Mungkin Seminggu Lagi Mens
Barusan aku nangis tertahan di kamar kos yang.... kosong ini. Aku kesini tanpa rencana. Nyaris tanpa harapan juga. Satu-satunya keinginanku adalah bisa lebih banyak membaca buku dengan dekat dengan perpustakaan. Sama halnya dengan barang-barang yang kubawa ke kamar kos ini. Saat aku mendatanya, ada total 97 barang yang aku bawa. Termasuk baju-baju dan alat masak dan kasur.
Kamar ini sampai-sampai masih terasa bergema kalau ada suara sekecil apapun. Mungkin karena begitu kosongnya. Sudah kuusahakan dengan menambah rak baju, tetap saja masih bergema. Rasanya seperti ada di kamar mandi kalau pintu dan jendelanya tidak dibuka, agak pengap namun rasanya suara apapun jadi merdu. Sayangnya, yang menikmati itu semua hanya aku sendiri.
Karena sudah akhir bulan, mungkin aku menangis karena faktor hormon. Biasa, perempuan.
Mungkin juga karena aku merasa begitu kesepian.
Heheheheheheheheheheheheheeheheheheheheheheheheheheheheehehehehehehehehehehehehehe
Kukira aku akan menangis seperti tadi saat pertama kali memasuki kamar kos ini. Ternyata baru berhari-hari kemudian aku bisa merasa bebas untuk menangis seperti tadi. Sampai beberapa hari yang lalu, aku bahkan masih bergumam dan nyaris berbisik kalau sedang butuh untuk bicara. Takut orang-orang di sekitarku merasa terganggu dengan suaraku. Bahkan, diawal masuk kamar ini, aku minta maaf ke tetangga kos karena mungkin aku akan sangat berisik kalau malam-malam. Karena jam kerjaku kebanyakan malam hari, jadi mungkin tidur mereka terganggu. Kupikir-pikir lagi, itu adalah percakapan paling konyol yang pernah kuucapkan. Toh, aku disini bayar dan ruang ini adalah hak-ku. Aku bisa melakukan apa saja di ruang ini. Termasuk bicara lepas dan menangis keras.
Sepanjang air mataku, yang aku pertanyakan hanya satu, "Apakah jalan yang kuambil sampai sekarang begitu salahnya?"
Sampai-sampai tidak ada yang percaya kalau aku bilang aku sedang merasa kesepian.
Aku tidak ingin pacar atau semacamnya.
Tapi kalau aku bilang begitu, entah kenapa solusi dari orang yang kuberi tahu hanyalah pacar atau paling banter suami. Kalau kamu baca ini, jujur aku ngerasa agak marah waktu itu. Seakan-akan obat semua masalahku yang kebetulan perempuan ini adalah laki-laki. Dulu juga pernah seperti ini. Jauh sebelum aku bisa dengan norma adat bisa menikah. Lalu, aku memutuskan untuk membenci laki-laki. Hanya karena beberapa orang bilang, "Makanya cari pacar, jadiin suami, biar nggak perlu mikir nafkah lahir batin." Ah... sialan.
Padahal sejak dulu, aku hanya ingin didengarkan.
Aku takut kalau aku harus jadi tulang punggung keluarga. Aku kan anak pertama.
Aku takut kalau adik-adikku tidak bisa lulus sampai kuliah. Aku pengen mereka bisa berhasil.
Aku takut kalau aku harus sendirian mikir begitu. Aku nggak punya kakak untuk ditanyai harus bagaimana.
Segitu susahkah menampung hal-hal semacam itu? Cukup didengarkan saja, mungkin berikan selembar atau empat lembar tisu, biarkan keluar saja. Tapi tidak ada. Orang-orang yang kukira begitu dekat denganku, yang sampai takut kalau aku marah dengan mereka, ternyata tidak mau mendengarkan hal-hal semacam itu. Dulu, seorang ingin menyerap sedikit nilai dariku, mungkin demi jaminan masa depan yang lebih cerah. Beberapa waktu lalu, seorang lain sekadar ingin kabur dari dunianya tanpa harus mengeluarkan biaya, jadi dia nempel denganku demi bisa makan dan melanjutkan sedikit kehidupannya. Kali ini, entahlah. Rasanya tidak ingin mengulangi sesuatu yang sama untuk ketiga kalinya.
Aku punya batas toleransi tiga kali.
Kalau sudah tiga kali dicoba atau bertemu dengan masalah yang sama, mungkin bukan waktunya.
Yang ini, jujur aku tidak ingin mengakuinya. Aku tidak ingin mengakui kalau hal-hal yang kukeluhkan adalah sesuatu yang begitu lumrah sampai-sampai sudah ada rumus penyelesaiannya; menikahi pria kaya raya tajir melintir. Ah, sialan.
Padahal, aku cuma butuh sepasang lubang telinga. Yang mempersilahkan masuk dan membiarkan suaraku keluar. Ah, sialan.
Karena nyaris tiga kali, mungkin aku juga menyumbang kesalahan. Aku lebih sering menarik diri. Aku tidak ingin terlihat begini di depan orang-orang yang masih bisa kutatap matanya. Aku tidak ingin menjadikan mereka sialan yang lain.
Aku jadi sering merekam diriku sendiri akhir-akhir ini. Sekadar untuk berbicara saja. Kadang bahkan aku hanya membaca buku keras-keras. Berharap pita suaraku tidak lupa kalau dia masih bisa bekerja. Tapi kalau ada orang beneran yang ngajak aku ngobrol, wkwkwkkwwkwk bentar ketawa dulu, otakku seperti langsung nge-freeze. Aku hanya bisa, "OOhhh... iya.. hehehehe... hehe." Baru semenit dua menit kemudian aku bisa membalas dengan normal. wkwkwkkwkwwkwkwkkwwkwk
Bersyukurlah, wahai orang-orang yang masih bisa menemui orang lain setiap harinya.
Kadang, aku keluar dan jalan-jalan, berpapasan dengan banyak orang. Tapi sama sekali tidak membuka mulut. Sampai kos, aku berusaha meregangkan wajahku dengan menonton drama atau video youtubee atau makan. Berharap aku tidak kehilangan cara untuk berekspresi.
Aku begini bukan hanya sehari dua hari. Yang belum pernah aku unggah disini jauh lebih banyak lagi. Apalagi sejak tiga tahun yang lalu. Rasanya tidak ada peningkatan sama sekali.
Aku masih kembali merekam diriku sendiri kalau merasa kesepian. Aku masih menarik diri kalau perasan ini datang saat weekdays. Mau weekend atau liburan pun, setelah bertemu seorang kawan yang jarang bisa kutemui, aku nyaris tidak bisa mengeluarkan suara semacam ini sama sekali. Aku hanya akan bercerita betapa enaknya ayam geprek yang barusan kucoba, atau betapa malunya aku saat tidak bisa melakukan sesuatu, atau mungkin cerita tentang dua anak kucing yang sedang belajar naik atap rumah orang. Itupun bukan sesuatu yang worth-it untuk didengarkan, kan?
Kan no pic hoax ya.
Ah, sialan.
Beneran. Kadang saat aku bercerita hal-hal random nan aneh seperti itu, ada beberapa pasang mata yang memandangku aneh. Karena biasanya obrolan seru dibuka dengan, "Eh, udah lihat video si ini belum?" atau ungkapan modern yang aku sama sekali belum pernah dengar.
Sampai sini, aku tidak merasa menyesal sudah menghapus sosial media. Aku justru prihatin karena kenapa hal-hal nyata yang bisa dibayangkan bersama-sama lewat cerita tidak lebih berharga dibanding hal-hal viral yang entah itu dibuat oleh siapa dan untuk tujuan apa.
Dulu, aku tidak merasa kesulitan mendengar teman-temanku menjelaskan hal-hal viral yang belum pernah kudengar. Demi menjaga percakapan terus berjalan. Tapi sekarang aku jadi lebih sadar akan hal-hal kecil semacam itu. Dengan bercakap mengenai satu video tiktok yang viral dan satu kasus yang melanda segelintir orang, kopi buatan barista andalan yang sudah kubeli akan habis. Kemudian aku harus berpisah dengan satu teman, kembali menjalani hari tanpa obrolan.
Karenanya, kalau ada satu atau dua temanku yang masih bisa ketemu denganku membaca ini, tolong ceritakan tentang dirimu saja kalau ketemu aku lagi ya. Siapa tahu, setelah kamu cerita tentang dirimu, aku juga tertarik untuk cerita tentang diriku seperti di tulisan-tulisan ini. Bahkan mungkin jauh lebih banyak dari ini.
Mungkin, sampai aku bisa kembali percaya dengan dunia lagi.
Yah, pada akhirnya mau bagaimanapun bentuk mataku, aku masih tetap kembali ke leptop hehehehehehe
.... umbelku beler lagi.
Nggak masalah, setidaknya hari ini aku bisa kembali menulis bebas.
Seperti biasa, semoga mimpi indah dan esok bisa bertemu serta bertukar sapa dengan orang-orang beneran!