sekar πŸ’

Tanah Surga Merah

Masih hangat lah buku ini kuselesaikan.

Bahkan belum aku kembalikan ke perpustakaan.

Tidak salah aku menunggu sampai dua tahun setelah tahu keberadaan buku ini untuk membacanya. Lucunya, orang terakhir yang meminjam buku ini adalah seseorang dari dua tahun yang lalu.

Alasanku untuk tidak membaca buku ini sampai beberapa hari yang lalu adalah karena premis ceritanya yang menurutku kurang bisa kupahami. Mengambil latar konflik politik dan diceritakan dari sudut pandang seseorang yang berjuang untuk negerinya, aku merasa aku tidak akan paham tentang perasaan-perasaan yang akan kubaca dalam buku ini. Kemarin, aku memutuskan untuk mencoba memahami sesuatu yang baru.

Benar saja, awal-awal cerita aku sama sekali tidak paham. Bahkan nyaris sampai akhir aku masih tidak paham juga.

Berulang kali tokoh utama terkena musibah di tanah kelahirannya, berulang kali pula ia harus kabur kesana kemari, bersembunyi demi menyelamatkan diri. Tapi satu-satunya protes yang dia ajukan adalah betapa bejatnya pejabat-pejabat yang ada di atas sana. Sudah begitupun dia masih begitu menyayangi tempatnya tumbuh besar itu.

Si tokoh utama berulang kali menyebut bahwa ia tidak bisa hidup di tanah lain. Ia tidak pernah nyaman berada di negeri orang.

Tapi di negerinya sendiri pun, sampai akhir pun, bahkan mungkin masih berlanjut setelah buku ini berakhir pun, ia diburu dan kematiannya adalah kenyamanan dan keamanan bagi orang-orang di sekitarnya.

Sampai menutup buku ini, aku masih belum paham kenapa ada seseorang yang begitu kerasnya mencoba mengubah pemerintah.

Padahal, ada satu kesempatan yang tokoh utama miliki untuk sekadar membuat pemerintahan kecilnya sendiri. Tapi dia justru merasa bingung, kesal, dan marah akan keadaannya. Saat di depannya ada orang-orang yang tidak bisa membaca dan mengaji dan bahkan shalat, dia justru memikirkan bagaimana ia bisa mengubah pemerintah yang menghasilkan rakyat terbelakang itu. Kenapa dia tidak membantu rakyat-rakyat kecil itu untuk membaca, mengaji, dan shalat? Kenapa dia tidak mau mengubah sebuah desa kecil terbelakang?

Si tokoh utama mau bergerak menuruti rakyat desa terbelakang itu juga karena dia tidak ada kegiatan lain dan ingin nyaman tentram saja, katanya.

Kalau ingin nyaman dan tentram, mungkin lebih baik tidak perlu ikut-ikutan merusuh? Cukup ada di sebuah desa, bertani, dan makan seadanya, mungkin?

Yah, sampai sini aku pun masih belum paham.

Beberapa kali aku tersentuh sesuatu yang berbau politik, beberapa kali pula aku dengan sadar berpaling darinya.

Jujur, seumur hidupku sebagai orang dewasa, aku belum pernah menyumbangkan satu suara untuk kepentingan politik. Aku golput. Aku tidak bangga karena memilih untuk tidak memilih siapapun dan apapun. Selama ini aku hanya tidak melihat siapapun membawa jalan yang ingin aku tempuh. Atau setidaknya juga memakai kacamata yang sama dengan yang kupakai. Aku hanya tidak setuju dengan yang baliho-baliho itu katakan. Kalaupun ada satu baliho yang berhasil berkibar lama setelah pemilihan, aku tidak berkomentar apapun dan kembali menjalani hari.

Mungkin harga beras yang kumakan memang jadi tambah tinggi. Mungkin uang yang kuhasilkan setelah bekerja keras juga jadi tidak lagi berguna. Tapi aku tidak menyalahkan orang-orang yang tidak aku pilih (bahkan lirik) itu. Aku hanya beradaptasi dengan segala yang harus kuhadapi. Kalau beras tidak bisa lagi kugapai, aku akan mencari talas liar. Kalau uang sudah tidak lagi berguna, aku akan mencari kertas lain yang akan lebih berguna bagiku.

Aku tahu, pandanganku yang demikian ini memperlihatkan sekali bahwa aku punya kemewahan tersendiri. Kemewahan untuk tidak khawatir dengan makan apa besok; karena turun ke kebun pun sudah ada makanan. Kemewahan untuk tidak khawatir akan harta-harta yang disimpan dalam bentuk apapun; karena memang tidak ada harta yang disimpan sih hehehe. Kemewahan untuk bisa menjalani hari dengan perasaan santai; karena aku belum pernah dikejar-kejar oleh sesuatu.

Kemewahan dan pilihanku untuk tidak memilih ini kadang disalahartikan sebagai ketidakpedulian. Lebih banyak yang tidak peduli memang, tapi bagiku, kalimat semacam "Aku tidak ingin tahu." sambil menjalani kehidupan tanpa merusak alam menurutku sudah cukup.

Aku tidak ingin tahu masalah politik karena aku belum pernah merasakan bahwa aku bisa terbantu oleh politik. Aku merasa sudah cukup hari-hariku dipenuhi mau makan apa besok; apakah masih nasi dengan sayur pakis liar hasil berburu kemarin sore, apakah ada garam untuk membumbuinya, dan apakah aku bisa berangkat sekolah dengan uang saku dua ribu untuk beli bakwan kawi. Itu saja sudah cukup. Kemudian setelah sedikit dewasa, aku juga sudah merasa cukup dengan berpikir sejauh mana aku harus menyekolahkan adik-adikku; apakah mereka cukup dengan satu pak buku tulis murah itu, apakah mereka bisa beli bensin untuk berangkat ke tempat KKN, dan apakah tanaman di kebun sudah bisa dijual.

Ternyata, ada kemewahan tersendiri saat kamu jadi orang miskin.

Tapi memang aku merasa sangat terbelakang kalau berbicara masalah politik. Seperti kepalaku akan sangat berasap kalau turut memikirkan keadaan negara.

Dulu waktu kuliah aku memaksakan diriku untuk mengambil beberapa mata kuliah ekonomi (yang kebanyakan juga harus paham politik kalau mau bisa jago disini). Pada akhirnya, aku menyerah. Semakin aku belajar tentang ekonomi, semakin aku tahu kalau aku memang kurang menyukai berurusan dengan angka yang dipisah-pisah per tiga digit itu. Apalagi cerita di balik tumpukan-tumpukan data yang tidak bisa semata-mata dilihat secara tersurat saja. Meski demikian, sampai dua tahun setelah aku lulus kuliah, aku beruntung masih bisa dipercaya oleh dosenku untuk membantu beliau mengumpulkan data-data tentang per-ekonomi-an Indonesia. Dari situ aku sedikit tahu bahwa memang benar angka yang ada di data-data itu tidak bisa hanya dibaca secara matematis, ada kegiatan politis dibalik sebaris sebuah data.

Sampai disini, aku jadi paham kenapa aku menghindari apapun yang menyinggung politik. Bahkan termasuk novel ini. Terutama novel ini. Karena nada politiknya sangat kental dan bahasanya sangat.... politis memang hehehehe

Setelah membaca novel ini, setidaknya aku tahu kalau tidak masalah menjadi tidak ingin tahu. Karena memang orang kecil biasanya seperti itu.

Mulai dari sini, aku ingin menjadi orang kecil yang setidak-tidaknya mau bersinggungan dengan pemikir-pemikir politik di atas sana itu. Setidaknya, lewat buku-buku yang dikemas ringan nan seru seperti novel ini.

Aku pernah baca Laut Bercerita jauh sebelum ini. Tapi aku masih belum membuka diri dengan urusan politik-politikan seperti sekarang, dan akhirnya aku kurang suka dengan bukunya. Mungkin aku akan kembali mengunjungi novel tersebut dengan pandangan yang berbeda. BTW waktu baca itu aku malah bayangin bagaimana Bapak dan Ibu ku pacaran, karena mereka hanya ngedate sehari waktu demo 98 di Jogja dan hanya memantau saja.

Latar tempat novel yang jauh dan sangat asing buatku justru bikin novel ini lebih menarik buatku. Karena banyak hal-hal asing yang terasa familiar, seperti hidup di hutan dan makan nasi lauk ikan asin dan bayam liar. Aku belum pernah ke hutan alami, tapi makan nasi dengan lauk seperti itu rasanya seperti rumah. Yah hal-hal kecil seperti itu yang bikin aku lanjut baca terus buku ini sampai-sampai hanya butuh waktu beberapa hari saja untuk menyelesaikannya.

Bacaan ringan yang menyenangkan.

4 Mei - 8 Mei 2026

Postingan ini diedit 1Β hari yang lalu.

|

#book #log