sekar πŸ’

Bahagia dan Kecewa adalah Efek Samping

20 Agustus 2023 - Bahagia Hanya Efek Samping

Judulnya sudah tertulis sejak lama. Tapi baru terwujud menuliskan ide utuhnya sekarang. Menurutku, bahagia bukanlah sebuah tujuan.

Bermula dari situ, makanya aku berkesimpulan bahwa bahagia hanyalah efek samping apabila kita mencapai tujuan. Contohnya adalah saat kita lapar, tujuan kita bisa makan dan kenyang. Saat makan atau saat sudah kenyang, kita akan bahagia. Contoh lainnya, ketika kita bisa memperoleh uang sendiri dengan hasil keringat sendiri, itu tujuannya. Jadi, ketika sudah dapat uang, kita bahagia. Bukan bekerja untuk bahagia.

Uang tidak memberikan kebahagiaan. Uang dapat membeli sesuatu yang efek sampingnya adalah bahagia bagi kita. Cantik tidak memberikan kebahagiaan. Cantik dapat menjadi pendukung kita mencapai sesuatu yang efek sampingnya adalah bahagia. Sesuatu itu bisa jadi pencapaian pribadi atau mungkin bisa mengekspresikan diri sesuai bayangan kita atau bisa apapun yang lain.

Jadi: tidak ada yang bertanggung jawab dan berhak atas kebahagiaan siapapun. Bahkan kebahagiaan orang tua sendiri. Kalimat "aku ingin membahagiakan orang tuaku, terutama Ibu" adalah bullshit buatku. Ibumu tidak berhak atas kebahagiaan yang kamu berikan. Pun kamu tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan beliau. Mau beliau bahagia atau tidak, itu terserah beliau. Yang jelas, kalau kamu punya tujuan yang berkaitan dengan beliau yang menurutmu akan memberikan efek samping bahagia bagi beliau, bagikanlah tujuan itu. Kalau bisa. Jangan dipaksakan. Jangan merasa bertanggung jawab juga.

Apalagi kalimat "aku akan bikin kamu bahagia" wkwkkwkwkw sangat lucu buatku. Lucu yang diselingi rasa iba juga, menurutku. Karena GR KALI KAU KIRA KAU BISA BIKIN AKU BAHAGIA WKWKWKKSKSKSKKSKS bahkan tujuan-tujuanku sendiri saja hanya beberapa yang bisa bikin aku bahagia (itupun dengan tanpa sengaja kerapnya). Jadi, jangan pernah membahagiakan siapapun.


Edit 08 November 2024 16:42

Aku hapus kalimatku sebelumnya:

Contoh lain lagi, tujuan kita adalah bisa mendapat apresiasi dan notice dari banyak orang dengan kalimat "Wah, pinter ya ranking satu." Sehingga, kita akan bahagia apabila kita ranking satu.

Kalimat itu kontradiktif dengan apa yang ingin aku sampaikan. Jujur aku agak malu untuk menghapus kalimat itu. Selama satu atau dua minggu ini aku berpikir untuk mengubah postingan ini, tapi maju mundur. Sekarang aku sadar kenapa aku begitu, akupun masih meletakkan kebahagiaanku ke orang lain.

Lucunya, aku sadar akan hal itu karena tadi dibeliin sprite dan es batu oleh adikku. Aku memang minta dibeliin sprite karena setiap datang bulan aku selalu ingin sprite untuk "melancarkan pendarahan" (entahlah, mungkin aku cuma pengen aja), jadi aku minta dibeliin. Adikku bilang, "Nggak usah disisain, minum aja semua. Sprite cuma sebotol kecil aja masih dibagi-bagi." Yah......... Memang biasanya aku begitu sih. Sekecil apapun barang atau hal yang aku punya, akan selalu aku bagi ke orang-orang disekitarku. Aku suka menikmati sesuatu bersama, jadi aku berharap mereka bahagia dengan aku yang bahagia melihat kita menikmati sesuatu yang sama bersama-sama. Tapi satu hal yang pernah juga aku tulis: bersama bukan berarti sama.


8 Januari 2026

Aku ingin tambahkan untuk edit yang terakhir itu sebagai penjelas. Bahagia bersama bukan berarti bahagia akan hal yang sama. Mungkin adikku dulu sudah bahagia dengan membelikan sprite untukku. Aku tahu kalau aku bahagia dengan ketersediaan sprite yang tinggal minum itu. Adikku mungkin justru merasa sedih kalau harus minum sedikit dari sprite yang sudah jadi mulikku itu. Perlu waktu yang lama juga untukku memahami kalau sebuah pemberian atau bantuan untuk orang lain bisa jadi malah memberikan efek negatif kepada si penerima. Ini mungkin akan aku ceritakan lain waktu.

Kemarin aku akhirnya menonton video dari channel Accepting The Universe ini. Awalnya aku tertarik dengan video ini karena judulnya. Berhari-hari pula aku download tanpa niat untuk nonton lebih lanjut. Tapi karena aku lihat playlist download-ku sudah banyak, jadi aku terpaksa nonton semua video yang sudah aku download, termasuk yang satu ini.

Sepanjang hari, aku juga terngiang-ngiang dengan judulnya. "If you're dissapointed, you are wrong" , aku pahami secara harfiah kalau kekecewaan adalah efek samping dari kenyataan lebih rendah nilainya dibanding harapan. Kalau aku merasa kecewa, berarti harapan atau ekspektasi yang telah dibuat adalah salah. Sebalinya, kalau ekspektasi atau harapan yang aku buat nilainya lebih rendah daripada kenyataan, aku akan bahagia. Semakin tinggi nilai kenyataan yang aku hadapi dibandingkan harapan, semakin aku merasa lebih bahagia.

Misalnya aku berharap aku mendapatkan upah senilai 3 untuk pekerjaan yang telah kulakuan dalam suatu periode. Kalau kenyataannya aku mendapat upah senilai 2, aku akan merasa kecewa. Kalau aku mendapat upah senilai 4, aku akan merasa bahagia. Apabila aku tidak mendapat gaji sama sekali, aku akan merasa lebih kecewa dibanding saat mendapat upah senilai 2. Kalau aku mendapat upah senilai 6, aku akan merasa lebih bahagia. Selagi menulis ini, aku jadi ingat salah satu bahasan di salah satu buku yang ditulis oleh Richard Thaler dan sedikit disinggung oleh Daniel Kahnehman. Apabila aku sudah punya kekayaan senilai 3 ketika mendapat upah tersebut, aku mungkin akan merasa bahagia yang biasa. Normal untuk seseorang yang bekerja mendapatkan upah atas pekerjaannya. Apabila aku sudah memiliki kekayaan sebesar 30 ketika mendapatkan upah tersebut, mungkin kebahagiaanku tidak akan sebesar skenario sebelumnya. Sebaliknya, apabila aku tidak memiliki kekayaan sama sekali ketika mendapatkan upah tersebut, aku bisa dipastikan merasa paling bahagia daripada dua skenario lainnya.

Aku berharap aku bisa menjelaskan isi kepalaku dengan lebih jelas untuk hal-hal semacam ini. Dari kemarin aku berpikir bagaimana menjelaskan itu semua dalam bentuk visual, tapi aku menyerah hehehe Intinya adalah:

Tingkat kebahagiaan dan kekecewaan bergantung pada harapan dan apa yang sudah dimiliki sebelumnya.

Aku menyebut nilai juga karena aku bingung menjelaskan apa sebutan untuk itu. Karena terkadang, harapan tidak selalu tentang angka.

Disinilah penjelasan dari video yang kumaksud masuk. Dia mengawali videonya dengan bahwa setiap orang yang kita temui selama hidup ini adalah sesuatu bagi kita. Kitapun juga demikian bagi setiap orang yang kita temui. Misalnya saja kamu yang sedang membaca ini (yes, you~) adalah seorang pembaca untukku, fguv adalah seorang teman, dan si a adalah seorang kenalan. Sebaliknya, aku adalah seorang.... pemberak(wkwkwk) untuk pembaca, teman untuk fguv, dan kenalan juga bagi si a. Kita akan selalu memberikan titel untuk setiap orang yang kita temui. Titel itu tidak akan selalu setara bagi semua orang. Bisa saja fguv menganggapku sebagai kenalan lama, atau mungkin si a justru menganggapku sebagai musuh atau sahabat. Kita tidak pernah tahu.

Sejak dulu aku juga aku belum pernah memaksa seseorang memberiku titel sebagai seorang sahabat, bahkan teman. Karena kehidupanku yang nomaden, aku jadi merasa tidak terlalu perlu memberikan harapan lebih kepada orang-orang yang aku temui untuk menganggapku sebagai teman. Buatku, seorang teman adalah sesorang yang akan siap menemani, sedangkan aku sendiri sampai saat ini pun masih tercecer dimana-mana. Bagaimana mungkin aku bisa hadir secara utuh untuk mereka?

Tapi, disamping itu semua, aku menganggap semua hal yang pernah kutemui adalah teman. Setidaknya untuk saat itu. Karena itu, seperti yang dijelaskan di video, aku punya harapanku sendiri akan hubungan dengan teman. Aku berharap seorang teman akan hadir ketika aku merasa sedih dan bahagia. Aku berharap seorang teman akan bersedia berbagi dan membagi. Aku berharap seorang teman bersedia untuk ada setidaknya ada untukku saat aku masih menganggap mereka teman. Itu harapanku. Tapi aku tahu tidak semua orang bisa dan mau melakukan itu semua. Ada orang yang bersikap biasa saja dan menganggap aku ada kalau mereka membutuhkan sesuatu dariku, dan mereka masih menganggap bahwa itu adalah hubungan pertemanan. Dulu aku merasa kesal dengan orang-orang yang begini. Tapi semakin lama aku semakin menyadari kalau harapanku akan seorang teman masih sangat kekanak-kanakan. Teman-teman orang dewasa yang aku pelajari tidak selalu ada, tapi akan ada kalau aku memanggilnya. Dan hal-hal lain yang masih aku pelajari hingga saat ini.

Secara perlahan, aku jadi terbiasa dengan tidak mengharapkan apapun dari apapun. Bahkan akhir-akhir ini aku sampai kesulitan menyebut apa yang aku inginkan. Aku sempat merasa sangat sedih karena itu, tapi kemarin aku sadar kalau memang itu proses yang lumrah. Seperti yang ditekankan di akhir video yang kumaksud:

What if we didn't assign any roles to any one? What if we just stop living in that way? What if we just let people be the way they wanted to be?

Aku, tanpa sadar, sedang dalam proses membiarkan semuanya berjalan semaunya sendiri. Bukan dalam artian negatif.

Aku membiarkan orang-orang yang kuanggap sebagai teman menjadi dirinya sendiri tanpa berharap apapun. Aku membiarkan hujan turun tanpa mengharapkan terik atau bahkan pelangi. Aku membiarkan waktu berjalan selagi aku menunggu. Aku membiarkan kebutuhanku menambah daftar belanja tanpa berharap akan bisa bahagia dengan belanjaanku. Aku membiarkan adikku membelikan sprite atau merebutnya dariku tanpa berharap apapun dari situasi itu.

Tentu saja, aku masih bereaksi atas semua itu dengan berbagai emosi. Misalnya saja saat aku mengajak seseorang pergi dan dia tidak bisa, aku akan merasa sedih. Tapi sementara saja, karena sayang sekali aku dan dia tidak bisa main hari itu. Mungkin lain waktu, begitu saja responku. Atau saat adikku merebut sprite yang tinggal separuh dari botolku, aku hanya akan menertawakannya karena sudah kuganti isinya dengan air putih ehehhehehehe

Aku tidak merasa kehilangan apapun dengan membiarkan semua hal berjalan dengan sendirinya. Aku justru merasa lebih bebas dalam bereaksi atas semua itu.

Dulu, kalau aku mengajak seorang teman pergi dan dia tidak bisa, aku akan merasa sedih dan merasa menjadi teman yang bukan prioritasnya lagi. Masih begitu, setelah sekian waktu saat mengingatnya pun aku akan merasa tersingkirkan dari kehidupan dia karena "lain waktu" yang dia janjikan tidak pernah dia ingat.

Aku masih memberi label teman, keluarga, benda berharga, mantan kenalan, dan sebagainya atas semua hal yang aku temui. Tapi aku belajar untuk tidak menuntut apapun dari label-label itu. Bahkan dari diriku sendiri, aku jarang berharap apapun. Aku tahu batasku, jadi saat aku tidak bisa melakukan semua hal yang ingin aku lakukan, aku hanya tersenyum dan menuliskan di jurnal bahwa hari ini berjalan sebagaimana adanya. Lain waktu, aku akan melakukan satu per satu hal-hal yang ingin kulakukan.

Ini udah panjang banget, tapi aku ingin menambahkan sedikit lagi. Topik ini pertama kali bisa nyantol di kepalaku adalah saat aku nonton Itazura na Kiss alias Mischievous Kiss versi Jepang tahun lalu. Iseng saja, karena aku ingin tontonan yang ringan dan yang bukan berbahasa Korea atau Thailand. Itu pertama kalinya aku nonton, dan satu-satunya kalimat dan pandangan yang aku suka dari tokoh utama pria, Naomi Irie adalah:

I don't expect anything from you, anyway.

Aku lupa itu ada di episode berapa, tapi seingatku udah akhir-akhir waktu mereka udah nikah kalau ga salah. Tapi disitu aku sadar kalau si Irie beneran suka Kotoko apa adanya. Disitu, aku agak iri dengan Kotoko hehehehehehehe

Karena dia punya seseorang yang menyayanginya tanpa ekspektasi. Tapi, aku toh bisa melakukannya untuk semua orang yang pernah, sedang, dan akan kutemui.


edit 11 Januari 2026

Aku tahu ini tulisan udah lebih dari 10 ribu karakter, tapi ingin aku tambahkan catatan dikit lagi tentang kenapa aku memutuskan untuk menyertakan bagian pertama dan kedua dari tulisan ini. Aku baca dari awal lagi, aku sadar kalau ini adalah satu contoh bagaimana aku berkembang dalam menghadapi dan memikirkan sesuatu. Awalnya aku hanya peduli bahwa perasaan bahagia adalah efek samping dari sebuah tujuan yang tercapai. Lalu aku belajar untuk memperbaiki diriku sendiri yang masih meletakkan kebahagiaanku di tempat lain alih-alih diriku sendiri. Kemudian aku belajar lagi bahwa harapan akan orang lain juga akan memengaruhi bahagia dan kecewaku. Terakhir, aku belajar bahwa hidup tanpa berharap apapun tidak seburuk itu, mahalan aku merasa lebih bebas.

Tulisan ini mungkin akan bertambah seiring aku juga bertumbuh. Sementara ini, aku akan berhenti di 12.709 karakter.

Postingan ini diedit 1Β bulan yang lalu.

|

#buah-pikir