Obrolan tanpa Judul
Postingan ini diedit 3 bulan, 1 minggu yang lalu.
Wahai Pembaca,
Habis ngobrol apa kalian hari ini?
Aku belum ngobrol apapun dengan teman-temanku hari ini. Kolegaku yang belum pernah aku temui itu juga sekadar memberi arahan pekerjaan lalu sudah. Tidak ada obrolan seperti mau kemana 5 tahun kedepan atau tentang apakah fotosintesis akan terganggu kalau daun tanaman basah atau tentang pemerintah yang memerintah alih-alih diperintah rakyatnya atau mengenai bakpia kukus khas Jogja yang dibeli di Semarang atau mengenai bau baju yang semakin tidak enak setelah semakin lama direndam atau obrolan lainnya.
Seringkali aku ngobrol aneh dengan kawan-kawanku. Kadang tiba-tiba juga ngajak bicara orang asing kalau sedang jalan-jalan. Misalnya saja kemarin Mbak penjaga perpustakaan make-upnya kelihatan flawless banget, jadi aku membuka obrolan dengan, "Mbak, make-upnya cantik banget!" Mbaknya senyum, jadi tambah cantik. Tapi aku dapat tatapan sinis dari Mbak lain yang aku tanyai kemana aku harus mengembalikan buku karena tidak ada penjaga yang berjaga di meja pengembalian. Beberapa hari lalu aku juga ngobrol tentang betapa usaha membajak sangat butuh energi ekstra karena setiap kali kena block, kita harus mencari alternatif lain. Beberapa waktu yang lalu aku juga ngobrol tentang satu halaman buku Babad Tanah Jawi yang menarik dengan kawanku.
Hari ini, aku ingin membuka obrolan dengan seorang kawan yang sudah lebih dari sebulan tidak aku hubungi. Kalau dulu, aku bisa dengan mudah membuka obrolan dengan menanyakan bagaimana kabar skripsinya, atau apa ada tugas untuk kelas yang kita ikuti bersama, atau apa sudah membuat rencana KRS semerster depan, atau semacamnya. Kali ini, satu-satunya penghubungku dengan dia adalah kenangan masa lalu. Aku tidak tahu menahu tentang masa kininya, dia juga sama butanya dengan apa yang sedang aku hadapi saat ini. Beberapa kali aku mencoba membuka diri untuk bercerita tentang diriku sendiri demi memberikan update kehidupan, beberapa kali juga ia harus merelakan sedikit waktunya untuk sekadar bilang, "Nanti ya, aku sibuk banget." Kemudian aku coba menggantinya dengan aku yang bertanya ke dia, bagaimana hari ini, apa ada cerita baru, sedang apa dia akhir-akhir ini, bagaimana perasaannya, dan hal-hal remeh lain. Aku ingin setidaknya bisa menyapanya sebagai seorang teman dari waktu ke waktu.
Hal yang aku dapatkan, berbeda jauh dari yang aku harapkan. Dia mulai bercerita tentang kesulitannya, keresahan, kecurigaan, kemarahan, kesedihan, bahkan sampai bagaimana dia begitu iri denganku. Awalnya, kukira itu biasa. Mungkin, sebagai seorang teman, kita harus menjadi tempat sampah satu sama lain. Jadi, aku terima sampah-sampahnya.
Tapi saat aku mencoba untuk nyampah ke dia, balasannya sama dengan sebelumnya, "Eh, maaf ya, aku sibuk banget." atau kalimat semacamnya dengan nada yang sama. Atau bahkan, menghilang sama sekali.
Lalu, aku menghilang juga.
Kukira demikian. Tapi aku lahir dari Bapak yang bahkan bisa dapat teman baru diusia 60 tahunnya, lalu makan sate yang kata teman barunya itu enak banget tapi ternyata malah bikin mulas Bapak.
Maksudku, kukira menjadi teman adalah menjadi tempat sampah untuk si teman, tapi tidak demikian. Mungkin kawanku itu memang sibuk. Mungkin ia sudah menanggung beban seberat itu sampai-sampai tidak bisa kubagi sedikit bebanku.
Berteman bukan untuk sambat.
Mungkin, berteman sebagai orang dewasa adalah mencari tempat makan sate bareng, atau membahas tentang bagaimana cara kucing berlari, atau sekadar bengong di kafe sambil melihat hujan deras.
Obrolan juga tidak harus melulu tentang diri sendiri. Mungkin bisa tentang kucing, anjing, babi, platipus, gajah, beruang, atau ngengat.
Sekarang, ada beberapa orang yang bisa dan mau ajak ngobrol tentang hal-hal itu. Kadang, mereka juga memulai obrolan semacam itu. Karenanya aku sayang mereka ❤
Satu hal yang pasti, aku dan semua orang lain, selalu bisa ngobrol tentang hal-hal paling aneh dengan diri sendiri.
Kalau obrolan itu sudah keluar menjadi sebuah tulisan, bisa jadi kamu dan aku dan semua orang lain akan ikut ngobrol juga.