sekar 💐

Empat Vault Obsidian

Kemarin aku dengan semangat mengutak-atik linux mint cinnamon yang sudah bisa berjalan lancar ini. Aku bikin se-nyaman mungkin untukku menulis disini. Meskipun tidak banyak, tapi aku sudah cukup puas dengan hasil utak-atik kemarin. Berikut cuplikannya:

2026-01-07 04-45-42

Lalu pagi ini, aku memutuskan untuk membuka semua folder Obsidianku sebagai vault. Semua folder itu punya catatan-catatan yang berbeda. Ada folder yang mengandung catatan harianku sejak... entah kapan, 2021 mungkin? atau lebih awal lagi, entahlah. Yang jelas folder itu ada sejak pertama kali aku pakai Obsidian sampai tahun 2024. Ada vault lain yang dulu aku pakai sebagai rumah websiteku yang kubuat dengan Hugo. Demi kenyamanan saja aku pakai Obsidian sebagai aplikasi yang memudahkanku untuk mengisi templatenya. Vault yang masih aku pakai sampai sekarang (tapi terbengkalai), adalah vault kebunku. Aku membuat vault itu sebagai rumah untuk catatan-catatan yang aku hasilkan saat belajar mandiri. Tapi sampai hari ini, baru ada satu catatan yang aku pamerkan disana. Sebenernya sudah ada beberapa draft, tapi belum aku terbitkan. Aku sendirikan vault itu karena waktu pakai plugin digital garden menurutku akan lebih simpel kalau aku punya vault khusus.

Terakhir vault yang sedang aku pakai untuk menulis ini. Ini adalah vault paling baru yang aku buat, baru menetas dua hari lalu. Alasan aku buat vault ini adalah aku akan mulai menulis di Obsidian lagi setelah satu tahun kemarin istirahat. Ada yang hilang tahun lalu saat aku memutuskan untuk tidak menulis secara digital. Mungkin karena tidak ada lagi cuitan-cuitan cepat di ponsel tanpa harus membuka internet, aku jadi relatif lebih banyak menghabiskan waktu di aplikasi penghibur seperti youtube dan pou setelah menghapus sosial media.

Tahun ini, aku ingin kembali menulis hal-hal aneh seperti betapa gantengnya typingku (wkwkwk) atau tentang semut minum dengan gawai yang selalu ada disekitarku. Bahkan ada suatu waktu dimana aku bangun tidur lalu setengah sadar tersenyum pada kotak kecil itu sambil berkata, "Hey, buddy." Sambil melirik jam berapa kala itu untuk aku tulis di daily log.

Namun aku merasa belum pernah ada pada kondisi kecanduan ponsel. Aku bisa menghabiskan satu hari penuh di depan halaman buku fisik dan ketawa ketiwi seperti orang gila. Aku masih suka menghabiskan waktu naik bus dengan melihat keluar dan membaca spanduk-spanduk unik di pinggir jalan. Aku masih lebih menyukai jalan-jalan atau sekadar ngobrol dengan manusia secara langsung. Sejauh ini, aku tidak pernah merasa harus punya ponsel demi tidak bosan dengan diriku sendiri. Bahkan beberapa waktu lalu aku sempat nyaris kehilangan ponsel karena kelalaianku sendiri. Tapi aku merasa tidak masalah dengan hilangnya benda kotak itu, sampai saat lapor dan akan menerima benda itu lagi, orang yang memberikan ponsel itu sempat ragu kalau itu barangku. Sebegitu santainya aku akan kehilangan ponsel, sampai ada yang tidak percaya kalau aku kehilangan barang berharga itu. Kalau diingat lagi memang lucu sih.

Aku justru lebih suka membuat diriku sendiri bosan demi mendapat satu atau dua kalimat aneh. Karenanya aku masih suka menghambur-hamburkan waktu liburku dengan naik bus dan menunggu bus Trans Jogja yang tidak jelas kapan datangnya itu. Terakhir kali aku menunggu bus dengan bahagia tanpa gangguan ponsel adalah November tahun lalu. Aku menghabiskan dua jam pagi itu dengan mengamati lalu lintas dan keramaian pasar Kranggan. Itupun setelah busnya datang, aku disuruh menunggu lagi karena pintu busnya rusak.

Kemudian aku berjalan saja ke halte terdekat lain untuk berubah rute. Semakin berjalan, baru sadar kalau lapar, lalu mampir makan soto daging dan ngopi hitam pahit. Sempat ditertawakan oleh Bapak penjual soto tentang selera ngopiku, dan lanjut berjalan dengan setengah gelas kertas kopi pahit di tangan. Sampai halte, selang habis satu kopi itu, bus lain datang dan aku bilang ke Mbak penjaga halte, "Yang nanti aja, Mbak. Mau nurunin kopi dulu." dengan senyum tipis dan alis setengah jadinya, si Mbak membalas, "Oh, mau ikut jalan-jalan aja, Mbak?" Hehehe aku mengangguk canggung, karena orang yang datang setelahku justru terburu-buru masuk bus. Mungkin sedang mengejar jam kantor. Sedangkan aku santai-santai saja di hari kerja itu.

Hari itu aku habiskan dengan ikut bus 2A sampai Condongcatur lalu memutuskan untuk melanjutkan membaca Babad Tanah Jawi di perpustakaan.

Sepanjang perjalanan, aku menuliskan detail-detail kecil itu di aplikasi notes yang aku download karena punya widget yang lucu, Bundled Notes. Aku ingin menuliskannya di Obsidian, tapi 10 detik untuk menunggu vault berisi 2500 catatan terbuka sangat merepotkan kala itu. Awalnya aku ingin bisa se-edgy menulis di jurnalku yang selalu kubawa di bus, tapi sekali pernah aku coba dan banyak orang melirikku dengan pandangan tidak suka. Bahkan pernah dimarahi dengan kalimat semacam, "Jangan sembarangan menulis tentang orang lain." Jadi, aku memutuskan untuk tetap menulis di ponsel saat ada sesuatu yang ingin kusimpan di ruang publik.

Oh, aku tidak akan berargumen tentang kenapa menulis tentang orang lain itu dilarang tapi merekam orang lain sudah jadi kebiasaan kepada orang yang memarahiku itu. Sudah cukup drama dilirik satu bus dengan aneh dan pandangan negatif karena mengeluarkan sebuah buku untuk hari itu.

Mari lanjut.

Kemudian aku membuat deklarasi. Kalau sewaktu-waktu ada kabar burung saja tentang dibuatnya widget di Obsidian, aku akan kembali menggunakan Obsidian sebagai rumah keduaku ngobrol dengan diri sendiri. Lalu beberapa hari yang lalu, youtuber langgananku yang sering bahas tentang Obsidian mengabarkan hal ini. Saat ini fitur widget memang baru tersedia untuk member yang jadi donatur di Obsidian, tapi aku yakin tidak akan lama lagi akan dirilis untuk publik. Janji itu saja sudah cukup buatku. Tapi aku memang tidak ingin memberatkan gawaiku yang sudah kentang itu untuk memuat 2500 catatan setiap sepuluh menit sekali. Jadilah aku memulai folder baru untuk tahun ini. Aku juga penasaran seberapa banyak tulisan aneh yang akan aku hasilkan dari satu tahun menulis di Obsidian.

Jadilah aku punya empat folder yang berbeda sebagai vault yang aku buka di Obsidian kali ini. Semuanya punya catatan sendiri-sendiri. Semuanya juga membuatku bahagia dengan caranya sendiri.

Bonus cuplikan tulisan anehku dalam satu hari dua tahun yang lalu: 2026-01-08 05-37-27

Ini harusnya ada timestamp-nya, tapi kayaknya aku lupa shortcutnya, jadi polosan saja. Btw ini waktu aku coba metode interstitial journaling.

Postingan ini diedit 2 bulan, 3 minggu yang lalu.

|

#buah-pikir