Membaca
Postingan ini diedit 3Β bulan yang lalu.
Tetiba aku pengen cerita tentang hobiku yang satu ini. (Hobi-hobi lain akan aku ceritakan lain waktu)

Aku mulai mencatat perjalanan membacaku sejak tahun 2020, maklum karena tahun itu aku mulai punya penghasilan sendiri dan satu-satunya jajanan yang ingin aku beli adalah buku. Sebelum tahun itu, terakhir aku membaca buku untuk kesenangan diri adalah sekitar tahun 2013-2014. Itu waktu aku SMP kelas 3. Sebelumnya lagi, aku rutin membaca buku dari perpustakaan sekolah-sekolah yang aku datangi mulai dari kelas 2 SD. Aku inget banget dulu setiap datang ke sekolah manapun (aku sekolah di banyak tempat), hal pertama yang aku cari adalah perpustakaan. Setelahnya aku baru penasaran dimana kelasku berada.
Setelah masuk SMA kemudian kuliah setengah jalan, aku hanya punya satu current-read untuk bacaan ringan. Judulnya Kitab Anti Bodoh karya Bo Bennett. Aku kadang bawa buku itu kemana-mana, siapa tahu bakal ada waktu untuk membaca sedikit demi sedikit. Nyatanya, selama tujuh tahun buku itu menemaniku, aku belum pernah menyelesaikan buku itu secara utuh dari awal sampai akhir. Aku juga lupa-lupa ingat sebagian besar isinya. Padahal isinya lumayan bagus: menjabarkan sesat pikir. Buku itu dibelikan oleh Bapak pertama kali saat aku kelas 5 SD tapi dicuri orang waktu Bapak pulang dari luar kota naik bus. Kemudian, Bapak beli lagi saat pameran buku tahunan di Jogja waktu aku lulus SMP. Sekarang bukunya sudah raib karena dipinjam kakak sepupuku. Waktu itu pesanku ke dia sama dengan pesan Bapak ke aku, "Dibaca aja, dikit-dikit juga gapapa."
Waktu kuliah, aku beli beberapa buku, tapi kemudian tidak pernah aku baca sampai tahun 2021-an. Salah satunya adalah buku karya Ajahn Brahm, Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya! buku 2 aku dapatkan sambil guyon dengan mas penjualnya di Shopping Taman Pintar seharga 35 ribu. Masnya pasrah saja saat menyetujui transaksi bodoh itu, katanya, "Yang penting kebaca lah, Mbak." Benar saja, aku baca buku itu, bertahun-tahun kemudian.
Tahun 2020 aku mulai kembali membaca dengan secara tidak sengaja nemu novel di aplikasi baca iPusnas. Kambing dan Hujan: Sebuah Roman karya Mahfud Ikhwan yang berhasil bikin aku nangis haru, lalu Jakarta Sebelum Pagi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (tentu saja aku copas namanya dari storygraph) yang bikin aku nangis sendu, kemudian Man's Search for Meaning yang bikin aku nangis tersedu-sedu mengingat aku masih hidup sampai tahun itu padahal pengen mati bertahun-tahun yang lalu wkwkwkw Anyway, intinya aku kembali menemukan dunia yang sempat aku tinggalkan dulu. Tahun itu aku selesai membaca 7 buku.
Kemudian tahun 2021 aku membaca 45 buku, 67 buku di tahun 2022, 68 buku di tahun 2023, dan 103 buku di tahun 2024. Tahun ini, aku sudah baca 71 buku. Yah, aku baru sadar kalau aku seorang pembaca waktu nulis ini, gila bener baca segitu banyak.
Sekarang aku sudah lupa bagaimana rasanya tidak membaca satu buku pun selama satu tahun. Seringkali setelah selesai membaca satu buku, aku langsung kelimpungan mencari buku mana yang akan aku baca. Sudah begitu juga masih belum punya to be read list yang pasti. Aku baca sesenangnya saja. Bahkan kadang sangat random seperti tahun ini aku baca komik hentai sambil membaca novel middle grade. Setelah itu baca klasik wkwkwkwk
Intinya aku begitu menyelami dunia lain beberapa tahun ini. Duniaku masih begini-begini saja. Tapi setidaknya aku jadi kembali bahagia dan sedikit lebih banyak ingin hidup dibanding tahun-tahun aku tidak membaca buku sama sekali. Entah apa korelasinya.
Yang jelas tahun ini aku merasa jadi diriku yang dulu dipanggil Sekar-si-pembaca-novel-Harry-Potter-yang-pengen-jadi-penyihir lagi. Aku merasa jadi bocah lagi kalau di depan buku. Banyak hal yang nggak aku tahu, banyak juga yang aku nggak ingin tahu, lebih banyak lagi yang ingin aku tahu, dan sangat sedikit yang baru aku tahu.
Meskipun begitu, aku tidak punya banyak buku di rumah. Bisa dihitung dengan dua tangan lah. "Perpustakaan" yang aku bangun selama 2020 - 2022 aku tukarkan dengan ponsel karena kebetulan aku kecopetan waktu itu. Kemudian aku kurang minat untuk beli buku fisik karena lebih sering beli subscription gramedia digital dan storytel. Lalu kenal dengan pembajakan tipis-tipis di Libby dan kenal juga dengan public domain, jadi makin sering tidak membaca buku secara fisik.
Baru tahun ini aku memaksa diriku untuk sering datang ke perpustakaan daerah. Meskipun jauh banget jaraknya, aku berusaha memaksa diriku sendiri untuk kesana. Selain karena satu-satunya tempat yang terlintas di kepalaku adalah perpustakaan, aku juga ingin setidaknya bersinggungan dengan khalayak ramai setidaknya saat jalan-jalan ke perpustakaan. Kerjaanku yang remote dan freelance ini membuatku jadi amat sangat jarang keluar rumah. Pernah tahun lalu aku sangat stres dan tidak berani keluar rumah sampai 3 bulan lebih. Jadi, aku memaksakan diri untuk ke perpustakaan tahun ini. Itupun baru 10 kali lebih sedikit aku ke perpustakaan tahun ini. Setidaknya, ada pergerakan lah ya. Bisa dibanggakan untuk seseorang yang tahun sebelumnya keluar rumah bisa dihitung dengan satu tangan.
Entah apa inti dari tulisan ini, tapi yang jelas aku pengen cerita kalau aku menemukan hidup lagi di kertas; yang bisa ditulis dan yang bisa dibaca. Terutama membaca, meskipun ada buku-buku yang aku tidak ingin baca lagi, aku tetap menyukai semua buku itu.
Satu lagi, entah ini bisa disebut sosial media atau bukan, tapi salah satu akun yang aku pertahankan selain yotube dan bearblog adalah akun The Storygraph-ku:

Aku baru sadar kalau tampilan profilnya barusan update, cakep menurutku hehehe
Terakhir, aku mau pamer bagian akhir kata pengantar skripsiku yang aku tulis dengan kasih sayang dan sedikit kemarahan dan banyak capeknya:
