sekar 💐

Menyukai Rasa Suka

Aku baru saja menyelesaikan tugas yang kuberikan ke diri sendiri: mengunggah semua tulisan-tulisan yang aku tulis untuk seseorang di sini.

Dia bukan orang pertama yang jadi bahan tulisanku. Tapi masih sama dengan orang-orang lain, aku tidak pernah mengirimkannya. Hanya saja, dia adalah orang terbaru (agak aneh nulis ginian wkwkw tapi yah ini kata yang paling dekat untuk mendeskripsikan keadaan ini) yang pernah aku sukai.

Ya, bakalan banyak kata dengan tulisan miring di tulisan kali ini.

Anyway.

Ceritanya adalah.....

Kukira dulu aku lesbian. Sampai tahun 2018, kukira aku adalah seorang perempuan yang menyukai perempuan lain. Awalnya tidak masalah, tapi lama-lama aku justru tidak nyaman saat beberapa teman perempuanku secara terang-terangan menunjukkan rasa sukanya. "Kamu gentlemen banget!", "Kan, kubilang juga apa, kamu bakalan kelihatan ganteng kalau gitu.", "Eh, aku deg-deg an dapet chat dari kamu.", "Suka deh kalau pas kamu mau digandeng gini." dan kalimat-kalimat sederhana tapi menurutku kala itu menyeramkan biasanya muncul dari beberapa teman perempuanku. Sekali waktu, aku memang merasa sangat sayang ke seorang teman perempuan, bahkan sampai cemburu kalau dia main dengan orang lain tanpa aku ketahui. Memang usia segitu mungkin adalah usianya manusia mencari jati diri seksualnya.

Kemudian aku bertemu orang itu. Sebut saja dia si Jambul.

Orangnya nggak ganteng, cenderung nyebelin. Oh, aku juga agak alergi orang ganteng karena satu kalimat dari kakak sepupu gilaku saat hari pernikahannya:

Jangan sampai mau sama cowok ganteng ya, Kar! Susah nanti harus jagain dia dari cewek-cewek. Pokoknya cari cowok yang: nggak perlu kaya yang penting mau kerja, nggak usah ganteng biar nggak perlu jadi cantik juga, sama nggak terlalu pinter biar bisa dikibulin sewaktu-waktu. Oke?

Yang mana dia ucapkan saat suaminya (yang belum ada satu jam lalu sah) ada di sampingnya. Agak malu kuakui, tapi aku lumayan banyak setuju dengan petuah gila itu. Waktu itu aku masih SD kalau tidak salah. Dan sekarang mereka sudah punya dua anak dan berbahagia.

Lanjut.

Intinya, si Jambul ini lumayan oke menurutku. Beberapa waktu juga dia memperlihatkan kalau dia orang yang perhatian tanpa terlalu berusaha. Jujur, seumur-umur belum pernah ada teman atau kenalan laki-laki di sekitarku yang mau mengambilkan buku atau pulpenku yang jatuh. Aku pernah bertanya kenapa ke seorang teman laki-laki yang lumayan dekat denganku tentang hal ini, katanya aku kelihatan serem. Seorang teman lain bilang kalau aku ada yang jagain. Seorang teman perempuanku berpendapat kalau aku terlihat terlalu serba bisa dan mandiri untuk dibantu oleh laki-laki. Entahlah. Mungkin karena aku anak perempuan pertama? wkwkkww

Di beberapa kesempatan aneh, si Jambul ini justru kadang membantuku mengambil buku yang ada jauh di atas rak. Kadang dia mencegah seseorang yang agak mencurigakan duduk tepat di belakangku dengan menarik orang itu jauh ke belakang ruang kelas. Kadang dia hanya diam dan berjalan pelan di belakangku saat aku jalan sendirian di jalan sepi sekitar kampus. Seaneh itu. Awalnya kukira sekadar kebetulan saja. Karena mungkin dia sedang butuh buku yang sama, atau dia memang dekat dengan orang aneh itu, atau dia juga sedang menuju ke tempat yang sama denganku. Entahlah. Tapi hal-hal kecil semacam itu saja sudah membuatku memperhatikannya dengan kaca mata ✨cinta✨ hihihihihhihhi

Yah, karena itu, lahirlah seri surat cinta ini. Sejak awal, aku berniat mengirimkan tulisan-tulisan aneh itu kalau sudah wisuda. Tapi ternyata wisuda ku dengan wisuda miliknya berbeda. Dia lulus sangat tepat waktu, aku lulus telat waktu.

Saat menulis skripsi, aku juga banyak melakukan refleksi diri. Terutama dengan perasaanku sendiri.

Beruntungnya, waktu itu juga COVID-19, jadi kemungkinan bertemu dan terkontaminasi dengan perilaku manisnya sangat kecil.

Tulisan terakhir yang aku buat di surat cinta itu adalah Apakah ini Sebuah Kesimpulan. Saat menulis itu, aku sadar kalau aku hanya menyukai perasaan suka dengan seseorang.

Tapi, aku masih agak enggan mengakuinya.

Karena aku juga pengen suka sama orang. Yang beneran suka maksudnya. Yang.... beneran pengen aku ajak pacaran misalnya. Duh.

Tapi belum pernah. Aku belum pernah bisa tertarik ke sejenis atau lawan jenis atau beda jenis yang demikian itu. Justru kadang aku merasa ingin kloning saja diriku sendiri dan menyayanginya. Agak aneh memang, tapi begitu aku melihat versi laki-laki yang sangat mirip denganku dari muka, cara tersenyum, jahilnya, dan bahkan sampai selera, aku justru merasa geli. Rasanyaa pengen kucubit sampai berpuing-puing orang itu. Entah untung atau tidak, dia sudah meninggal hehehe. Kadang kangen, karena aku merasa jadi bisa belajar banyak hal darinya. Aku juga menghormatinya sebagai seorang yang berkarisma dan dia memanfaatkan karismanya dengan baik serta secukupnya. Intinya dia keren.

Dia ini bukan si Jambul ya.

Si Jambul ini justru nyaris kebalikannya. Si Jambul sangat berusaha menjadi orang yang berkarisma. Setahuku dia bahkan sampai membayar mahal untuk kelas leadership waktu kuliah dulu. Tapi tetap saja, kalau kerja kelompok, bahkan dia pun menunjukku untuk jadi ketua kelompok. Baru setelah aku bilang kalau aku sangat sibuk karena sudah menjadi ketua kelompok di tugas yang lain, dia yang jadi ketua kelompok. Padahal dia orangnya juga tidak terlalu rajin mengerjakan tugas.

Si Jambul ini juga berusaha sebisa mungkin terlihat cool dan chill di depan orang lain. HAH! Padahal saat harus menyelesaikan tugas dengan deadline, ributnya minta ampun. Hanya saja dia berani ribut kalau di personal chat denganku saja. Dia juga memang pernah bilang entah kenapa kalau denganku dia bisa mengeluarkan keributan kepalanya itu. Meskipun hanya lewat chat Line. Paginya, dia bahkan tidak menengokku, seakan chat dia dari jam 10 malam sampai 3 pagi yang dia kirim setiap 10 detik itu tidak menggangguku. Sialan memang.

Ada satu teman yang sama sekali belum pernah chat denganku. Tapi dia selalu memanggilku nduk saat bertemu di perpustakaan sekolah dulu. Aku hanya ingat nama panggilannya, mungkin dia bahkan tidak tahu nama panggilanku. Dia hanya panggil aku nduk tanpa alasan yang jelas. Saat berbincang di perpustakaan yang sepi, Ibu penjaga perpustakaan kadang menyela dengan kalimat, "Obrolan kalian seru banget, kedengeran pinter juga." Mungkin karena kami dulu ngobrol tentang penelitian yang sedang kami lakukan. Mungkin juga karena dia mengguruiku untuk tidak terlalu santai dalam menghadapi dunia, misalnya dengan belajar lebih banyak fisika dan biologi. Yang mana aku tidak tertarik waktu itu. Aku hanya suka belajar, dan dia tahu itu bahkan sebelum aku sendiri menyadarinya. Katanya, "Kamu besok pasti bakalan bisa kuliah, nduk." saat aku bilang kalau aku tidak akan mungkin menginjak bangku kuliah. Dia benar akan hal itu. Sayangnya, aku tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menghubunginya. Aku hanya ingat nama panggilannya, sekarang bahkan sudah lupa muka dia begimana bentuknya, aku juga sangat yakin kalau dia sudah berubah menjadi seseorang yang sangat keren. Kami belum pernah bertukar nomor ponsel apalagi facebook. Yang begini ini, pernah aku tunggu sampai siang hari dan nyaris telat mendaftar sekolah untuk bertemu. Tapi, dia lenyap entah kemana. Bertemu pun, aku juga hanya ingin bilang terima kasih karena sudah menemaniku di perpustakaan yang sepi dan memberiku kesempatan untuk mencoba hal baru.

Yang begitu itu, malah tidak pernah kutulis jadi semacam surat cinta picisan itu.

Dia nyaris sudah kuanggap sebagai saudara saking sayangnya. Tapi memang perasaan manusia ini ada-ada saja kriterianya yah....

Justru si Jambul yang ngeselin itu yang bisa menelurkan tulisan-tulisan jelek itu.

Meskipun demikian, kepada mereka berdua dan semua orang lain yang pernah aku sukai, aku sangat berterima kasih.

Setidaknya, aku jadi tahu kalau aku bukan lesbian kwkwkwkwkwkwkw

Setidak-tidaknya, aku jadi paham kalau didekati manusia berjeniskelamin laki-laki masih jauh lebih nyaman daripada didekati oleh manusia berjenis kelamin perempuan untukku. Dalam konteks romantis maksudnya.

Apakah ini terlalu TMI? ehhhh nggak tahu wkwkkwkw bodo amat.

Aku yakin ada satu atau dua orang lain di dunia ini yang mungkin sama bingungnya denganku dulu. Merasa sayang ke banyak orang tidak memandang jenis kelaminnya. Tiga tahun lalu aku bahkan menangis dan jatuh ke jurang patah hati karena harus melepaskan seorang teman yang sangat aku sayangi. Dia perempuan. Mungkin, ada juga orang yang demikian, pesanku adalah: mungkin kamu punya begitu besar kasih sayang ke semua orang tanpa kamu sadari.

Hanya saja, kadang memang sebesar apapun kasih sayang itu, kadang kamu bisa lupa untuk menyayangi dirimu sendiri. Setelah melepas teman itu tiga tahun yang lalu, aku jadi sadar kalau porsi kasih sayang untukku sendiri malah sangat minimalis.

Kali ini, aku juga melepaskan si Jambul itu. Well, aku tidak pernah punya dia sih. Tapi, perasaan menyukai rasa sukaku ke dia itu yang aku lepaskan. Lebih baik perasaan yang sama kuberikan ke diriku sendiri dan mungkin bisa dialihkan menjadi sesuatu yang lebih indah dibanding tulisan-tulisan yang sangat memalukan itu.

Kalau-kalau diriku di masa depan baca ini lagi, tolong maklumi pergolakan batin anak muda ini ya, Kak!

Kalau-kalau orang yang bersamaku di masa depan baca ini juga, mohon dengan sangat maklumi kelakuanku ini ya, yaaahh hati memang milik manusia, tapi sepertinya remote control-nya tidak bisa disetel terlalu presisi hehehehe

Surat Cintaku, berakhir disini.

Postingan ini diedit 1 minggu, 5 hari yang lalu.

|

#buah-pikir #surat-cinta