Aku Sudah Pernah Mati, Jadi Mari Hidup Lagi
Yap, sudah nyaris seminggu. Ternyata malam setelah menulis ini, aku beneran mens wkwkkwkw
Memang firasat perempuan ini kadang ada salahnya juga hehehe. Biasanya memang begini, kalau secara fisik aku nggak terlalu sakit saat menstruasi, secara mental kena banget sebelum dan/atau sesudah periode menstruasi. Kalau ada yang perempuan yang baca ini, aku yakin bisa memahami. Atau setidak-tidaknya bisa jadi pengetahuan kecil tentang menstruasi. Kalau ada laki-laki yang baca ini, ketahuilah bahwa darah yang keluar sebulan sekali itu benar-benar mengatur segalanya. Bahkan sebelum darahnya keluar dan setelah darahnya keluar. Periode sehat dan warasnya perempuan secara teori memang sedikit lebih terbatas dibanding laki-laki. Yah, setidaknya bisa jadi sebuah pengetahuan kecil hehehe
Mari kita bicarakan darah yang lain.
Ada seorang temanku yang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sangat cepat. Dia bisa melakukan kegiatan A di tempat B, lalu setengah jam kemudian sudah ada di tempat C melakukan kegiatan D. Dia bukan kurir atau semacamnya, tapi memang kegiatannya begitu banyak sehingga mobilitasnya tinggi.
Ada seseorang yang kukenal sangat dekat juga sering berpindah dari satu hal ke hal lain dengan sangat cepat. Sekali waktu dia mengerjakan A untuk B, sambil membaca buku untuk bersiap melakukan C, dan tidak lupa mendengarkan lagu demi bisa bercakap-cakap tentang hal D. Itu aku. hehehehe
Temanku dan aku ini sama-sama berjuang dengan banyak hal di satu waktu. Bahkan kadang kala sama banyaknya. Bedanya adalah dia secara lokasi berpindah-pindah, bahkan sangat cepat perpindahannya. Sedangkan aku ada di lokasi yang sama selama itu. Hanya pikiranku yang berpindah-pindah. Keduanya bukan hal yang ideal dan sehat untuk dilakukan secara terus menerus. Tapi aku dan temanku ini sama-sama masih melakukannya, bahkan setelah lebih dari lima tahun kemudian. Kami dan banyak orang lain bersusah payah sampai kadang menangis darah demi bertahan di tempat yang sama.
Kami berdua (dan mungkin banyak orang lain), tersesat di tempat yang sama. Dia dan aku sama-sama menanggung beban berupa anak pertama harus bisa apa-apa dan adik-adiknya diperhatikan lagi. Kami sama-sama melakukan hal yang sama di tempat-tempat yang sama secara mental; hari ini harus makan yang murah saja, sebentar lagi harus kasih thr ke adik-adik, dan semoga pendapatan bulan depan lebih banyak dari sekarang.
Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan temanku ini. Saat melihatnya, aku sadar betapa lelahnya kami berdua. Dia menemuiku sebagai tempat menghela nafas sejenak dan aku menemuinya sembari berlari mengejar tenggat waktu. Aku merasa menyesal karena harus menemuinya dengan terengah-engah seperti kemarin. Tapi, tidak ada waktu yang pas kalau aku harus mengikuti jadwal kami untuk sekadar bertemu saja. Akhirnya, banyak kawan yang juga aku temui di tempat serupa; saat aku terengah-engah mengejar pekerjaan yang aku yakin setelah ini masih ada lagi yang lain.
Barusan sekali aku menyelesaikan bacaan singkat yang kusinggung beberapa waktu lalu disini. Isinya adalah cerita-cerita singkat yang nyaris seperti kumpulan kutipan saja. Cerita-ceritanya diantarkan dengan nada seorang guru kepada muridnya, pertapa kepada awam, pastor kepada umatnya, rabbi kepada umatnya, dan terkadang Tuhan kepada hambanya. Ada juga beberapa yang dituliskan sebagai anekdot, seperti ini:
"Jalani hidupmu sepenuh-penuhnya," kata badut itu. "Selagi masih bernyawa, gerakkan kedua lenganmu, melompat-lompatlah, buatlah suara-suara ribut, tertawa dan berbicaralah dengan orang-orang, sebab kehidupan adalah lawan dari kematian. Kematian berarti diam dan tidak berpindah untuk selamanya. Kalau terlalu banyak diam, berarti kau tidak sepenuhnya hidup."
Maktub oleh Paulo Coelho halaman 64
Aku membaca kutipan tersebut setelah mengorbankan waktu jalan-jalanku pagi itu. Setelah membaca kutipan itu, aku lantas bergegas mengepel lantai kos, menyeduh teh, dan mandi lalu berangkat pulang ke rumah. Akhirnya aku menginap dan kembali ke kos dua hari kemudian. Di rumah, aku menceritakan banyak hal, mendengarkan cerita-cerita Ibu dan Bapak, dan mengisengi adik-adik tentu saja. Setidaknya, selama perjalanan pulang dan kembali lagi, aku berjalan dan menyapa beberapa orang. Aku ingin hidup lagi.
... sebab suatu jalan baru akan menampakkan dirinya setelah orang-orang yang bersangkutan mempunyai keberanian untuk mengikuti jalan itu.
Maktub oleh Paulo Coelho halaman 192
Rasanya sudah cukup berada di tempat yang sama; bekerja dengan keras di depan layar kemudian mencari penghiburan juga di depan layar. Selanjutnya, seperti biasanya, merasa sangat sedih karena hanya mendekam di depan layar saja seharian. Sudah cukup kematian yang demikian itu rasanya.
Hari ini pun, aku ingin membuktikan bahwa aku hidup kembali. Aku berjalan kaki. Tidak terlalu jauh dan baru. Aku hanya berjalan senyamannya kakiku melangkah. Kadang nyaris tersesat dan bertemu satu dua anjing (yang dari jauh imut tapi menyeramkan kalau sudah bertemu pandang itu). Kadang juga menyapa kucing penunggu kuburan atau seorang nenek yang begitu bahagia dengan diberi tempat duduk yang sudah menjadi haknya. Kadang langkahku ragu, berpikir panjang apakah akan memungut kamboja berkelopak empat itu atau lanjut berjalan seakan tidak pernah ada keberuntungan yang menyapaku. Pada akhirnya, aku lanjut melangkah. Cukup tahu saja kalau ada bunga kamboja berkelopak empat yang gugur demi menyapa seorang pejalan kaki ini.
Setelah setengah buku itu aku baca, aku kemudian memutuskan untuk kembali berjalan. Berjalan kaki saja, karena itu yang aku bisa. Setidaknya dengan berjalan, kakiku tidak akan sekaku biasanya. Kemudian aku menghabiskan satu buku itu. Selanjutnya, setelah menulis entah apa ini tentang sepotong kutipan itu, aku juga akan berjalan.
Karena satu hal lain lagi yang aku tahu aku sukai adalah berjalan kaki. Meskipun aku tahu satu atau dua kali dalam setiap perjalanan, aku akan ditawari membonceng motor atau becak atau terkadang sepeda.
Anehnya, belum pernah ada orang yang mengajakku berjalan kaki bersama.
(update satu jam kemudian setelah aku menulis ini: ada dua orang Bapak-Bapak bermobil masing-masing sendirian yang ngajak aku naik mobilnya karena lihat aku jalan kaki sendirian. Agak serem, tapi kalau beliau-beliau berniat baik, terima kasih niat baiknya dan maaf karena harus menolaknya. Kalau berniat kurang baik, untungnya aku tolak dan semoga lain waktu bisa berniat baik.)