Semoga Taiku Berguna
Aku sedang mencoba minum teh hijau akhir-akhir ini. Penasaran saja rasanya, karena seumur hidupku aku selalu minum teh nasgithel alias panas, legi, kenthel setiap pagi. Ibukku selalu bikin teh setiap pagi dan nyaris memaksa anak-anaknya minum teh sebelum berangkat sekolah. Kebiasaan itu bahkan tidak bisa kami hilangkan setelah tidak lagi berangkat sekolah.
Beberapa tahun lalu, aku ganti teh hitam kenthel khas Ibu itu dengan kopi yang aku seduh dengan moka pot setiap pagi. Tapi justru bikin aku sangat sangat sensitif dengan kopi buatan orang lain, se-sensitif itu sampai aku membatasi diri untuk tidak sembarangan pesan menu ber-kopi di kafe. Kalaupun pesan menu kopi, biasanya aku pilih v60 atau vietnam drip yang yaaaahhh agak aman untuk perut dan kepalaku. Entah kenapa hal itu bisa terjadi~ tapi menurutku ada korelasinya.
Karena tidak terlalu berhasil, jadi aku kembali ke teh hitam manis panas khas Ibu. Biasanya Ibu nge-blend teh tjatoet hijau dengan teh tong tji melati. Setiap pagi Ibu selalu menyeduh teh untuk sekitar 7 gelas. Manusia di rumahku cuma ada 5, dua lainnya untuk berjaga kalau ada tamu. Kalaupun ada yang sedang pergi keluar atau sedang tidak bisa minum teh sebelum pergi, Ibu tetap akan menyeduh teh untuk 7 gelas, 5 diantaranya dibuat. Selalu ada lima gelas teh panas di rumah setiap pagi.
Aku selalu minum teh buatan Ibu. Tapi akhir-akhir ini aku ingin mencoba hal baru dalam nge-teh. Jadi aku beli teh hijau untuk kubuat kalau siang hari sedang dingin. Kebetulan akhir-akhir ini siang hari justru kadang lebih dingin daripada malam hari, jadi kalau butuh kehangatan, aku tinggal menyeduh teh hijau saja.
Tentu saja, gelas pertama teh hijauku adalah segelas teh paling aneh yang pernah aku rasakan. Aku membuatnya dengan gula satu setengah sendok wkkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkkwkwkwkkwkwkwkwkwkkwkwkwkwkwkkw iya, aku emang anaknya agak nekat dan bodoh. Tapi setidaknya aku sudah pernah coba, kan? Setelahnya, aku baru bertanya ke Ibu kenapa teh hijauku rasanya mirip waktu aku menyeduh rumput yang kukira daun stevia itu. Ternyata aku tidak seharusnya menambahkan gula ke teh hijauku.
Lalu aku menyeduh teh hijau celup itu dengan benar. Rasanya masih aneh, tapi aku lumayan suka. Ada rasa sepet dan pahit tapi manis di belakang???? Yaaaahhh begitulah. Aku lebih suka rasa teh hijau tanpa gula ini daripada rasa dark roasted coffee yang dipanggang asal-asalan. Setidaknya tidak ada rasa gosong yang mengganggu. Jadi, aku menikmati bergelas-gelas teh hijau selama beberapa siang.
Kemudian aku kenal dengan teh hijau yang diseduh dengan cold brew. Dulu, aku mencoba metode yang sama dengan kopi temanggung dan rasanya..... Nggak ada yang ngalahin. Apalagi kalau diminum waktu cuaca panas. Mantap. Rasanya lebih nikmat dibanding kalau diseduh dengan metode lainnya menurutku. Jadi, aku coba metode itu untuk teh hijau. Lalu, aku ketagihan. Selama seminggu aku jarang minum air putih polosan, selalu berwarna hijau keemasan. Kata adikku warnanya mirip warna kencing kucing. Padahal setahuku kucing kencingnya bening.... Tapi adikku bilang cemplon saja klepon goreng, jadi tidak bisa dipercaya.
Kemudian aku berak.
Tentu saja, tiba-tiba aku berak. Berak selalu datang tiba-tiba. Tapi setidaknya dengan peringatan terlebih dahulu. Jadi, aku bisa berak pada tempatnya.
Mengeluarkan tai.
Ketika kutengok, tainya warna hijau?????????????
Atau mataku yang terlalu terbiasa dengan warna teh hijau jadi melihat semua air jadi hijau?
Lalu aku menunggu tai-tai lainnya selama beberapa hari.
Ternyata memang agak hijau kwkwkwkw
Kemudian, seperti semua hal lainnya, aku cerita ke Ibu. Respon Ibu awalnya normal saja, seperti Ibuku yang kaku dan bilang kalau berarti aku banyak makan sayuran (memang) dan teh hijau mungkin dihitung sebagai sayuran juga oleh tubuhku. Lalu sambil membelah tempe menjadi delapan bagian, Ibukku bilang,
Wis dadi tai kok isih dieman.
hehehehehhehehehehhehehehehehehhehehehehehehhehehehehehe
artinya, "Sudah jadi berak kok masih disayang."
Aku ketawa. Lumayan lama, kira-kira selama semingguan ini. Karena Ibukku yang jarang bisa bikin jokes itu ngelawak.
Ibuku yang selalu membuat teh hitam setiap pagi itu, membahas tai. Rasanya masih lucu kalau kuingat-ingat lagi. Setelah satu kalimat itu dan satu celupan tempe ke tepung bumbu, Ibu melanjutkan lawakannya dengan sebuah cerita kalau ada satu cerita yang jadi andalan para guru dan ustadz untuk mengajarkan tentang keikhlasan.
Alkisah ada seorang laki-laki yang sedang makan makanan kesukaannya karena barusan dapat bonus gaji. Katakanlah makanan kesukaannya itu sate. Tiba-tiba listrik mati dan dia yang sudah menyelesaikan makannya itu juga tiba-tiba merasakan sinyal untuk berak. Jadi, dia mencari sungai terdekat untuk melaksanakan beraknya. Tapi di sungai itu sedang ada seorang perempuan yang mencuci baju, jadi dia menahan tainya untuk keluar selama perempuan itu mencuci baju. Betapa tidak kerennya dia kalau sampai mengeluarkan tai sate di depan perempuan itu. Selang beberapa waktu, akhirnya perempuan itu pergi dan dia bisa dengan tergesa mengeluarkan tainya. Karena gelap dan sudah kepalang lelah menahan tainya, dia sama sekali melupakan kalau tai-tai itu adalah hasil olahan sate kesukaannya. Dia membiarkan air sungai membawa tainya pergi. Dia bahkan tidak lagi berminat untuk melirik ke arah tai-tai itu lagi. Selain karena gelap, dia juga merasa lega karena mereka telah keluar. Lalu ia melanjutkan hidupnya.
Ada tai yang dengan ringannya aku keluarkan, ada yang bahkan perlu bertahun-tahun untuk berani kukeluarkan. Bahkan ada yang sampai sekarang belum aku keluarkan disini demi kemaslahatan umat. Ada juga yang tidak akan pernah aku keluarkan demi kesehatan mentalku sendiri. Yang jelas, semua itu adalah tai. Sampah.
Kalau tai kerbau, sapi, ayam, dan kambing jelas gunanya untuk makan tanaman. Tai kelinci dan marmutku juga untuk makan tanaman. Tai kucing, anjing, cicak, dan tokek gunanya untuk membuat orang-orang mengumpat. Taiku, apa gunanya?
Apapun gunanya, tetap saja aku harus mengeluarkannya.
Mungkin, gunanya memang untuk dikeluarkan.....
Love,
Sekar🌼