sekar πŸ’

Setengah Ekor Kucing, Dua Pembunuhan, dan Satu Anaknya

Postingan ini diedit 1Β jam, 28Β menit yang lalu.

Tanaman, kelinci, jamur pupuk, scoby kombucha, dan manusia lain adalah hal-hal yang pernah dipelihara oleh keluargaku. Kami belum pernah punya seekor kucing pun.

Hanya saja, dalam beberapa kali kesempatan, aku mendapati satu atau dua kucing yang sering mampir sekadar berjalan-jalan atau minta makan. Pernah suatu kali ada yang sering minta makan dan sampai kubelikan katsuobushi karena dia suka dengan makanan itu (aku tahu dia suka karena sering minta jatah kalau aku sedang makan nasi dengan katsuobushi). Lain kesempatan, ada seekor kucing milik tetangga yang sering melatih kemampuannya berburu tikus di rumahku. Tikusnya selalu hanya terluka atau mati dengan sedikit luka. Dia tidak pernah makan tikus-tikus itu. Ada juga kucing yang mampir tidur dan makan sesekali dan menemaniku berjaga malam di rumah lalu tiba-tiba menghilang entah kemana.

Kali ini, setelah kucing terakhir itu menghilang, ada seekor kucing yang agak cerewet (suaranya nyaring dan banyak nadanya) datang dengan ekor aneh. Ada luka yang masih basah bahkan seminggu setelah dia datang dan dia tidak ingin disentuh oleh orang tapi tidak ingin berada terlalu jauh juga dari orang. Gerak-geriknya seperti selalu ketakutan dan waspada, entah kepada apa. Jadi, kami biarkan saja dia. Kadang diberi makan nasi dan ikan keranjang karena cuma itu amis-amis yang sering dimakan orang rumah. Dia mau dan bahkan kadang mencari kadal atau tikus atau burung sriti atau tupai atau ikan sendiri. Kadang juga bawa ayam goreng yang entah dapat dari mana. Dia juga suka makan tempe dan edamame. Intinya dia kucing yang lumayan lah.

Dia sudah punya 'ruang' sendiri di rumah ini. Meskipun dekil dan tidak pernah mau kalau dimandiin, dia tergolong kucing yang bersih. Makanannya selalu dihabiskan bersih, tubuhnya selalu dalam keadaan yang bersih dari debu, dan tidak sembarangan buang air.

Tidak seperti kucing lain yang pernah bertandang di rumah kami, dia juga sering bisa diajak ngobrol dan sering membantu mengusir ular-ular yang dirasa akan membahayakan kami. Dia pernah kejar-kejaran dengan ular yang besarnya dua atau bahkan nyaris tiga kali lipat dari tubuhnya di depan rumah. Beberapa kali juga dia mengusir ular wedak gromo atau picung1 dari wilayah rumah kami. Dia juga lumayan bisa mengendalikan populasi kadal, tikus, dan tupai di sekitar rumah dan kebun kami.

|

Catatan kaki:

  1. Berdasarkan pencarian singkat di wikipedia itu namanya dalam bahasa Indonesia, tapi kurang paham bagaimana validitas informasinya. Yang jelas menurutku ularnya seperti lampu merah karena berwarna merah kuning hijau. Kata Bapak, ular apapun yang ada warna merahnya kemungkinan berbisa dan sebaiknya diusir atau dibunuh kalau sudah terlalu mendekati manusia. Menurutku, ular ini emang mukanya galak dan sudah mendekati ajal pun masih sangat galak. Aku pernah disuguhi bagian dalam mulutnya saat sedikit mendekat dan berencana akan menyiramnya dengan air panas karena dia masuk sampai toilet.

#buah-pikir