sekar ๐Ÿ’

Perpustakaan Pertama Tahun Ini

Sepagi sampai siang tadi, aku mendekam di perpustakaan daerah. Hanya mengerjakan pekerjaan saja di depan laptop dan sesekali ke toilet. Lumayan 50% target kerjaku terpenuhi disana. Biasanya 50% itu aku capai dua atau tiga hari di rumah. Mungkin karena aku merasa termotivasi dengan orang-orang lain yang terlihat sangat sibuk, atau karena aku suka dengan suasana perpustakaan, atau sesederhana karena sudah mau deadline aja wkkwkw nggak tahu, yang jelas, menurutku lumayan menyenangkan bekerja di perpustakaan.

Ini pertama kalinya aku mengerjakan pekerjaanku di perpustakaan. Biasanya aku ke perpustakaan benar-benar hanya untuk kesenangan saja. Kadang bersama satu dan/atau dua kawan, sekadar mengobrol sambil duduk-duduk tanpa harus bayar biaya kopi dan kursi. Kadang hanya dengan diriku sendiri, membaca Babad Tanah Jawi dengan terkantuk-kantuk lalu menahan tawa di halaman berikutnya. Kadang sekadar melihat-lihat banyak buku tanpa benar-benar membacanya.

Perpustakaan di kampusku dulu sebenarnya enak untuk nugas. Tapi aku justru kurang nyaman dengan model perpustakaan-tanpa-buku. Jadi, aku mencari perpustakaan fakultas yang mau tidak mau harus melewati rak-rak buku untuk mengakses wilayah nugas. Perpustakaan daerahku ini juga ada tempat yang tidak ada bukunya, cukup dengan meja, kursi, dan colokan, semua orang bisa berbahagia mengarungi dunianya sendiri-sendiri. Tapi tetap saja buatku dikelilingi tumpukan buku rasanya lebih nyaman.

Saat pekerjaanku sudah lumayan membosankan, aku akhirnya berkeliling dan mencari buku untuk dibaca atau mungkin dibawa pulang. Kali ini, aku memilih Doctor Zhivago karya Boris Pasternak yang diterjemahkan oleh Kanaya. Aku tertarik karena bukunya masih baru banget wkwkkwkw Jarang kan nemu buku baru di perpustakaan.

Juga karena bukunya tipis sih. Total ada 130 halaman. Karena awal tahun kemarin aku begitu fokus untuk ngumpulin duit demi mendekati perpustakaan ini, aku jadi tidak terlalu banyak membaca buku. Juga karena reading slump sih. Rasanya akhir-akhir ini nggak banyak buku yang bisa bikin aku begadang demi menyelesaikan bab berikutnya. Tak apa, menurutku sebuah hobi memang harus ada masa capek dan semangatnya masing-masing. Kemarin-kemarin kan aku sedang semangat belajar menjahit, jadi membaca agak tersingkirkan. Nggak mungkin kan baca sambil menjahit. Dulu waktu semangat-semangatnya merajut knitting, justru bacaanku juga banyak. Karena entah kenapa dan bagaimana, aku bisa merajut knitting nyaris tanpa melihat pergerakan tanganku. Kalau merajut crochet, aku seperti tidak bisa diganggu gugat, harus konsentrasi pun kadang masih salah hitungan wkwkwkkw Kalau menjahit, aku cuma tidak ingin kehilangan terlalu banyak darah kalau sambil membaca buku. Sampai sekarang, aku masih belum menemukan pelindung jari saat menjahit. Yahhh tapi sekarang menjahit juga rasanya agak membosankan bagiku, karena aku belum ketemu bahan-bahan kain yang bisa dengan nyaman aku gunakan. Jadi rasanya menjahit tuh agak... sia-sia? Karena baju-baju yang aku jahit pada akhirnya terasa terlalu panas buatku. Belajar dari tumpukan bermacam benang yang aku beli saat sedang semangat-semangatnya merajut, aku tidak ingin mengorbankan uang dan ruangku untuk kain-kain yang masih belum jelas apakah sesuai dengan seleraku.

Jadi, aku kembali memaksa diriku untuk membaca lagi. Ada beribu buku di perpustakaan itu yang bisa aku baca dan sudah sangat dekat untukku bisa meraihnya sekarang.

Aku juga meminjam Maktub karya Paulo Coelho yang diterjemahkan oleh Tanti Lesmana. Aku tertarik membaca ini karena katanya buku ini berisi kumpulan cerita, jadi mungkin akan lebih mudah bagiku yang masih agak reading slump ini untuk membacanya. Juga karena aku suka Sang Alkemis sih hehehehe

Di ponselku, aku sedang membaca The Life of a Stupid Man karya Ryunosuke Akutagawa yang diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Jay Rubin dalam bentuk buku digital. Aku dapat file buku itu dari seorang pengguna X yang dulu mengumpulkan seri Penguin Little Black Classics. Yaaaaa bajakan..... hehehehehehehe

Udah begitupun, seminggu ini masih 8% progressnya. Satu sisi karena agak bosan dengan membaca dan mendengarkan dan melihat dan bercakap dalam bahasa lain mulu. Satu sisi lain adalah karena aku merasa sendirian kalau baca buku-buku seperti ini hehehee

Dibandingkan dengan membaca buku-buku dari perpustakaan, perasaannya sangat jauh berbeda. Di buku Maktub yang aku pinjam ini tadi, sebagai bonus, ada greeting card dari sebuah toko online dan potongan struk belanja sebagai penanda buku. Karena Doctor Zhivago baru aku yang meminjam, jadi masih bersih. Tapi dengan hal kecil seperti menemukan penanda random di buku pinjaman itu, aku merasa tidak lagi sendirian. Secara tidak langsung, aku dan si peminjam sebelumnya berkenalan tanpa tahu nama dan rupa.

Tadi aku juga membuka buku tentang desain-desain rak buku. Bukunya dalam bahasa Inggris dan seharga $1.95 dan terakhir kali dipinjam oleh pemustaka pada tahun 1997. Aku tidak terlalu ingat judulnya, buku itu sudah lumayan usang tapi masih terbaca dengan baik karena mendapat perawatan yang baik. Lain waktu akan aku baca dengan lebih serius. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuatku nyaman berada di perpustakan-yang-berbuku.

Banyak yang mengeluhkan buku-buku perpustakaan yang kurang up to date dan kurang banyak topik dan hanya tersedia sedikit saja jumlahnya. Menurutku, semua itu justru nilai tambahnya. Buku-buku lawas jadi saksi banyak hal; seorang mungkin pernah melahirkan tulisan lain, orang lain bisa jadi menemukan kehidupan baru dari buku itu, atau keterampilan baru yang tidak disadari berawal dari satu potong kalimatnya, dan mungkin seseorang jauh setelahnya menyentuh kenangan-kenangan itu dalam bentuk buku usang yang terawat di perpustakaan. Seperti tadi, kadang ada buku baru yang seperti harta karun saja kalau berhasil nemu. Batasan juga perlu diadakan; karena batas adalah ukuran untuk berhenti atau mencari di luar itu, juga untuk menjagamu dari bahaya, dan dengan membatasi diri seorang manusia bisa berpikir kemudian bertanya lebih banyak hal lalu menemukan lebih banyak jawaban dan pertanyaan.

Dunia yang sekarang ini nyaris tanpa batas. Berada di tempat-tempat yang membatasi diri seperti perpustakaan begini rasanya seperti liburan ke desa terpencil setelah seumur hidup berada di kota-yang-semua-serba-ada. Ironisnya, perpustakaan ini (dan yang begini-begini ini) biasanya hanya ada di kota saja.

Yah, setidaknya aku juga sambil belajar memahami orang-orang yang bisa bertahan hidup di kota. Oke, cerita ini untuk lain waktu. Aku mau lanjut baca Doctor Zhivago sambil lembur kerja (lagi) hehehehe

Semoga mimpi indah!

Postingan ini diedit 1ย minggu, 4ย hari yang lalu.

|

#buah-pikir