Review Pembalut Kain NadNad
Ini aku udah ngantuk banget, tapi pengen mengeluarkan sedikit isi kepala biar bisa tidur dengan nyaman. Tulisan ini agak vulgar kalau pembaca tidak biasa membaca tentang kesehatan alat kelamin wanita. Aku nggak ingin sensor kata-kata yang memang deskripsi biologis dari salah satu organ yang aku miliki.
Kalau mau langsung baca bagaimana ulasan pembalut kain merek NadNad, bisa langsung kesini.
Semua link yang ada aku cantumkan disini bukan link afiliasi, kalau misal tetiba terdeteksi sebagai afiliasi, aku nggak tahu kenapa. Aku cuma copas dari website shopee versi desktop saja.
Sudah sejak bulan 10 tahun 2023 lalu aku pakai pembalut kain dari NadNad. Aku beli di shopee Bunda Altaf Clodi seharga kurang dari 60 ribu udah sama ongkir. Aku punya dua set lengkap, yang masing-masing setnya berisi satu pembalut malam, satu pantyliner, dan dua pembalut siang. Jadi, untuk dua set pembalut pakai ulang itu, aku hanya mengeluarkan uang 120 ribu selama tiga tahun ini.
Alasanku memilih untuk pakai pembalut kain adalah selangkanganku nyaris selalu iritasi kalau pakai pembalut sekali pakai. Awalnya, aku merasa tidak masalah karena dulu awal-awal menstruasi aku baru akan iritasi setelah hari ke-tiga. Tapi lama-lama aku kesel juga karena mau pakai merek pembalut sekali pakai apapun, aku akan iritasi pada hari pertama.
Mind you, iritasi di bagian selangkangan adalah hal terakhir yang bisa dibayangkan saat menstruasi.
Ini udah untung aku jarang sakit fisik yang parah banget saat menstruasi. Tapi sebel juga kalau mental sedang down dan selangkangan tidak bisa diajak duduk, jalan, atau sekadar berdiri pun tidak nyaman, terus harus gimana diri ini?????
Akhirnya, saat ada kumpulan Ibu-Ibu di RT dan katanya akan mendatangkan sales pembalut kain berbahan bambu, aku titip ke Ibuku, siapa tahu bisa beli. Ibuku setuju dan membelikanku satu set pembalut kain seharga nyaris 300 ribu. Tentu saja, dicicil setiap bulan. Karena memang hanya bisa beli dengan cara nyicil.
Pembalut kain pertamaku itu sama sekali nggak nyaman. Aku bahkan ragu kalau bahannya adalah serat bambu beneran. Karena setelah dicuci dengan lerak pun langsung mbrudul seratnya. Selain itu, karena modelnya adalah pembalut luaran dengan insert, jadi rasanya amat sangat tebal di selangkangan. Setidaknya dari pembalut pertama berbahan kain ini, aku tahu kalau pembalut kain tidak membuatku iritasi sama sekali. Jadi, alih-alih merasa puas karena tidak lagi iritasi, aku sering badmood karena merasa pakai popok super tebal sepanjang hari.
Itu aku miliki waktu SMA tahun terakhir. Aku hanya pakai pembalut kain kalau sedang ada di rumah saja. Kalau di sekolah masih mens, aku masih pakai pembalut sekali pakai demi menghindari perasaan pakai popok super bulky.
Bentuknya kurang lebih seperti ini, tapi dengan insert tambahan di tengahnya. Aku coba cari-cari gambar yang sesuai belum ketemu.

Aku hanya pakai pembalut itu sampai…… tahun pertama kuliah? kalau tidak salah? Nggak terlalu lama sih pakai itu. Belum ada dua tahun yang jelas. Karena Ibu ngomel berat dengan kualitas pembalutnya yang sudah nggak layak lagi bahkan sebelum masa habis pakainya.
Setelah itu, aku setiap bulan selalu nyetok pembalut merk softex daun sirih. Pembalut itu yang paling cocok denganku karena tidak ada gelnya dan nggak terlalu bikin iritasi yang parah. Meskipun kalau lagi mens sampai seminggu penuh tetap bikin iritasi dihari-hari terakhir di aku. Dulu awal-awal tahu pembalut itu, nyarinya susah banget. Sampai-sampai kalau nemu pembalut itu dimana aja, aku langsung beli banyak kalau hanya ada kemasan kecil. Dulu juga lumayan mahal dibanding merek lain dan seri lain yang masih pakai gel.
Aku kurang suka pembalut sekali pakai yang pakai gel karena tidak terlalu membantu menyamarkan rasa tergelitik dari darah-darah yang menggumpal dan bikin risih parah. Juga karena aku terbiasa membuang pembalut sekali pakai setelah dicuci dulu, sehingga memengaruhi pengalaman mencuci juga. Mencuci pembalut dengan gel adalah pekerjaan paling menyebalkan yang bisa dilakukan saat mens. Capek banget, mana sering keluar-keluar pula gelnya. Juga nyebelin karena berantakan banget.
Intinya, selama bertahun-tahun aku bertahan dengan pembalut softex daun sirih.
Tapi hehehehehe
Tapi nih ya. Karena kadang aku bisa mens waktu sedang libur kuliah, aku jadi sering bereksperimen sendiri.
Aku pernah beli kain popok bayi(?) apa sih yang memang biasa buat bikin popok anak-anak itu pokoknya. Lalu kupotong-potong sendiri dan ngide dibentuk sendiri sebagaimana pembalut. Itu nyaman banget. Lembut pol. Cuma kekurangannya, kalau tidak terlalu fokus dalam menata posisi kain dan celana dalam, udah bubar aja itu pembalut wkwkkw
Kadang aku pakai peniti untuk menjaga mereka semua bersatu melawan kebar-baran langkah kakiku. Kadang, aku posisikan sedemikian rupa sehingga mirip kalau sedang pakai popok wkkwkww
Tapi aku paling nyaman pakai pembalut DIY itu. Selain lembut, adem, dan nyerap banyak darah cair, juga bikin gumpalan darah yang keluar tidak terlalu menggangguku. Juga sama sekali nggak iritasi hihihihi senang sekali. Tapi memang agak ribet sih.
Jadi yaaahhhh selama beberapa tahun aku pakai pembalut softex daun sirih dan pembalut lain seadanya kalau dompet sedang tipis dan pembalut kain DIY kalau di rumah (atau kalau terpaksa banget waktu nggak ada duit buat beli pembalut dan harus kupakai waktu kuliah hehehe). Jangan tanya apakah aku merasa terampok selama tahun-tahun itu. Jelas rasanya seperti dirampok besar-besaran. Mahal cuy! Padahal setiap bulan waktu itu aku bisa mens selama seminggu lebih.
Mulai tahun 2019-an, oh yeah pandemi hits kan. Terus aku udah punya uang sendiri (kaya raya aamiin), jadi bisa kubelanjakan sesuka hati.
Terkait kesehatan vagina ini, aku langsung mulai cari-cari alternatif pembalut yang lebih murah terutama dan yang nggak bikin iritasi. Pencarianku tentu saja dimulai dengan menstrual cup. Karena aku masih kurang percaya dengan pembalut kain lainnya yang katanya terbuat dari serat bambu tapi harganya cuma 20 ribuan sebiji.
Aku tertarik banget untuk coba menstrual cup karena secara teori wilayah selangkanganku nggak akan terpapar apapun kalau pakai itu. Juga menurutku paling menarik karena bisa ngelihat secara langsung seberapa banyak darahku keluar. Kan seru tuh bisa nyatet berapa mili darah yang keluar selama masa menstruasi. Jadi, aku coba minta izin ke Ibu untuk mencoba menstrual cup karena aku sama sekali belum pernah messing around dengan vaginaku. Pertimbanganku adalah Ibu merupakan orang pertama yang aku tahu sama-sama punya vagina dan sudah menggunakannya secara maksimal sekurang-kurangnya tiga kali wkkwkw Jadi, aku minta izin.
Dan nggak diizinkan.
Alasan Ibuku adalah alasan klasik Ibu-Ibu Asia: "Takutnya nanti suami nggak puas." WKWKWKWKKWKWKW GEDHE
Aku tentu saja nggak setuju dengan pernyataan aneh itu. Tapi karena yang mengutarakan adalah Ibuku sendiri, aku manut saja. Aku masih anak perempuan satu-satunya bagi beliau. Jadi, kuurungkan untuk mencoba menstrual cup.
Tapi ada seorang kawan dekatku (Bu Guru F.ANU) yang pakai menstrual cup. Aku pernah tanya dikit-dikit ke dia, katanya nyaman aja pakai menstrual cup. Sampai sekarang aku masih pengen nyobain, tapi kupendam saja dulu.
Review
Toh setelah itu aku yang kebanyakan uang ini (hahahhahaha) iseng nyoba beli pembalut NadNad online. Aku beli di toko yang sama dua kali karena ternyata satu set nggak akan cukup dipakai selama seminggu. Sampai beberapa tahun lalu, sesi menstruasiku masih nyaris seminggu penuh atau paling singkat adalah lima hari.
Pertama kali pakai pembalut itu rasanya nyaman banget. Kain dalamnya lembut dan aku suka dengan bentuknya yang menutupi bagian celana dalam yang sering bocor waktu pakai pembalut kain sebelumnya. Itu baru waktu pakainya saja. Setelah pakai, tentu saja harus dicuci. Pengalaman mencucinya ini yang bikin aku terheran-heran. Kok bisa ada kain yang se efektif itu menahan darah tapi gampang banget dicucinya. Bener-bener gampang banget.

Sarannya, proses pencucian pembalut ini adalah direndam dulu selama beberapa menit dengan sabun cuci yang lembut seperti sabun lerak atau sabun cuci baju bayi. Tapi misalnya harus pakai deterjen cair pun katanya tidak masalah. Nah, aku pernah iseng aja itu nyuci pakai sabun cuci tangan wkwkwkkw ngide banget. Tapi aku penasaran kan apa kain ajaib ini bisa menang melawan keanehan ideku. Ternyata masih bisa dong. Bahkan karena sudah sering pakai, aku sering cuci pembalut ini tanpa direndam dulu. Itu juga masih gampang banget bersihin noda darahnya.
Ini aku ngomongin kain bagian dalam ya. Kalau noda darah di kain bagian luar, sama susahnya dengan membersihkan noda darah di kain celana dalam. Iya, segampang itu bersihinnya.
Sampai situ, aku cocok banget sih sama pembalut dari NadNad ini. Dari segi bentuk aku suka. Dari segi ketahanan akan penggunaan ekstrim aku juga suka. Dari segi keawetan produk, ini nih yang mau aku tekankan.
Tahun ini sudah tahun ketiga aku pakai pembalut yang sama. Jujur, seingetku aku baca pembalut ini bisa dipakai selama lima tahun. Entah ingatan dari mana itu, tapi setelah kemarin aku baca lagi, hanya bisa dipakai selama dua tahun saja wkwkkwkwkwkwkwk Parah banget.
Pantas, waktu pakai pembalut kain akhir-akhir ini aku sering kena iritasi menjelang hari terakhir menstruasi. Saya anaknya memang agak bandel kalau dengan hal-hal seperti ini. Kukira, kulit selangkanganku aja yang lagi rewel. Karena udah empat bulan ini aku nggak waxing jadi kukira lingkungan yang super duper lembab karena faktor rambut kemaluan yang menyebabkan iritasi. Kadang emang suka iritasi sendiri tanpa berkabar kalau sudah se… nggak terawat ini wkwkk
Tapi sekarang aku tahu kalau ini semua karena kebandelanku sendiri.
Pembalut yang aku pakai sekarang kondisinya sudah agak kasar di kain bagian dalam dan kain bagian luarnya jadi jauh lebih susah untuk dibersihkan. Mau direndam semalaman pun masih nggak rontok itu noda-nodanya. Juga bikin iritasi. Jadi, memang harus ganti.
Tapi jujur kalau aku menempatkan diri sebagai diriku sendiri waktu kuliah, mungkin aku masih akan bertahan sampai beberapa bulan lagi dengan pembalut itu. Karena masih lumayan enak dipakai daripada pembalut sekali pakai. Juga agak lebih hemat aja sih. Tapi aku yang sudah punya hak atas uang-uangku sendiri ini, secara logis memang harus beli baru.
Pengalamanku dengan pembalut tidak berhenti di pembalut NadNad saja. Aku pernah diberi satu plastik yang isinya pembalut kain semua dari seseorang. Orang itu adalah orang yang sama yang diajak diskusi oleh Ibuku tentang menstrual cup, sehingga ada pengaruhnya juga orang itu ke pengambilan keputusan masalah penampungan darah mens ini. Orang itu dapat pembalut kain sebanyak itu dari orang lain yang kenal aku dari anaknya yang suka banget ngobrol sama aku dan katanya sering banget ngomongin aku sampai nyaris setahun setelah kami terakhir ketemu. Kondisi pembalut-pembalutnya masih baru semua, bahkan masih ada yang dibalut dengan kertas-kertas kemasannya. Pemilik awal pembalut-pembalut ini memang orangnya kebanyakan uang (beneran) dan lumayan concern dengan lingkungan. Dia beli semua pembalut kain yang pernah dia temui untuk dicoba katanya. Tapi dia sendiri tidak cocok pakai semua pembalut itu, ribet mencucinya katanya. Waktu declutter sambil mendengarkan anaknya cerita tentang aku (ini beneran diceritain begini), dia memutuskan untuk membuang semua pembalut yang pernah dicobanya dan memberiku pembalut-pembalut yang masih baru lewat orang yang mengenalkan kami. Yah, ceritanya memang panjang. Nggak penting juga.
Aku menerima pembalut-pembalu itu dengan senang dan heran hati. Beneran ada ya orang yang rela membelanjakan uang 100 ribu rupiah untuk sepotong kain pembalut? Karena aku tahu beberapa merek pembalut yang harganya nggak main-main dan masih terbungkus rapih di kemasannya. Aku udah tahu sebelumnya tentang beberapa merek pembalut lokal yang punya banyak cerita dibaliknya. Seperti salah satu pembalut yang aku terima adalah pembalut yang memotong labanya untuk membantu teman-teman perempuan yang kekurangan produk kesehatan wanita dasar seperti pembalut. Harganya memang terhitung mahal untukku, desainnya juga aku kurang cocok duluan, tapi cerita dan niat dibalik produk itu yang aku hargai mahal. Dulu, aku pengen banget beli produk-produk dari merek serupa dengan ikhlas. Sayang, isi dompetku belum sampai pada tingkat yang bisa dengan bahagia menikmati cerita-cerita demikian.
Aku masih harus puas dengan membeli pembalut kain yang 100 ribuan lebih dikit sudah dapat dua set yang cukup untuk satu sesi menstruasiku yang entah kenapa semakin kesini semakin singkat saja. Terakhir kali mens ini cuma tiga hari sudah habis darahku. Tapi memang lemes banget jadi tiap hari harus menelan etabion. Aku masih bersyukur banget bisa menjaga kesehatan diri sehingga waktu menstruasi nggak sakit sama sekali. Untuk kesehatan mental wkwkwkwkw ambruk juga sih kemarin. Adikku yang selalu peka banget kalau aku lagi mens dan tetiba nangis aja nggak tahu kenapa. Kemarin dia aku usir dengan galak karena berusaha mencuri saldo gopay dariku waktu aku nangis tiba-tiba. Sialan memang. Dikira orang nangis nggak punya kesadaran akan uang apa ya.
Tapi menurutku, kalaupun aku punya banyak uang sebanyak itupun aku masih akan memilih pembalut NadNad ini sebagai pembalut utama. Canggih banget kainnya wkwkw
Oh, aku masih punya beberapa stok pembalut softex sekali pakai kok. Selalu aku bawa satu di EDC pouch ku juga. Sekarang kalau keluar waktu mens pun, kadang aku juga pakai pembalut NadNad. Tapi aku lebih sering berdiam diri di rumah kalau sedang menstruasi. Aku cuma nggak mau menunjukkan muka njaprutku ini ke dunia luar yang indah ini. Juga aku memang nyaris nggak punya alasan buat keluar sih wkwkkwwk
Anyway, aku cukup puas dengan pembalut NadNad ini bahkan setelah punya kesempatan mencoba banyak pembalut lain.
Oh, pembalut-pembalut mahal yang diberikan padaku itu juga kadang aku pakai. Misalnya sehari-hari saja kalau sedang merasa keputihan atau entah kenapa kadang keluar cairan bening gitu yang nggak akan nyaman kalau langsung ditampung oleh celana dalam.
Yap, intinya aku suka banget dengan pembalut kain dari NadNad ini. Aku juga suka namanya hihi lucu.
Aku sering merekomendasikan pembalut ini ke teman-temanku yang mengeluh tentang iritasi saat pakai pembalut sekali pakai. Tapi memang catatan besar untuk teman-teman perempuan yang super duper aktif sehari-harinya. Menurutku, pakai pembalut kain yang bagaimanapun akan tetap terasa lebih bulky dibanding pakai pembalut sekali pakai atau menstrual cup atau tampon. Juga harus dicuci bersih yang relatif membutuhkan banyak air dan kering dengan cepat. Itu yang kadang bikin orang menyerah pakai pembalut kain. Gaya hidupku yang memungkinkanku untuk mendekam di dalam rumah sambil menunggu pembalut kering saat mens yang bikin aku sesuka ini dengan pembalut kain. Aku juga lebih suka mencuci semua bajuku dengan tangan, jadi nggak terlalu repot buatku. Tentu saja, gaya hidup yang seperti ini nggak mungkin dimiliki semua perempuan di dunia.
Tapi kalau ada perempuan yang mengeluh tidak nyaman dan sakit karena iritasi pembalut sekali pakai mampir kesini, aku bisa dengan bahagia menyarankan pembalut NadNad ini. Cuci dengan sabun cair apapun yang ada di rumah pun sudah bersih. Hemat dan nyaman~ hihihi
Sebagai catatan, untuk barang seperti pembalut NadNad ini, aku tidak ingin bikin sendiri karena sudah suka banget dengan kualitasnya. Terjangkau untukku dan awet dan memuaskan dan namanya lucu!
Tambahan catatan, kalau ada yang berminat membeli pembalut ini dan pengen tahu cerita dibaliknya, bisa cek di website mereka, lumayan lengkap mereka menjelaskan bermacam hal. Juga ada link agen-agen resmi mereka. Aku ternyata dari awal sudah beli dari agen resmi mereka. Kemarin juga orderan dua set pembalutku sudah sampai. Begitu sampai, langsung teringat betapa lembutnya kain bagian dalam pembalut itu wkwkw Karena yang punyaku udah mbrudul parah.
Segitu dulu tentang pembalut dan banyak TMI kesehatan vagina dan kawan-kawannya. Panjang kali aku cerita.
Salam sehat!
4 - 9 Oktober 2026,
Sekar💐❤️🙆♀️
Previous |