh, yasudah lagi. Aku juga suka banget sama Little Mix yang menurutku lagu-lagu mereka sangat menggambarkan girlhood sampai womanhood. Aku juga pendengar lagu-lagu Adele yang bahagia dengan hanya tahu lagunya saja tanpa tahu kehidupan personalnya (kadang aku bahkan lupa dia yang mana huhu maap budhe Adele).

2017-an aku mulai kenal K-Pop lewat one and only Wanna One. Satu orang yang bikin aku suka dengan mereka bersebelas adalah Ong Seongwu. Teman-temanku kala itu langsung bilang, "Iya sih, dia paling ganteng kedua." Aku ketawa aja, karena alasanku tertarik dengan dia adalah leluconnya yang entah kenapa seakan-akan dia sudah memikirkannya jauh-jauh hari dan satu kalimat darinya di episode awal Produce 101:

Alih-alih melakukannya karena aku sudah percaya diri, aku melakukannya untuk mendapatkan kepercayaan diri.

Dia dipuji karena kalimat itu, tapi pujiannya tidak berlangsung lama karena memang suara dan tariannya menurutku juga menarik. Setelah bubar pun, dia merilis album yang beberapa lagunya ditulis dia sendiri. Yang paling aku suka adalah lagunya After Dark yang serius tapi nggak serius serius amat kalau udah sampai akhir wkwkwk Pertama kali denger lagu itu aku langsung merasa kalau dia mau ngelucu di lagu ini, tapi pengen serius juga.

Dari sini, aku mulai berkenalan dengan ASTRO, boyband yang menurutku cenderung feminin dan dari awal aku kenal mereka, image idol mereka beneran idol banget. Rasanya seperti ada benteng yang memisahkan idol dengan fans. Mereka juga cenderung cantik menurutku, jadi lagu-lagu mereka masih masuk ke telingaku. Aku mulai suka banget dengan mereka saat album All Light rilis dan lirik rap nya Rocky di lagu All Night terjemahan kasarnya begini:

μ˜€λŠ˜μ€ 무슨 일 μžˆμ—ˆμ–΄ Hari ini ngapain

κ·Έλž˜μ„œ μ–΄λ–»κ²Œ ν–ˆμ—ˆμ–΄ Terus gimana

κ·Έλž˜μ„œ κ·Έλ ‡κ²Œ ν–ˆμ—ˆμ–΄ Oh, terus gitu

κ·Έ μˆœκ°„ 말이 λŠκΈ°λ”λ‹ˆ saat itu lalu hening

μ–΄λŠμƒˆ 고운 μˆ¨μ†Œλ¦¬ 속삭이듯 잠이 λ“œλŠ” λ„ˆ hanya terdengar suara nafasmu seperti tertidur dan berkata

Such a good night

Yah, agak cringe sih. Tapi aku suka hahahahhaa

Disamping ASTRO, aku juga mulai kenalan dengan MAMAMOO. Lucunya, aku tahu grup ini justru dari salah satu haternya yang mana adalah temanku sendiri hehehe. Waktu itu temanku sedang menonton music video Yes I Am dan mendeskripsikan "grup baru" ini sebagai grup yang mengusung konsep love yourself sambil mencibir. Dia juga mengkritisi pakaian yang Hwasa pakai di video itu. Aku hanya melirik sebentar ke arah ponselnya dan sekilas merasa lagunya lumayan bagus menurutku. Lalu, aku pulang dari sekolah mencari-cari grup ini dengan susah payah karena aku belum tahu namanya. Setelah tidak ketemu, aku menyerah. Tapi diketemukan lagi karena salah satu flashdisk tempat bertukar drakor milik temanku yang lain berisi video performance MAMAMOO di salah satu awards kalau tidak salah. Aku memutar video itu berkali-kali karena sangat suka lagu dan suara mereka disana. Dari sana, aku mulai mengikuti grup ini. Dan aku baru tahu kalau kebanyakan fans mereka juga perempuan yang mana lumayan menarik buatku yang hanya tahu kalau boyband biasa disukai oleh perempuan dan girlband biasa disukai oleh laki-laki saja. Saat mendengarkan semua lagu-lagu mereka, aku baru paham kenapa yang suka dengan MAMAMOO kebanyakan perempuan. Mereka mirip Little Mix menurutku, dan ternyata nggak cuma aku yang merasa demikian. Mereka pun tahu dan bahkan bilang kalau mereka suka dengan lagu-lagu Little Mix juga. Tentu saja, mereka juga berkontribusi menulis lagu-lagunya. Bahkan diawal karir mereka juga membuat gerakan dance sendiri juga. Alasanku suka dengan mereka adalah aliran feminisme yang mereka ikuti menurutku bukan yang ekstrem. Mereka menyayangi diri sendiri sebagai perempuan dengan sehat, dan aku ingin belajar banyak tentang hal itu. Sebagai catatan kecil, mereka secara terbuka menudukung komunitas LGBTQ+ tapi setahuku belum pernah secara sangat terbuka mengutarakannya. Tapi beberapa lagunya memang mengindikasikan demikian. Seperti di Um Oh Ah Yeh, Shutdown, Goodbye, dan Colors. Yang mana ada yang kurang suka, tapi aku sendiri bisa menghormati pandangan itu.

Dari MAMAMOO, aku juga jadi kenal dengan ONEWE kesayanganku itu. Mereka band yang... keren. Awalnya aku tertarik karena salah satu lagunya yang entah kenapa ceritanya familiar denganku; Regulus. Lalu mereka merilis lagu bersama Hwasa dari MAMAMOO, Q. Dari situ aku baru penasaran akan mereka dan tahu kalau Regulus ditulis oleh gitarisnya, Kanghyun karena terinspirasi novel The Little Prince yang mana adalah salah satu comfort novelku. Sejak saat itu, aku mulai mengikuti mereka dan saudaranya, ONEUS. Sayangnya, beberapa lagu ONEUS menurutku terlalu manly jadi aku hanya suka beberapa lagu dari mereka saja. Terutama yang mengusung suara tradisional Korea, seperti di LIT, LUNA, dan Intro: Window.

Dari sini, aku mulai kenal beberapa K-band yang ternyata musiknya sangat aku sukai. Jannabi, The Rose, YudabinBand, N.Flying, Touched (mbaknya ganteng hehe), Day6, Nell, Hopippolla, dan yang paling aku suka; LUCY.

Awal kenal LUCY, aku sekadar menikmati beberapa lagunya saja. Menurutku lagu-lagunya bernada semangat jadi cocok untuk menemani kerja malem-malem. Semakin hari, aku yang semakin penasaran ini jadi sedikit paham dengan apa yang mereka omongkan di lagu-lagunya. Terutama waktu mereka mengisi soundtrack drama kesukaanku, Run On dengan lagunya Run To You. Dari lagu ini aku jadi penasaran dengan lagu-lagu lainnya dari mereka. Saat mereka merilis album Childhood, aku mulai mengikuti mereka dengan agak serius. Semakin ngikutin mereka, semakin aku juga mengenal diriku sendiri. Yah, rasanya agak aneh karena aku menemukan diriku di band luar negeri yang bahkan tidak semua kata-kata mereka bisa aku pahami.

LUCY banyak bercerita tentang bunga, bertumbuh, dunia di sekitarnya, dan mereka juga tetap membuat musik yang enak didengar. Dari sini, aku jadi sadar betapa indahnya nama yang diberikan oleh Bapakku. Nama yang selama ini kupakai rasanya nyaris tidak berarti kalau dibandingkan dengan Sekar. Sebuah bunga, bertumbuh, dan adalah sebuah suara indah yang disebut sebagai lagu. Dulu aku memperkenalkan diriku sebagai orang lain karena Sekar sudah terlalu banyak di sekitarku. Aku tidak ingin menjadi "Sekar kelas B" atau "Sekar besar" atau "Sekar anak baru". Lalu, aku memilih nama yang paling tidak aku pikirkan dari tiga nama yang diberikan oleh Bapak. Agak ngelantur dikit, tapi itu juga adalah salah satu alasanku ingin memahami apa yang band LUCY ini bicarakan lewat lagu-lagunya.

Disamping itu, aku juga menikmati banyak buku-buku terjemahan Asia Timur. Bahasa perbukuannya adalah AsianLit. Dulu, di aplikasi Gramedia Digital buku-buku dengan genre ini adalah buku yang paling banyak aku baca. Sayangnya sekarang buku-buku ini tidak bisa dinikmati hanya dengan melanggan secara bulanan. Tapi justru karena itu aku jadi bisa berkenalan dengan Han Kang.

Karya pertama yang aku baca adalah Vegetarian, pertama kubaca terbitan penerbit Baca. Aku punya buku fisiknya dan aku baca tiga kali saking sukanya. Tapi baru tiga kali baca aku sadar kalau buku itu dilabeli sebagai buku untuk dewasa. Yaaaa aku udah dewasa sih, tapi menurutku detail kecil seperti itu memang perlu untuk buku-buku dengan sampul cantik yang ada di rak novel. Memang buku yang sangat "dewasa". Kalau tidak salah aku dulu baca itu depan belakang dengan aku membaca Cantik Itu Luka. Setelah terpukul sedemikian rupanya, aku jadi agak bernafas karena Vegetarian. Lumayan lah. Sampai sekarang, kalau mengingat Cantik Itu Luka, aku masih agak.... sebel wwkkwkwkwkwkwk yah, itu cerita untuk lain waktu. Tapi yang jelas, mulai dari sana aku sangat suka dengan karya Han Kang. Setelah Vegetarian, aku kebanyakan membaca karya beliau dalam Bahasa Inggris pinjam di perpustakan luar negeri karena aku sedang dalam mode berhemat tidak membeli buku. Aku jadi punya cita-cita yang jelas karena begitu menyukai karya beliau: ingin membaca karya beliau dalam bahasa aslinya.

Dua penulis itu terutama yang membuatku ingin memahami Bahasa Korea. Akhirnya, aku belajar sedikit demi sedikit. Dulu, aku mulai dari Duolingo karena toh aku belajar bukan karena alasan yang serius. Aku cuma ingin menikmati saja. Jadi, santai juga proses yang aku tempuh. Sama halnya dengan alasanku belajar Bahasa Inggris juga semata karena aku ingin memahami apa yang aku nikmati saja. Lama-lama, ternyata aku bisa memahaminya, meskipun butuh waktu yang cukup lama.

Ini pertama kalinya aku menuangkan preferensi musikku. Selama ini, aku menikmati musikku sendirian. Nyaris tidak ada orang di sekitarku yang memiliki selera musik yang sama denganku. Aku juga tidak bisa banyak membicarakan tentang lirik-lirik yang aku sukai dari lagu-lagu yang aku sukai. Kebanyakan orang-orang di sekitarku menikmati lagu karena iramanya yang cocok dengan mereka, atau musiknya yang nge-vibe, atau karena sedang trend. Aku lebih menyukai musik yang liriknya menarik. Kadang, aku hanya menyukai bagaimana liriknya diucapkan saja tanpa tahu apa arti liriknya. Begitu mencari tahu, aku akan memutuskan apakah artinya sesuai dengan pandangankku. Kalau tidak lagi sesuai, aku akan lebih jarang menikmatinya, pun sebaliknya.

Ada seorang kenalanku yang mengatakan, "Lagumu kan lagu-lagu nugu1, seleramu tu selera nugu." Dia mengatakan itu dengan nada mencibir setengah bercanda. Mungkin, berniat untuk mengejekku. Tapi aku tidak merasa terejek karena selera dia pun untukku juga selera nugu karena aku tidak tahu.

Yah, sudah segitu saja.

Aku menulis ini sebenarnya ingin bilang kalau aku ingin lebih menyuarakan apa-apa yang aku sukai. Aku juga berpikir untuk menyembunyikan dulu bagian kebunku di blog ini dan mengubahnya menjadi bagian media untuk mendaftar konten-konten yang aku sukai. Terutama paling tidak buku dan musik.

Biasanya aku hanya menikmati saja, tanpa berniat mencari orang lain yang juga menyukai hal yang aku sukai juga. Aku tidak biasa masuk fandom, juga tidak berminat sih. Aku bahkan tidak punya rencana untuk menonton konser artis-artis yang aku sukai, karena aku lebih suka menikmatinya sendirian. Buku pun demikian. Aku tidak terlalu berminat mengoleksi buku, tapi aku sangat menikmati pengalaman membaca dan memahami sebuah buku. Meskipun banyak konten yang aku sukai, aku tidak terlalu berminat untuk mengoleksi apapun. Sampai sekarang, aku belum berminat untuk memiliki sesuatu yang aku nikmati.

Postingan ini diedit 7Β menit yang lalu.

|

  1. kata dari Bahasa Korea yang artinya siapa, tapi biasanya berkonotasi negatif bahwa tidak ada siapapun yang tahu. Biasanya dipakai oleh fans K-pop untuk menyatakan sebuah grup yang bukan apa-apa dibandingkan dengan grup yang terkenal.

#buah-pikir