sekar 💐

Bagor dan Bajingan Lainnya

Postingan ini diedit 2 bulan, 4 minggu yang lalu. Sebelumnya aku lupa memberi penjelasan kalau ini adalah tulisan singkatku setelah membaca buku Para Bajingan yang Menyenangkan karya Puthut EA.

Ini adalah buku ke-71 yang aku baca tahun ini, juga adalah buku yang secara impulsif aku ambil dari rak perpustakaan daerah. Jujur, aku berharap bakalan dapat cerita macam The Woman Who Dreamt of Three Birds karya Goenawan Mohamad. Sayangnya, belum pernah ada yang bisa mengalahkan ke-bejoanku nemu buku itu, termasuk buku yang satu ini. Yah, intinya postingan ini mengandung nada kecewa berat karena ekspektasiku kurang masuk akal hehehehe. Tapi gapapa, setidaknya minggu ini ada pengalihan isu dari pikiran-pikiran negatifku ehehehheehehehehe

Buku ini penuh istilah dalam Bahasa Jawa, jadi menurutku kalau orang yang sama sekali belum pernah menyentuh Bahasa Jawa, bakalan agak bingung. Meskipun di bagian belakang disediakan kamus, tapi bakalan memengaruhi pengalaman membacanya.

Baca buku ini rasanya seperti aku sendirian sedang ada di sebuah angkringan. Di sampingku sedang ada bapak-bapak nongkrong bersama beberapa temannya, nah mereka nge jokes yang.... garing tapi masih bisa lah kadang ikut nyengir dan ketawa kecil.

Beberapa jokes tentang UGM juga mungkin nggak akan nyampe kalau belum pernah 'menyentuh' KAGAMA, salah satunya:

Di waktu senggang saya sering nggojloki Bagor dengan berteori kenapa anak-anak D-3 Ekonomi banyak yang masuk SMID. Menurut saya tidak bisa dimungkiri bahwa secara psikologis, anak-anak D-3 berbeda dengan anak-anak S-1. Mereka merasa bukan bagian sah dari UGM dengan sistem penjaringan UMPTN. "Kowe ki mbiyen dadi aktivis mergo ora lulus UMPTN, yo ra? Ngaku wae?" Kalau sudah saya bilang begitu muka Bagor langsung memerah.

Jokes ini gampang masuk di aku dan malah familiar, karena sebagai anak dari KAGAMA dan KAGAMA sendiri, sudah sering ada kalimat,

Anak D-3 itu bukan anak kuliahan, wong isih sekolah.

Karena D-3 dan Sarjana Terapan di UGM masuknya ke fakultas Sekolah Vokasi.

Jokes ini biasa saja buatku yang anak S-1, karena yaaaa mau apa sih? Tapi ternyata banyak juga lulusan D-3 dan D-4 UGM yang membalaskan dendamnya ke anak-anaknya agar bisa kuliah beneran di UGM, alias harus S-1. Jokes serupa juga adalah tentang S-2. Mau S-2 berkali-kali di UGM, kalau S-1 nya bukan di UGM juga bakalan kalah omongan dengan orang yang lulus S-1 saja (tapi di UGM).

Menurutku guyonan seperti ini biasa saja, dan aku sudah biasa. Tapi kalau aku lihat dari kacamata orang yang bukan lulus dari UGM dan bahkan yang belum pernah kuliah, rasanya guyonan ini sama sekali tidak lucu. Mentang-mentang sudah pernah kuliah di kampus terbaik (I don't think so, tho), jadi guyonan kasar dan nyebai macam itu malah jadi semacam bahan ejekan.

Memang, ini hanya guyonan dalam sirkel saja, kalau sampai keluar sirkel mungkin malah bakalan menyinggung banyak orang.

Tapi mungkin emang aku saja yang terlalu overthinking dalam guyon.

Balik lagi ke bukunya, di bagian akhir-akhir (halaman 150 kebelakang), aku sampai lupa kalau ini buku ada tempelan "novel dewasa" di bagian sampulnya. Aku juga lupa kalau bagian bulrb-nya bilang kalau ini cerita tentang beberapa manusia yang suka judi. Yang aku tahu adalah narator suka mengamati teman-temannya dan menceritakannya dengan penuh kasih sayang. Sempat terlintas pemikiran kalau rasanya si narator ini hidupnya berwarna karena diwarnai teman-temannya, tapi dia sendiri tidak ikut mewarnai hidupnya sendiri. Nyaris semua tokoh diluar tokoh-tokoh utama di cerita ini (yang mana termasuk si narator sendiri), menurutku sangat normal dalam menghadapi kegilaan tokoh yang lucu. Jadi, dunia di buku ini adalah dunia normal dan ada taburan orang-orang seperti Almarhum sahabat dan Bagor dan Kapsul.

Buku ini lucu, banyak umpatannya, dan ringan menurutku. Tapi, bukan panganan yang bisa aku nikmati berkali-kali. Yah, cukup ngicipi pisan wae.

|

#book #log